Legalisasi Ganja untuk Medis, Komisi IX DPR: Jangan Latah tapi Sikapi dengan Kehati-hatian

Oleh Liputan6.com pada 29 Jun 2022, 17:56 WIB
Diperbarui 29 Jun 2022, 17:56 WIB
pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis
Perbesar
pasangan suami-istri Santi Warastuti dan Sunarta berharap Mahkamah Konstitusi memberikan keputusan bijak terkait penggunaan ganja untuk kepentingan medis

Liputan6.com, Jakarta Anggota Komisi IX DPR RI dari Fraksi PDIP Rahmad Handoyo angkat bicara, menyikapi pro-kontra wacana legalisasi ganja medis. Dia mengatakan, wacana ganja medis harus disikapi dengan penuh kehati-hatian.

Artinya, kalaupun pada akhirnya penggunaan ganja untuk pengobatan dilegalkan, itu bukan karena latah mengikuti trend dunia, tapi benar-benar berdasarkan kajian yang komperhensif.

"Kita harus berhati-hati menyikapi wacana ini, bukan latah. Artinya sebelum ganja medis dilegalkan,  terlebih dahulu dilakukan  kajian komperhensif yang melibatkan segala unsur terkait, khususnya para medis, psikolog," kata Rahmad Handoyo kepada wartawan di Jakarta, Rabu (29/6/2022).

Terutama masukan dari dunia medis terkait penggunaan ganja apakah ada manfaatnya untuk penyakit tertentu. Bila tidak ada kemungkinan opsi medis masuk akal dari ganja, dan ada obat medis kasiatnya sama atau lebih baik dari anja kenapa harus merasakan dengan ganja.

Menurutnya, setelah ada kajian yang menyatakan ganja benar-benar aman untuk kepentingan medis, harus ada pengawasan yang sangat ketat.

"Tentu saja ganja hanya digunakan untuk pengobatan. Di luar kepentingan medis, musalnya penyalahgunaan ganja, penanaman ganja, tetap dilarang. Karena itu lah kalau ganja medis diijinkan, aturan tersebut harus diikuti pengawasan yang ketat,'' bebernya.

Akan tetapi, tambah Rahmad, sampai saat ini penggunaan ganja untuk kepentingan medis masih dilarang oleh undang-undang.

"Saat ini amanat rakyat yang tertuang dalam undang-undang masih melarang penggunaan ganja medis. Tentu saja kuta semua harus menghormati aturan tersebut. Aturan tersebut kita harus kawal bersama," katanya.

Rahmad mewanti-wanti, jangan sampai setelah penggunaan ganja medis dilegalkan, penanaman dan penjualan ganja jadi semakin marak, seperti yang terjadi di banyak negara saat ini.

"Ganja kan nilai ekonominya tinggi, bisa jadi banyak orang yang mendadak jadi petani ganja. Tidak ada lagi petani yang nyawah, tidak ada yang menanam sayuran, dan buah-buahan,” katanya.

 


Potensi timbulkan Depresi Gangguan Mental

Paket ganja yang hendak dikirimkan ke Bogor oleh seorang pria di Aceh (Liputan6.com/Ist(Paket ganja yang hendak dikirimkan ke Bogor oleh seorang pria di Aceh (Liputan6.com/Ist)
Perbesar
Paket ganja yang hendak dikirimkan ke Bogor oleh seorang pria di Aceh (Liputan6.com/Ist)

 

Dia pun mengingatkan release terbaru United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang melaporkan akibat  konsumsi ganja di dunia yang semakin meningkat, semakin semakin ramai orang-orang yang memiliki gangguan mental Depresi hingga bunuh diri.

"Release WHO ini menyebutkan, saat ini semakin banyak warga depresi dan bunuh diri akibat maraknya pelegalan ganja di banyak negara. Kondisi ini harus menjadi perhatian kita, jangan hanya terbuai nilai ekonomi terjadi kemunduran generasi,” imbunya. 

 

 

Reporter: Alma Fikhasari

 Sumber: Merdeka.com

 

 

Infografis Malaysia Legalkan Ganja untuk Medis. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Malaysia Legalkan Ganja untuk Medis. (Liputan6.com/Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya