Duet Erick Thohir-Jaksa Agung Diyakini Bisa Bersihkan BUMN dari Korupsi

Oleh Liputan6.com pada 27 Jun 2022, 18:04 WIB
Diperbarui 27 Jun 2022, 19:10 WIB
Konferensi pers penetapan tersangka dalam Perkara PT Garuda Indonesia oleh Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Ketua BPKP Muhammad Yusuf Ateh. (Arief/Liputan6.com)
Perbesar
Konferensi pers penetapan tersangka dalam Perkara PT Garuda Indonesia oleh Jaksa Agung Sanitiar Burhanudin, Menteri BUMN Erick Thohir, dan Ketua BPKP Muhammad Yusuf Ateh. (Arief/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Al Azhar Indonesia, Suparji Ahmad, menilai kolaborasi antara Menteri BUMN Erick Thohir dan Jaksa Agung ST Burhanuddin sangat positif untuk penegakan hukum dan pemberantasan korupsi. 

Menurut Suparji, apa yang dilakukan Erik Thohir, berkerja sama dengan Kejaksaan Agung, menjadi bagian dari upaya membersihkan dan menyehatkan BUMN dan praktik korupsi. 

“(Duet Erick Thohir dan Jaksa Agung) merupakan kolaborasi yang baik, bagian dari upaya menyehatkan dan membersihkan BUMN dari praktik korupsi, praktik yang merugikan keuangan negara,” kata Suparji di Jakarta, Senin (27/6/2022). 

Karena itu, Suparji menilai apa yang dilakukan Erick Thohir harus dijadikan teladan oleh pemimpin kementerian dan lembaga lainnya. Sinergi tersebut diyakini mampu menutup celah praktik-praktik rasuah di pemerintahan. 

“Ini (langkah Erick Thohir) merupakan potret yang harus ditiru kementerian lain. Kolaborasi dan sinergi agar semuanya tuntas. Jadi tidak terulang lagi praktik-praktik yang merugikan keuangan negara,” imbaunya. 

Di sisi lain, Suparji juga mengapresiasi langkah cepat Kejaksaan Agung dalam merespons laporan Erick Thohir. Seperti diketahui, Erick Thohir memberikan laporan hasil investigasi sejumlah perusahaan plat merah ke Kejaksaan Agung, Januari lalu. 

Selain kasus dugaan korupsi PT Garuda Indonesia, Kejaksaan Agung juga melakukan penyidikan terhadap sejumlah perusahaan plat merah lain, seperti PT Krakatau Steel dan PT Waskita Beton Precast. 

“Langkah Kejaksaan Agung merespons hasil investigasi turut membantu Erick Thohir melakukan bersih-bersih di BUMN. Ini bukti ketika ada laporan investigasi, lalu ditindaklanjuti. Ini bagian dari tindak lanjut yang positif,” kata Suparji. 

Menurut Suparji, komitmen Kejaksaan Agung mengusut setiap laporan seharusnya ditiru lembaga penegak hukum lain. 

“Ini hendaknya sudah dilakukan oleh semua jajaran penegak hukum, ketika ada laporan investigasi ditindaklanjuti secara transparan, akuntabel, dan prediktabel. Pasti ada kemanfaatannya dan kejelasan kasusnya,” imbau Suparji.


Tetapkan Tersangka Baru Kasus Garuda

Kejaksaan Agung (Kejagung) menetapkan dua tersangka baru dalam kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pengadaan pesawat udara pada PT Garuda Indonesia (persero) tahun 2011-2021. Mereka adalah Mantan Direktur Utama PT Garuda Indonesia, Emirsyah Satar (ES) dan mantan Direktur Utama (Dirut) PT Mugi Rekso Abadi (MRA) Soetikno Soedarjo (SS).

"Hasil ekspose kami menetapkan dua tersangka baru, ES selaku Direktur Utama PT Garuda yang kedua adalah SS selaku direktur PT Mugi Rekso Abadi," tutur Jaksa Agung ST Burhanuddin di Kejagung, Jakarta Selatan, Senin (27/6/2022).

Menurut Burhanuddin, kerugian keuangan negara dalam kasus PT Garuda Indonesia ini mencapai Rp8,8 triliun. Kedua tersangka baru itu pun kini masih dalam penahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) lantaran terjerat kasus suap.

"Tidak dilakukan penahanan karena masing-masing sedang menjalani pidana atas kasus PT Garuda yang ditangani oleh KPK," kata Burhanuddin.

Penyidik telah mengumumkan tiga tersangka dalam perkara pengadaan pesawat CRJ-1000 dan pengambilalihan pesawat ATR72-600 oleh PT Garuda Indonesia, yakni Agus Wahjudo selaku Executive Project Manager Aircraft Delivery Garuda Indonesia periode 2009-2014, Vice President Strategic Management Office Garuda Indonesia periode 2011-2012 Setijo Awibowo, dan Vice President Treasury Management Garuda Indonesia periode 2005-2012 Albert Burhan.

 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya