Cuaca Hari Ini Kamis 23 Juni 2022, Jabodetabek Langit Paginya Cerah Berawan

Oleh Devira Prastiwi pada 23 Jun 2022, 06:15 WIB
Diperbarui 23 Jun 2022, 06:15 WIB
Ilustrasi Cuaca Jakarta Cerah Berawan
Perbesar
Ilustrasi Cuaca Jakarta Cerah Berawan. (Liputan6.com/Istimewa)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca hari ini, Kamis (23/6/2022), langit pagi Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) diprediksi cerah berawan.

Tetapi berbeda pada siang hingga malam hari yang beberapa wilayah bakal turun hujan, sesuai laporan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

Di Ibu Kota, cuaca hujan ringan diperkirakan turun di Jakarta Selatan siang hari nanti, sisanya cerah berawan. Sedangkan malam hari nanti, hujan dengan intensitas ringan diprediksi guyur Jakarta Barat dan Jakarta Selatan, sisanya berawan.

"Waspada potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi singkat di Jaktim dan Jaksel pada siang dan sore hari," terang peringatan dini BMKG.

Berbeda, penyangganya yaitu Bekasi dan Depok, Jawa Barat pada siang hingga malam hari nanti diperkirakan akan berawan. Namun hujan ringan siang nanti hanya diprediksi turun di Kota Bogor, Jawa Barat.

"Waspada potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada siang menjelang sore hingga malam hari di sebagian wilayah Kabupaten dan Kota Bogor, Kabupaten dan Kota Sukabumi, Kota Depok," jelas peringatan dini BMKG.

Berikut informasi prakiraan cuaca untuk wilayah Jabodetabek selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.go.id:

 Kota  Pagi  Siang  Malam
 Jakarta Barat  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Hujan Ringan
 Jakarta Pusat   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Jakarta Selatan   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Jakarta Timur   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Jakarta Utara   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Kepulauan Seribu   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Bekasi   Cerah Berawan  Berawan  Berawan
 Depok   Cerah Berawan  Berawan  Berawan
 Kota Bogor   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Tangerang  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


BMKG Ungkap Penyebab Kualitas Udara di Jakarta Kembali Jadi Terburuk di Dunia

Kualitas Udara Jakarta Dapat Predikat Terburuk di Dunia
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti kabut di kawasan Jakarta, Jumat (17/6/2022). Merujuk data IQAir pukul 08.21, kualitas udara Jakarta sempat menempati posisi teratas. Namun pukul 09.05, ibu kota Indonesia ini bergeser ke ranking dua, sementara Johannesburg, Afrika Selatan bertengger di peringkat pertama. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan sejumlah faktor yang mempengaruhi peningkatan konsentrasi PM2.5 yang terjadi di Jakarta dalam kurun waktu beberapa hari terakhir.

Plt. Deputi Bidang Klimatologi BMKG Urip Haryoko mengatakan bahwa pada beberapa hari terakhir PM2.5 mengalami lonjakan peningkatan konsentrasi dan tertinggi berada pada level 148 µg/m3. PM2.5 dengan konsentrasi ini dapat dikategorikan kualitas udara Jakarta tidak sehat.

"Tingginya konsentrasi PM2.5 dibandingkan hari-hari sebelumnya juga dapat terlihat saat kondisi udara di Jakarta secara kasat mata terlihat cukup pekat/gelap," kata Urip yang dikutip dari Antara, Minggu 19 Juni 2022.

PM2.5 merupakan salah satu polutan udara dalam wujud partikel dengan ukuran yang sangat kecil, yaitu tidak lebih dari 2,5 µm (mikrometer).

Dengan ukurannya yang sangat kecil ini, PM2.5 dapat dengan mudah masuk ke dalam sistem pernapasan, dan dapat menyebabkan gangguan infeksi saluran pernapasan dan gangguan pada paru-paru.

 


Analisis BMKG

Kualitas Udara Jakarta Dapat Predikat Terburuk di Dunia
Perbesar
Suasana gedung bertingkat di kawasan Jakarta, Jumat (17/6/2022). Jakarta meneruskan posisinya di jajaran atas kota berkualitas udara buruk di dunia hari ini, Jumat 17 Juni 2022, setelah kemarin mencatat hal serupa. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Selain itu, PM2.5 dapat menembus jaringan peredaran darah dan terbawa oleh darah ke seluruh tubuh. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya gangguan kardiovaskular seperti penyakit jantung koroner.

Berdasarkan analisis BMKG, konsentrasi PM2.5 di Jakarta dipengaruhi oleh berbagai sumber emisi baik yang berasal dari sumber lokal, seperti transportasi dan residensial, maupun dari sumber regional dari kawasan industri dekat dengan Jakarta.

Emisi ini dalam kondisi tertentu yang dipengaruhi oleh parameter meteorologi dapat terakumulasi dan menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi yang terukur pada alat monitoring pengukuran konsentrasi PM2.5.

Selain itu, proses pergerakan polutan udara seperti PM2.5 dipengaruhi oleh pola angin yang bergerak dari satu lokasi ke lokasi yang lain.

Angin yang membawa PM2.5 dari sumber emisi dapat bergerak menuju lokasi lain sehingga menyebabkan terjadinya potensi peningkatan konsentrasi PM2.5.

"Pola angin lapisan permukaan memperlihatkan pergerakan massa udara dari arah timur dan timur laut yang menuju Jakarta, dan memberikan dampak terhadap akumulasi konsentrasi PM2.5 di wilayah ini," kata dia.


Kelembaban Udara

Kualitas Udara Jakarta Dapat Predikat Terburuk di Dunia
Perbesar
Suasana gedung-gedung bertingkat yang diselimuti kabut di kawasan Jakarta, Jumat (17/6/2022). Merujuk data IQAir pukul 08.21, kualitas udara Jakarta sempat menempati posisi teratas. Namun pukul 09.05, ibu kota Indonesia ini bergeser ke ranking dua, sementara Johannesburg, Afrika Selatan bertengger di peringkat pertama. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Faktor lainnya yang mempengaruhi peningkatan PM2.5 yakni tingginya kelembaban udara relatif menyebabkan peningkatan proses adsorpsi (perubahan wujud dari gas menjadi partikel). Proses ini menyebabkan terjadinya peningkatan konsentrasi PM2.5 yang difasilitasi oleh kadar air di udara.

Selain itu, kelembapan udara relatif yang tinggi dapat menyebabkan munculnya lapisan inversi yang dekat dengan permukaan.

Lapisan inversi merupakan lapisan di udara yang ditandai dengan peningkatan suhu udara yang seiring dengan peningkatan ketinggian lapisan.

"Dampak dari keberadaan lapisan inversi menyebabkan PM2.5 yang ada di permukaan menjadi tertahan, tidak dapat bergerak ke lapisan udara lain, dan mengakibatkan akumulasi konsentrasinya yang terukur di alat monitoring," kata dia.

Menurut dia, peningkatan konsentrasi PM2.5 yang berdampak pada penurunan kualitas udara di Jakarta ini memberikan pengaruh negatif pada individu yang memiliki riwayat terhadap gangguan saluran pernapasan dan kardiovaskuler.

"Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk dapat mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan pelindung diri seperti masker yang sesuai untuk dapat mengurangi tingkat paparan terhadap polutan udara," kata dia.

Infografis Pencegahan dan Bahaya Mengintai Akibat Cuaca Panas. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Pencegahan dan Bahaya Mengintai Akibat Cuaca Panas. (Liputan6.com/Trieyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya