Cuaca Besok Minggu 29 Mei 2022, Jakarta Cerah Pagi hingga Malam Hari

Oleh Maria Flora pada 28 Mei 2022, 08:15 WIB
Diperbarui 28 Mei 2022, 08:15 WIB
Ilustrasi Cuaca Jakarta Cerah Berawan
Perbesar
Ilustrasi Cuaca Jakarta Cerah Berawan. (Foto: Nafiysul Qodar)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprakirakan cuaca cerah berawan menyelimuti seluruh wilayah DKI Jakarta, pada Minggu pagi 28 Mei 2022. 

Kondisi cuaca di Ibu Kota tersebut dilaporkan BMKG berlangsung hingga malam hari dan diprediksi tak ada hujan maupun langit mendung yang bakal terjadi.

Cuaca cerah berawan juga terjadi di ketiga kota daerah penyangga Jakarta, yakni Bogor, Depok, dan Bekasi. Namun, pada siang hari hujan turun dengan intensitas sedang. 

Bahkan diperkirakan ketiga kota tersebut berpotensi dibarengi petir dan angin kencang.

"Waspada potensi hujan yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang pada siang hingga malam hari di wilayah Kota Depok, Kota Bekasi, Kab Bekasi," jelas BMKG

Sementara, Tangerang diprediksi berawan pagi hingga malam, siang hari turun hujan intensitas ringan. 

Berikut informasi prakiraan cuaca Jabodetabek selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.go.id:

 Kota  Pagi   Siang  Malam
 Jakarta Barat  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Jakarta Pusat  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Jakarta Selatan  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Jakarta Timur  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Jakarta Utara  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Kepulauan Seribu  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Cerah
 Bekasi  Cerah Berawan  Hujan Sedang  Hujan Sedang
Depok Cerah Berawan Hujan Sedang Hujan Sedang
Bogor  Cerah Berawan  Hujan Sedang  Hujan Sedang
Tangerang  Berawan  Hujan Ringan  Berawan

Peneliti Kembangkan Sensor Fleksibel dan Ekonomis untuk Pelaporan Cuaca

Gunung Gede Pangrango Terlihat dari Kawasan Kemayoran
Perbesar
Langit biru menghiasi kawasan Monumen Nasional, Jakarta, Kamis (18/2/2021). Jika cuaca cerah, kawasan Monumen Nasional, Jakarta seringkali dihiasi langit yang membiru. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Semetara itu, tim peneliti dari Osaka Metropolitan University dan University of Tokyo tengah  mengembangkan lembaran sensor yang dapat disisipkan dan ringan guna mengantisipasi kejadian cuaca buruk.

Lembaran itu menampilkan sensor resistif fleksibel dan analisis komputasi reservoir.

Sebagai perangkat tunggal, ia memungkinkan pengukuran volume rintik hujan dan kecepatan angin secara real-time. Selain itu, ia juga dapat melaporkan informasi cuaca saat ia dipasang misalnya pada payung, mobil, atau rumah.

"Temuan ini membuka pendekatan ekonomis untuk pelaporan cuaca, yang berkontribusi pada kesiapsiagaan bencana dan keselamatan masyarakat yang lebih besar," ujar Kuniharu Take, profesor di Osaka Metropolitan University dan peneliti utama di riset ini dikutip dari Eurekalert pada Selasa (17/5/2022).

Untuk menentukan volume hujan, sensor mengukur hambatan listrik yang dihasilkan ketika tetesan air hujan mengenai permukaannya. Sensor dilapisi oleh lembaran silikon superhidrofobik yang terbuat dari polydimethylsiloxane (PDMS), yang diresapi dengan graphene dan diproses lebih lanjut dengan laser.

Silikon superhidrofobik menolak tetesan air, yang memastikan daya tahan dan stabilitas sensor. Sementara tekstur laser memungkinkan kontrol dan pengukuran konstan terhadap perilaku tetesan air, baik itu statis (diam), meluncur, memantul, atau membelah pada permukaan sensor.


Smartphone Bisa Bantu Tingkatkan Prakiraan Cuaca

Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta
Perbesar
Sejumlah warga berteduh saat hujan di kawasan Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sejumlah besar data GPS dari smartphone dan perangkat navigasi satelit dapat membantu meningkatkan pemahaman umum tentang fenomena cuaca dan membuat model prakiraan ini lebih presisi. Untuk tujuan ini, proyek CAMALIOT diluncurkan.

CAMALIOT

Mengutip Eurekalert, CAMALIOT adalah aplikasi smartphone berbasis Machine Learning yang bertujuan membangun infrastruktur untuk pengumpulan observasi dalam skala besar dari berbagai jenis dan kualitas penerima berkemampuan GPS.

Infrastruktur ini sedang dikembangkan oleh kelompok peneliti dari Benedikt Soja, profesor Geodesi Luar Angkasa di Departemen Teknik Sipil, Lingkungan, dan Geomatika di ETH Zurich, Swiss.

Aplikasi CAMALIOT memungkinkan pengguna mengakses dan mengumpulkan data satelit GPS mentah dari masing-masing smartphone, memanfaatkan frekuensi ganda dan chipset mult-konstelasi yang sekarang tersedia di smartphone Android modern.

Aplikasi ini dirancang oleh IIASA, di mana Linda See, seorang peneliti di Novel Data Ecosystems for Sustainability Research Group, melakukan supervisi atas proyek tersebut.

Infografis Cuaca Ekstrem Ancam 17 Wilayah Indonesia
Perbesar
Infografis Cuaca Ekstrem Ancam 17 Wilayah Indonesia. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya