Jokowi: Indonesia Rawan Bencana, Rata-rata Perbulan Terjadi 500 Gempa

Oleh Lizsa Egeham pada 25 Mei 2022, 12:53 WIB
Diperbarui 25 Mei 2022, 12:53 WIB
Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Perbesar
Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Sidang Kabinet Pengarahan Presiden dan APBN 2022 di Istana Kepresidenan Jakarta pada Rabu, 17 November 2021. (Dok Sekretariat Kabinet RI)

Liputan6.com, Jakarta - Presiden Jokowi mengatakan Indonesia merupakan negara yang rawan bencana. Selama tahun 2022 ini saja, sudah terjadi 1.613 bencana dan rata-rata dalam sebulan ada 500 gempa di Indonesia.

Hal ini disampaikan Jokowi saat menghadiri forum Global Platform for Disaster Risk Reduction (GPDRR) 2022 di Nusa Dua Bali, Rabu (25/5/2022). Pertemuan ini diikuti oleh 4.091 delegasi dari 193 negara.

"Indonesia merupakan negara rawan bencana, di Tahun 2022 saja per 23 Mei telah terjadi bencana sebanyak 1.613, dan rata-rata dalam sebulan terjadi 500 kali gempa skala kecil maupun besar," jelas Jokowi sebagaimana disiarkan di Youtube Sekretariat Presiden, Rabu.

"Gempa besar disertai tsunami terakhir yang terbesar terjadi di Palu tahun 2018.  Sebanyak 2.113 orang meninggal," sambungnya.

Selain itu, kata dia, Indonesia juga memiliki 139 gunung api aktif yang letusannya dapat mengancam masyarakat setiap saat. Total ada 121 letusan gunung berapi di Indonesia sepanjang 2015 sampai 2021.

Tak sampai disitu, Jokowi menuturkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) juga  merupakan ancaman di Indonesia. Dia menyampaikan karhutla terbesar yang dialami Indonesia terhadi pada 1997-1998.

Saat itu, 10 juta hektare lahan di Indonesia hangus terbakar. Namun, Jokowi menyebut pemerintah melakukan berbagai upaya untuk menekan terjadinya karhutla seperti, restorasi gambut dan lahan.

"Tahun 2021, Indonesia telah berhasil merestorasi gambut, restorasi lahan gambut seluas 3,4 juta hektar, menjaga dan merevitalisasi hutan mangrove yang luas nya lebih dari 20 persen total area mangrove dunia sekitar 3,3 juta hektar," tutur dia.

"Indonesia juga berhasil menurunkan kebakaran hutan dari 2,6 juta hektare hanya menjadi 358.000 hektar di tahun 2021," sambung Jokowi.

Disisi lain, Jokowi menuturkan bahwa pandemi Covid-19 dalam 2 tahun ini merupakan bencana terbesar di dunia. Bencana ini menginfeksi 527 juta orang, merenggut korban 6,3 juta orang, dan 7,5 juta anak kehilangan orang tua.

"Pemerintah Indonesia menerapkan kebijakan dinamis sesuai situasi terkini, menjalankan kebijakan gas dan rem untuk menjaga keseimbangan sisi kesehatan dan ekonomi, dan terbukti telah memberikan dampak yang baik," ujarnya.

 


Bencana Covid-19

Jumlah Warga Indonesia yang Sudah Divaksinasi COVID
Perbesar
Petugas melakukan pendataan vaksinasi ulang kepada warga lansia di RPTA Gajah Tunggal, Jakarta Barat, Rabu (21/4/2021). Berdasarkan data hingga 19 April 2021, total 10.966.934 orang Indonesia telah menjalani vaksinasi Covid-19. (Liputan6.com/JohanTallo)

Salah satu yang dilakukan yakni, dengan menyuntikkan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat. Jokowi menyebut kasus Covid-19 di Indonesia saat ini menurun drastis dibandingkan saat puncaknya beberapa bulan lalu.

"Kasus harian juga turun tajam dari 64.000 saat puncak menjadi 345 kasus harian per (Selasa) kemarin, dan pertumbuhan ekonomi terjaga 5,01 persen serta inflasi di level aman 3,5 persen," pungkas dia.

Dia menilai daya tahan dan kesiapsiagaan terhadap bencana sangat menentukan angka kerugian yang harus ditanggung. Jokowi pun mengajak negara-negara lain berbagi pengalaman dalam menghadapi bencana.

"Sebagai negara rawan bencana Indonesia mempunyai akumulasi pengetahuan dan pengalaman yang bisa menjadi pelajaran penting bagi dunia, tapi Indonesia juga ingin sangat ingin belajar dari pengalaman internasional," ungkap Jokowi.

Infografis Kebakaran Hutan dan Bencana Kabut Asap di Indonesia
Perbesar
Infografis Kebakaran Hutan dan Bencana Kabut Asap di Indonesia. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya