Cak Imin Kumpulkan Ulama, Gus Yahya: Monggo Sebentar Lagi Panglima Juga Kumpulkan Ulama

Oleh Delvira Hutabarat pada 23 Mei 2022, 12:31 WIB
Diperbarui 23 Mei 2022, 12:31 WIB
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya
Perbesar
KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya. (liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) KH Yahya Cholil Staquf, angkat bicara soal Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar yang mengumpulkan ribuan ulama dan habaib di Kota Surabaya.

Gus Yahya mengaku tak mempermasalahkan dan mempersilakan pengumpulan para ulama. Ia justru bergurau bahwa Panglima TNI juga hendak mengumpulkam ulama.

“Monggo, nanti kan sebentar lagi panglima juga akan mengumpulkan ulama juga,” ujar Gus Yahya usai pertemuan dengan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Senin (23/5/2022).

Meski demikian, Gus Yahya meminta partai politik tidak menggunakan identitas NU demi kepentingan Pemilu.

“Untuk semua partai, jadi NU itu ndak boleh digunakan sebagai senjata untuk kompetisi politik, karena kalau kita biarkan terus-terus begini ini tidak sehat,” kata Gus Yahya.

Gus Yahya menegaskan agama khususnya islam tidak boleh diekspoiltasi untuk kepentingan parpol. Sebab, hal itu membuat NU tidak sehat. Ia menegaskan NU tidak mau menjadi alat politik parpol manapun.

“Saya ingin sampaikan disini bahwa kita tidak mau, kita mohon jangan pakai politik identitas, terutama identitas agama, termasuk identitas NU,” kata dia.

Sementara itu, terkait kabar yang menyebut merenggangnya hubungan PBNU dengan PKB, Gus Yahya menegaskan tak  pernah menyatakan apapun yang bisa merenggangkan atau memberi pengaruh negatif terhadap PKB.

“Kita kan gak ngapa-ngapain, kita kan gak melakukan apa, saya tidak memberikan pernyataan apapun yg katakanlah berisi negatif siapapun apalagi PKB, 

Kalau ada mengatakan renggang ya mereka yang merenggangkan diri,” pungkasnya.


Kumpulkan Ribuan Ulama

Sebelumnya, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Abdul Muhaimin Iskandar bersama ribuan ulama dan habaib menggelar doa bersama untuk perdamaian dunia di Kota Surabaya, Minggu (22/05/2022). 

Sejumlah ulama khos yang dijadwalkan hadir dalam acara doa bersama tersebut antara lain KH Anwar Manshur Lirboyo, Ketua PWNU Jatim KH. Marzuki Mustamar, KH. Nurul Huda Djazuli Ploso, KH Abdullah Kafabihi Mahrus Lirboyo, KH. Kholil As’ad Situbondo, KH Abdurrohman Al-Kautsar (Gus Kausar) Ploso, KH Salam Sohib, Habib Alwi bin Idrus Baaqil Sampang, Habib Ali Zaenal Bondowoso, KH. Agus Ali Mashuri Tulangan Sidoarjo, dan sejumlah ulama dari berbagai daerah lainnya di Jawa Timur.

"Insya Allah, ada sekitar 1500 ulama dan habib yang hadir," terang Anik Maslachah, Ketua panitia halal bi halal bersama Muhaimin, Sabtu (21/05/2022).

Menurut dia, saat ini banyak permasalahan yang terjadi di berbagai belahan dunia. Selain pandemi Covid-19 yang belum sepenuhnya sirna, konflik juga terjadi di berbagai negara. Kondisi yang paling panas saat ini adalah perang antara Rusia dan Ukraina.

"Konflik Rusia dan Ukraina ini kalau tidak segera diselesaikan bisa berdampak serius pada dunia. Imbasnya luar biasa. Saat ini saja ribuan warga Ukraina terpaksa mengungsi ke Eropa dan menjadi homeless. Ini menjadi persoalan dunia yang harus segera diselesaikan," ucap Cak Imin, Sabtu (21/5/2022).

Wakil Ketua DPR RI ini mengatakan, konflik Rusia-Ukraina juga berdampak pada perekonomian dunia. Harga minyak dan gas, misalnya, dikhawatirkan terus melonjak dan pasokan ke sejumlah negara terganggu sebab Rusia merupakan salah satu produsen dan pengekspor bahan bakar fosil terbesar di dunia. Begitu pula dengan berbagai komoditas lainnya.

"Hal yang paling mengerikan adalah dampak kemanusiaannya. Akan berapa ribu bahkan jutaan orang yang akan meninggal dunia jika perang tidak segera dihentikan," ucap Cak Imin. Tidak hanya perang Rusia-Ukraina, persoalan konflik Israel dengan Palestina yang terus berlarut dan tidak kunjung menunjukkan tanda-tanda bakal berhenti juga menjadi persoalan serius yang harus segera diakhiri.

Di wilayah yang terdekat dengan Indonesia, Myanmar, perbedaan etnis dan agama juga memicu konflik antara umat Budha dan Islam berkepanjangan sehingga menyebabkan penderitaan mendalam bagi etnis muslim Rohingya.

"Mereka adalah saudara-saudara kita juga. Bagaimana etnis minoritas Rohingya di Myanmar mengalami penderitaan akibat konflik berkepanjangan," ucap Cak Imin.

Cak Imin mengatakan, Indonesia harus terlibat aktif dalam berbagai upaya untuk mewujudkan perdamaian dunia. Sebab, hal ini merupakan cita-cita kemerdekaan dan tujuan politik luar negeri Indonesia.

"Dalam alenia keempat Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, disebutkan bahwa bangsa ini harus bisa melaksanakan ketertiban dunia yang berdasar kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial," tuturnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya