Cuaca Besok Senin 23 Mei 2022: Hujan Guyur Jabodetabek Siang Hari

Oleh Devira Prastiwi pada 22 Mei 2022, 08:15 WIB
Diperbarui 22 Mei 2022, 08:15 WIB
Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta
Perbesar
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Cuaca besok Senin 23 Mei 2022, wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) langit pagi harinya diperkirakan cerah berawan.

Namun menurut Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), cuaca berbeda akan terjadi di langit Jabdetabek siang hingga malam harinya.

Di Ibu Kota, hujan berintensitas ringan diprediksi bakal mengguyur wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Timur siang hari, sisanya cerah berawan. Kemudian malam harinya diperkirakan kembali berawan.

"Waspada potensi hujan disertai kilat/petir dan angin kencang dengan durasi singkat di Jaktim dan Jaksel pada siang dan sore hari," kata peringatan dini BMKG.

Tak jauh berbeda, wilayah penyangga Ibu Kota yaitu Bekasi, Depok, dan Kota Bogor, Jawa Barat juga diprediksi turun hujan pada siang hingga malam hari.

"Waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang antara siang hingga malam hari di Kabupaten dan Kota Bogor, Kota Depok, Kabupaten dan Kota Bekasi, Kabupaten Karawang, Kabupaten Subang," tegas peringatan dini BMKG.

Begitu pula di Kota Tangerang, Banten, siang hingga malam harinya diperkirakan diguyur hujan dengan intensitas ringan.

"Waspada potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang di sebagian besar wilayah Kabupaten Lebak, Kabupaten Pandeglang bagian Selatan, Kota Cilegon, Kabupaten Serang bagian Utara, Kabupaten Tangerang, Kota Tangerang, Kota Tangerang Selatan," tandas peringatan dini BMKG.

Berikut informasi prakiraan cuaca Jabodetabek selengkapnya yang dikutip Liputan6.com dari laman resmi BMKG www.bmkg.go.id:

 Kota  Pagi  Siang  Malam
 Jakarta Barat  Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Jakarta Pusat   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Jakarta Selatan   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Jakarta Timur   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Berawan
 Jakarta Utara   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Kepulauan Seribu   Cerah Berawan  Cerah Berawan  Berawan
 Bekasi   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Depok   Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Kota Bogor  Cerah  Hujan Ringan  Hujan Ringan
 Tangerang  Cerah Berawan  Hujan Ringan  Hujan Ringan

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Peneliti Kembangkan Sensor Fleksibel dan Ekonomis untuk Pelaporan Cuaca

Waspada Cuaca Ekstrem di Jakarta
Perbesar
Sejumlah kendaraan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Jumat (18/2/2022). BMKG mengungkapkan potensi curah hujan meningkat dan cuaca ekstrem sepanjang 17-23 Februari 2022. Sejumlah wilayah diminta waspada dampak yang terjadi dari cuaca buruk. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Pernahkah Anda terjebak dalam hujan deras yang tidak terduga? Pada dasarnya, sistem prakiraan cuaca selalu berusaha mengantisipasi kejadian cuaca buruk.

Namun, ia sangat bergantung pada peralatan besar, stasioner, dan mahal seperti radar cuaca. Hal-hal itu seperti itu secara tidak langsung menghambat pembaruan laporan cuaca secara tepat waktu pada kondisi cuaca lokal untuk penggunaan pribadi.

Mengatasi kesenjangan dalam hal ini, tim peneliti dari Osaka Metropolitan University dan University of Tokyo mengembangkan lembaran sensor yang dapat disisipkan dan ringan. Lembaran itu menampilkan sensor resistif fleksibel dan analisis komputasi reservoir.

Sebagai perangkat tunggal, ia memungkinkan pengukuran volume rintik hujan dan kecepatan angin secara real-time. Selain itu, ia juga dapat melaporkan informasi cuaca saat ia dipasang misalnya pada payung, mobil, atau rumah.

"Temuan ini membuka pendekatan ekonomis untuk pelaporan cuaca, yang berkontribusi pada kesiapsiagaan bencana dan keselamatan masyarakat yang lebih besar," ujar Kuniharu Take, profesor di Osaka Metropolitan University dan peneliti utama di riset ini dikutip dari Eurekalert pada Selasa 17 Mei 2022.

Untuk menentukan volume hujan, sensor mengukur hambatan listrik yang dihasilkan ketika tetesan air hujan mengenai permukaannya. Sensor dilapisi oleh lembaran silikon superhidrofobik yang terbuat dari polydimethylsiloxane (PDMS), yang diresapi dengan graphene dan diproses lebih lanjut dengan laser.

Silikon superhidrofobik menolak tetesan air, yang memastikan daya tahan dan stabilitas sensor. Sementara tekstur laser memungkinkan kontrol dan pengukuran konstan terhadap perilaku tetesan air, baik itu statis (diam), meluncur, memantul, atau membelah pada permukaan sensor.

Sensor ini dapat dengan mudah dipasang ke berbagai permukaan dan tetap berfungsi saat permukaan rata atau bengkok. Pengujian perubahan estimasi volume hujan dengan sensor yang dipasang di berbagai sudut menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan. Itu berarti pula bahwa sensor dapat dipasang pada barang bawaan seperti payung.

Jika pendekatan ini diadopsi secara luas, terbuka peluang untuk memperoleh data massal yang memungkinkan pengembangan peta cuaca lokal secara real-time.


Smartphone Bisa Bantu Tingkatkan Prakiraan Cuaca

Waspada Cuaca Ekstrem
Perbesar
Kenderaan melintas saat hujan di Bundaran HI, Jakarta, Senin (1/11/2021). BMKG mengeluarkan peringatan dini cuaca ekstrem berupa hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai kilat atau petir, dan angin kencang untuk berbagai wilayah di Indonesia. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Sejumlah besar data GPS dari smartphone dan perangkat navigasi satelit dapat membantu meningkatkan pemahaman umum tentang fenomena cuaca dan membuat model prakiraan ini lebih presisi. Untuk tujuan ini, proyek CAMALIOT diluncurkan.

CAMALIOT

Mengutip Eurekalert, CAMALIOT adalah aplikasi smartphone berbasis Machine Learning yang bertujuan membangun infrastruktur untuk pengumpulan observasi dalam skala besar dari berbagai jenis dan kualitas penerima berkemampuan GPS.

Infrastruktur ini sedang dikembangkan oleh kelompok peneliti dari Benedikt Soja, profesor Geodesi Luar Angkasa di Departemen Teknik Sipil, Lingkungan, dan Geomatika di ETH Zurich, Swiss.

Aplikasi CAMALIOT memungkinkan pengguna mengakses dan mengumpulkan data satelit GPS mentah dari masing-masing smartphone, memanfaatkan frekuensi ganda dan chipset mult-konstelasi yang sekarang tersedia di smartphone Android modern.

Aplikasi ini dirancang oleh IIASA, di mana Linda See, seorang peneliti di Novel Data Ecosystems for Sustainability Research Group, melakukan supervisi atas proyek tersebut.


Bagaimana Cara Terlibat?

Waspada Cuaca Ekstrem di Jabodetabek Hingga April 2022
Perbesar
Arus kendaraan melintas saat hujan disertai angin kencang terjadi di Jalan Raya Casablanca, Jakarta Selatan, Selasa (8/3/2022). BMKG memprediksi cuaca ekstrem berupa hujan lebat disertai angin kencang akan terjadi hingga April ini di wilayah Jabodetabek. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Kampanye urun daya pengumpulan data untuk proyek ini telah dimulai pada 17 Maret 2022 lalu dan akan berlangsung selama empat bulan. Kampanye ini berambisi mengumpulkan data dari sebanyak mungkin lokasi.

Mereka yang tertarik diharapkan mengunduh aplikasi ini dan mengumpulkan data, lalu mengunggah datanya ke server CAMALIOT.

Data yang dikumpulkan akan diserap dalam sistem kecerdasan buatan untuk penentuan parameter troposfer guna mendukung prakiraan cuaca di Bumi.

Selain itu, data juga akan dipakai untuk pemantauan cuaca di luar angkasa, yang berperan penting untuk operasi dan komunikasi satelit.

Semua data akan diperlakukan secara anonim dan hanya akan disimpan di server di Eropa di mana regulasi Regulasi Perlindungan Data diterapkan.

"Dengan menggunakan aplikasi CAMALIOT untuk membantu kami mengumpulkan data, orang tidak hanya akan membantu kami meningkatkan prakiraan cuaca dan pemahaman umum tentang fenomena cuaca, tetapi juga untuk menyelidiki peluang ilmiah baru yang dapat bermanfaat bagi masyarakat di masa depan,” catat kata Soja dan See.

Infografis Cuaca Ekstrem Ancam 17 Wilayah Indonesia
Perbesar
Infografis Cuaca Ekstrem Ancam 17 Wilayah Indonesia. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya