Kartini Diyakini Mengenal Tradisi dan Budaya Islam sejak Kecil

Oleh Ika Defianti pada 15 Apr 2022, 21:30 WIB
Diperbarui 15 Apr 2022, 21:30 WIB
[Bintang] Hari Kartini 2018, Ini Dua Makanan Kesukaan R.A. Kartini
Perbesar
Ilustrasi R.A. Kartini. (Liputan6.com/Johan Fatzry)

Liputan6.com, Jakarta - Raden Ajeng Kartini atau R.A. Kartini adalah salah satu pahlawan nasional perempuan di Indonesia. Atas perjuangannya di masa lalu, tanggal lahirnya diperingati sebagai hari besar nasional, yang ditetapkan presiden pertama Indonesia, Sukarno pada 2 Mei 1964. Penetapan itu berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 108 Tahun 1964.

Kartini lahir pada di Jepara, 21 April 1879 dari pasangan Raden Mas (R.M) Adipati Ario Sosroningrat dan M.A Ngasirah. Ayah Kartini merupakan seorang patih yang kemudian diangkat menjadi Bupati Jepara. Kartini pun hidup di lingkungan keluarga bangsawan dengan nilai-nilai budaya Jawa Islam.

Sejarawan Islam, Tiar Anwar Bachtiar, menilai Kartini sudah lekat dengan kebudayaan Islam sejak kecil. Sebab, kata Tiar, pada abad ke-19 tradisi Islam sudah melekat di kehidupan bangsawan Jawa. 

Namun, ilmu agama secara keseluruhan tak didapatkan Kartini. Sedangkan ilmu pengetahuan secara formal didapatkannya melalui sekolah Belanda dan tidak mendapatkan pelajaran agama.

"Belajar agama semata-mata pelajaran agama yang biasa diselenggarakan di keluarga bangsawan biasanya melalui pengajian-pengajian keluarga, masjid-masjid dan sebagainya," kata Tiar kepada Liputan6.com.

Dia menambahkan, "Tentu kita tidak bisa membayangkan Kartini, apalagi perempuan datang ke pesantren belum ya, waktu masih kecil masih sampai sekolah itu belum. Tetapi kalau tradisi Islam sudah melekat dalam kehidupan sehari-harinya."

Tiar menyebut, hal tersebut juga didasarkan pada sejumlah surat-surat Kartini mengenai sejumlah tradisi dan ajaran Islam, salah satunya yang mempertanyakan mengenai poligami. Sedangkan proses spiritual dan lebih dekat dengan Islam yang dilalui Kartini semakin terlihat setelah menikah dengan K.R.M. Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat yang saat itu menjabat sebagai Bupati Rembang.

Saat itu Kartini semakin dekat dengan para kiai dan ulama. Sebab secara sosiologis nuansa pesantren hidup dengan baik di kawasan Rembang.

 

Infografis Journal
Perbesar
Infografis 10 Daftar Pahlawan Nasional Perempuan di Indonesia. (Liputan6.com/Tri Yasnie)

Mengaji kepada Kiai

Dalam beberapa catatan biografi Kartini, lanjut Tiar, disebutkan bahwa dia semakin sering mengaji kepada Kiai Sholeh Darat setelah menikah hingga mengandung. Namun saat itu pelajaran Islam yang diterima oleh Kartini yaitu berdasarkan Al-Quran dengan tulisan Arab.

Menurut Tiar, konon katanya Kartini merupakan pihak yang mengusulkan agar Al-Quran tersebut diterjemahkan bahasa Jawa ataupun Melayu yang saat itu dapat dimengerti banyak orang.

Tiar menyatakan pada saat itu dikalangan ulama di seluruh dunia terdapat fatwa yang melarang adanya penerjemahan Al-Quran ke dalam bahasa ibu setiap negara. Namun Kartini yang bergaul dengan orang Eropa merasa iri melihat temannya dengan mudah mengerti isi dari Alkitab.

"Sementara Kartini dari kecil hidup dan tradisi Islam tapi karena bukan santri dia tidak belajar bahasa Arab, sehingga Kartini melihat bahwa kenapa teman-temannya yang Eropa yang bisa membaca Alkitab yang bisa mereka pahami tapi Kartini tidak bisa membaca Quran yang bisa dipahami oleh beliau. Sehingga Kartini mengusulkan itu untuk menerjemahkan Al-Quran dalam bahasa dalam bahasa apa saja yang bisa dimengerti," paparnya.


Belajar Islam hingga Akhir Hayat

Kartini
Perbesar
Buku Kartini Habis Gelap Terbitlah Terang terjemahan sastrawan Armijn Pane (Liputan6.com/Komarudin)

Lanjut Tiar, Kartini merupakan sosok yang terus mau belajar mengenai Islam hingga akhir hayatnya. Dia meyakini Kartini akan memberikan banyak karya mengenai pandangan ataupun gagasan soal Islam jika tidak meninggal pada usia 25 tahun. Hal tersebut didasarkan pada sifat dasarnya yang kritis mengenai apa yang dia pelajari.

Sementara itu dalam salah satu suratnya seperti dalam buku Surat-Surat Kartini terjemahan Sulastin Sutrisno disebutkan jika Kartini menyebut dirinya sebagai anak Buddha.

Awalnya saat Kartini kecil yang sakit keras dan sejumlah dokter belum dapat mengobati anak Bupati Jepara ini. Kemudian datanglah orang Cina yang sedang dihukum pemerintah Hindia Belanda ke rumahnya dan berhasil mengobati Kartini.

Tiar mengaku mustahil jika Kartini menganut agama lain selain Islam. Sebab saat itu bangsawan Jawa merupakan orang dengan tradisi Islam, meskipun adanya pergulatan dalam dirinya. Kendati begitu pernyataan dari surat tersebut perlu dikonfirmasi kembali.

"Kalau ini perlu dikonfirmasi ya sekarang pasti kalau saya sih kemungkinan itu tidak ya kalau soal vegetarian mungkin," dia menjelaskan.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya