WALHI: Saat Pandemi, Limbah Medis Sumbang 16 Persen Intensitas Sampah Plastik di Jakarta

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 12 Apr 2022, 15:34 WIB
Diperbarui 12 Apr 2022, 15:34 WIB
Petugas DLH DKI Jakarta Pilah Limbah Masker Rumah Tangga
Perbesar
Petugas Sudin LH menunjukkan masker yang ditemukan di Dipo Sampah Kecamatan Pademangan, Ancol, Jakarta, Rabu (24/2/2021). Dengan berbekal alat pemilah, sarung tangan, dan masker, jasa mereka patut dihargai dalam membersihkan lingkungan dari limbah medis. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Suci Tanjung, Direktur Eksekutif Walhi Jakarta mengurai problematika sampah di masa pandemi. Menurut laporan dari LIPI, ditemukan 16% sampah plastik yang ditimbulkan dari Alat Pelindung Diri (APD), seperti dari masker, face shield, hazmat yang berkontribusi untuk jumlah sampah di sungai-sungai Jakarta.

"Sampah ini tidak hanya selesai di aliran sungai, tentu juga mengalir jauh. Bahkan kalau kita di Pulau Pari melihat bahwa intensitas naiknya sampah di pulau-pulau kecil di Kepulauan Seribu kami mendapatkan informasi semakin luar biasa," kata Suci saat jumpa pers daring, Selasa (15/4/2022).

Suci melanjutkan, Pemprov DKI memang sudah mempunyai skema mengurangi input pencemaran akibat kontaminasi sampah. Namun menurut Suci, selain menjalankan program, perlu ada pemetaan karakteristik masyarakat terlebih dahulu, khususnya yang tinggal di bantaran sungai.

"Umumnya mereka (warga tinggal di bantaran sungai tergolong masyarakat kelas ekonomi sosial menengah ke bawah. Maka perlu kita perhatikan juga dengan tarif terkait instalasi pengelolaan limbah terpusat yang sampai 2025 itu sudah diprogramkan oleh Pemprov Jakarta," saran Suci.

Suci mendorong, temuan dari paparan hari ini dapat membangun daya kritis masyarakat untuk mengawal program bersih sampah dari sungai yang sudah berjalan. Sebab, masyarakat mempunyai hak untuk kualitas hidup yang lebih baik dan itu dijamin oleh pemerintah, khususnya Pemprov DKI.

"Bahwa pemenuhan hak masyarakat untuk kualitas hidup sehat harus dijamin pemerintah, khususnya Pemprov dalam hal ini Gubernur DKI," Suci menutup.


Ancam Kesehatan

Limbah medis tersebut jika tak ditangani dengan baik pun akan mengancam kesehatan manusia dan lingkungan, seperti disampaikan Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO).

WHO menyoroti isu sampah medis akibat COVID-19 yang kini menggunung. Sampah tersebut berupa jarum suntik, alat tes, serta botol-botol vaksin bekas.

Menurut laporan WHO pada Selasa (1/2/2022), sejumlah sampah medis itu berpotensi menyebarkan infeksi karena virus Corona bisa bertahan pada permukaan benda. Pekerja kesehatan mungkin saja mengalami cedera karena jarum suntik, terbakar, dan penyakit yang disebabkan oleh infeksi kuman.

Selain para tenaga medis, komunitas yang tinggal di sekitar tempat pembuangan sampah medis yang tidak dikelola dengan baik pun pun bisa terdampak melalui udara yang terkontaminasi sampah yang dibakar, air yang terkontaminasi, atau hama pembawa penyakit.

Laporan WHO menyerukan reformasi dan investasi dalam hal pengurangan penggunaan kemasan plastik serta pemakaian alat pelindung diri yang terbuat dari bahan daur ulang dan pemakaian ulang.

Diperkirakan 87 ribu ton alat pelindung diri pribadi telah dipesan melalui portal UN hingga November 2021. Jumlah tersebut setara dengan berat beberapa ratus paus biru. Dan sebagian besar dari alat pelindung tersebut berakhir sebagai limbah.


Sepertiga Fasilitas Kesehatan Tak Mampu Kelola Limbah Medis Sejak Sebelum Pandemi

Laporan WHO juga menyebut 140 juta alat tes yang berpotensi menjadi 2.600 ton sampah yang sebagian besar plastik dan limbah kimia yang diperkirakan bisa mengisi sepertiga kolam renang Olimpiade.

Selain itu, laporan WHO juga memperkirakan sekitar 8 miliar dosis vaksin yang didistribusikan secara global telah menyumbang 144 ribu ton sampah dalam bentuk vial kaca, alat dan jarum suntik, serta boks pengaman, dilansir Channelnewsasia.

Meski demikian, laporan WHO tidak menyebut secara spesifik contoh lokasi tumpukan sampah medis tersebut. WHO hanya mengacu pada tantangan seperti terbatasnya pengolahan dan pembuangan limbah resmi di pedesaan India serta sejumlah besar lumpur tinja dari fasilitas-fasilitas karantina di Madagaskar.

Diketahui, sekitar sepertiga fasilitas kesehatan tidak mampu mengatasi jumlah limbah yang ada bahkan sebelum pandemi. Menurut WHO, hal tersebut 60 persen terjadi di negara-negara miskin.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya