Amankan Demo 11 April, Kapolda Metro Larang Anggota Bawa Senjata Api dan Peluru Tajam

Oleh Ady Anugrahadi pada 11 Apr 2022, 13:27 WIB
Diperbarui 11 Apr 2022, 13:30 WIB
Aksi Demo BEM di Kawasan Harmoni
Perbesar
(Ilustrasi) Aparat kepolisian berjaga saat aksi demo mahasiswa di kawasan Harmoni, Jakarta, Jumat (1/4/2022). Dalam aksinya mereka meminta untuk batalkan wacana perpanjangan masa jabatan presiden serta dibatalkannya wacana penundaan pemilu. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 5.626 personel gabungan dikerahkan mengawal jalannya aksi demo mahasiswa di Gedung DPR/MPR dan Patung Kuda Arjuna Wiwaha, Jakarta Pusat, Senin (11/4/2022).

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol Fadil Imran mewanti-wanti jajarannya agar tidak melakukan menggunakan senjata api dan senjata tajam saat mengamankan aksi demo 11 April 2022 ini.

"Saya minta ke seluruh anggota untuk tidak menggunakan dan tidak membawa senjata api. Apalagi dengan senjata tajam dan peluru tajam, saya minta ini dipedomani betul," kata Fadil di Jakarta, Senin.

Jumlah 5.626 personel gabungan yang diterjunkan untuk mengamankan aksi unjuk rasa itu terdiri dari Polda Metro Jaya, Korps Brimob Polri, dan Kodam Jaya. Mereka akan ditempatkan di sejumlah lokasi unjuk rasa dan objek vital.

Fadil menyebut, sebanyak 1.200 personel di antaranya disebar ke Gedung DPR/MPR, Senayan, Jaarta. "Di DPR kita kerahkan kekuatan personil sebanyak 1200 personel," ujar Fadil.

Fadil menekankan kepada para personel untuk bersikap humanis dan persuasif serta menjunjung tinggi hak asasi dan mekanisme demokrasi dalam menyampaikan pendapat. Sebab penyampaian pendapat di muka umum sudah diatur dalam undang-undang.

Sementara itu, Pangdam Jaya Mayjen TNI Untung Budiharto menerangkan, Kodam Jaya turut menurunkan 1.333 personel untuk membantu Polda Metro Jaya mengamankan aksi unjuk rasa di Jakarta dan sekitarnya.

"Kami Kodam Jaya dan Polda Metro Jaya sudah bertekad untuk fasilitasi peserta unjuk rasa. Polda Metro Jaya dan Kodam Jaya siap menghadapi mereka yang melakukan pelanggaran hukum," ucap Pandam Jaya.


TNI Pastikan Personelnya Tidak Bawa Senpi dan Sajam

FOTO: TNI AD Gelar Apel Pasukan di Monas
Perbesar
Prajurit TNI AD mengikuti Apel Gelar Pasukan Jajaran TNI AD di Lapangan Monas, Jakarta, Selasa (25/1/2022). Pasukan TNI AD dan Alutsista dipamerkan saat mengikuti gelar apel pasukan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Untung memastikan prajurit TNI yang diterjunkan tidak ada yang membawa senjata api (senpi) dan senjata tajam (sajam). Menurut Untung, penanganan aksi akan dilakukan secara persuasif.

"Tadi saya sudah apel dan tadi sesuai dengan apa yang disampikan Bapak Kapolda, agar tidak ada satu pun personel yang membawa senjata api maupun senjata tajam. Anggap mereka anak sendiri, keluarga sendiri yang harus dilindungi," kata dia.

Untung berharap aksi kali ini berjalan aman dan damai. Untung menyatakan prajurit TNI siap mendukung hal tersebut.

"Saya berharap pengujuk rasa juga melakukan kegiatannya dengan sebaik-baiknyanya, jangan anarkis. Jangan mencelakanan orang lain, dan dari kami akan menjaga agar aspirasi adik-adik tersampaikan dengan baik," kata Untung.

Sikap tegas Pangdam Jaya ini juga sejalan dengan instruksi Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo kepada jajarannya agar mengawal dan mengamankan aksi demonstrasi mahasiswa pada 11 April 2022, dengan mengedepankan pendekatan humanis.

Hal itu diinstruksikan Kapolri saat menggelar video conference bersama seluruh jajaran baik dari tingkat Mabes Polri Polda dan Polres jajaran.

"Polri memberikan dan menjamin setiap warga negara untuk menyampaikan aspirasinya atau memberikan ruang demokrasi. Oleh karena itu, pendekatan humanis harus terus dilaksanakan dalam mengawal aksi demonstrasi," kata Sigit dalam keterangan tertulisnya di Jakarta, Minggu (10/4/2022).


Polri Komitmen Junjung Tinggi HAM dan Demokrasi

apel pelepasan tenaga vaksinator dan tracer COVID-19
Perbesar
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memimpin apel pelepasan tenaga vaksinator dan tracer COVID-19 di Polda Metro Jaya, Kamis (11/2/2021). Polri menyiapkan 40.336 personel Bhabinkabtimas menjadi tracer sebagai langkah deteksi dini dalam mengantisipasi penyebaran corona. (merdeka.com/Imam Buhori)

Sigit memastikan, Polri memiliki komitmen dalam rangka menjunjung tinggi HAM dan nilai-nilai demokrasi di Indonesia. Dalam hal ini, kata Sigit, Korps Bhayangkara berpegang teguh pada UUD 1945 maupun Undang-Undang (UU) soal kebebasan berpendapat dan berekspresi yang merupakan bagian dari hak asasi manusia sehingga diberikan perlindungan secara universal.

Di sisi lain, Sigit juga menegaskan, aparat kepolisian tetap akan menjalankan tugasnya dalam memberikan jaminan keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas). Sebab itu, Sigit berharap, demonstrasi 11 April besok, juga diharapkan mampu menghormati dan menjaga kesucian serta kekhusyukan umat Islam yang sedang menjalani ibadah Puasa Ramadan.

"Sebab itu, humanis harus terus dilaksanakan. Apalagi, karena saat ini bulan Ramadan, kesucian dan kekhusyukan bagi umat muslim yang sedang menjalani puasa tetap harus kita perhatikan," ujar Sigit.

Demi semakin menciptakan situasi kamtibmas yang tetap kondusif, aman dan damai dalam demonstrasi di bulan Ramadan, Sigit mengimbau, baik ke kepolisian maupun peserta aksi untuk sama-sama mengantisipasi adanya penumpang gelap atau oknum yang berusaha menunggangi demonstrasi tersebut.

Menurut Sigit, dengan adanya antisipasi penumpang gelap dari pihak kepolisian dan peserta aksi, maka aspirasi yang disampaikan bisa berjalan dan tersalurkan dengan baik tanpa adanya noise atau sumbatan komunikasi.


Waspada Penumpang Gelap

Massa Aksi dan Polisi Bentrok di Petamburan
Perbesar
Polisi berlindung saart terjadi bentrok dengan massa aksi demo di Petamburan, Jakarta Barat, Rabu (22/5/2019). Situasi ricuh tersebut masih dalam pengamanan pihak kepolisian. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Dengan tidaknya adanya noise tersebut, Sigit meyakini aspirasi yang disampaikan mahasiswa dan masyarakat bisa diterima dengan baik dan ditindaklanjuti oleh para pemangku kebijakan. Sebagai kaum intelektual, Sigit juga meyakini mahasiswa juga tidak ingin dan berharap aksinya disusupi oleh oknum yang tak bertanggung jawab.

"Sehingga penyampaian pesan ini betul-betul tersampaikan dengan jernih tidak ada noise. Dengan begitu, para pengambil keputusan, pemangku kebijakan, mendengarkan dengan jelas, kemudian segera bisa ditindaklanjuti pesan tersebut tanpa terganggu oleh noise-noise tersebut. Ini tentunya menjadi tanggung jawab kita bersama," papar Sigit.

Terkait penumpang gelap atau oknum yang berusaha menciderai aspirasi mahasiswa dan masyarakat, Sigit menyatakan bahwa, kepolisian akan memberikan tindakan tegas kepada siapa pun pihak yang mencoba memanfaatkan demonstrasi tersebut demi mengambil keuntungan untuk kepentingan segelintir kelompok.

"Tapi terhadap kelompok-kelompok penyusup yang akan menunggangi tolong dari rekan-rekan untuk mengawasi betul. Kalau sampai terjadi pemicu kemudian terjadi hal yang sifatnya anarkis dan kita harus melakukan penegakan hukum, tarik sampai ke atas hingga sampai tuntas dan itu semuanya akan kita proses. Karena Polri ingin gerakan mahasiswa betul-betul berjalan aman, tertib dan aspirasinya tersampaikan," tutup Sigit.

"Sekali lagi saya imbau, mari bersama-sama kita jaga kesucian bulan Ramadan. Sampaikan aspirasi dengan tertib dan damai. Semoga saudara-saudara kita umat muslim bisa menjalankan ibadah puasa dengan tenang dan lancar hingga akhir," pungkas Kapolri.

 

Infografis Gelombang Demo Mahasiswa Tolak RUU Kontroversial
Perbesar
Infografis Gelombang Demo Mahasiswa Tolak RUU Kontroversial. (Liputan6.com/Triyasni)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya