Makanan dan Minuman Manis Jadi Pilihan Favorit Buka Puasa, Apa Kata Dokter Gizi?

Oleh Ika Defianti pada 09 Apr 2022, 21:05 WIB
Diperbarui 09 Apr 2022, 21:05 WIB
Imbas Covid-19 dan PSBB, Pasar Takjil Jalan Panjang Sepi
Perbesar
Warga melakukan aktivitas jual beli makanan untuk berbuka puasa (takjil) di kawasan Jalan Panjang, Jakarta, Selasa (5/5/2020). Pandemi virus COVID-19 dan pelaksanaan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berimbas pada sepinya pembeli takjil di kawasan tersebut. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Indonesia punya banyak variasi menu buka puasa sebagai takjil. Mulai dari kurma, kolak pisang, gorengan, hingga aneka minuman dingin. Makanan atau minuman manis umumnya juga menjadi jenis yang dicari oleh masyarakat.

Anjuran untuk berbuka puasa dengan yang manis sudah menempel di masyarakat. Penjual takjil saat Ramadan pun beramai-ramai menjual jajanannya dengan aneka macam makanan. Mengapa makanan manis jadi pilihan favorit berbuka puasa?

Dokter Spesialis Gizi Klinik, Johanes Chandrawinata menyatakan asupan makanan manis ketika berbuka puasa itu berfungsi mengembalikan gula darah yang sempat turun selama berpuasa. Selain kadar gula darah yang turun, tubuh juga kehilangan cairan saat melaksanakan puasa. Sehingga makan makanan manis sangat dianjurkan.

Makanan manis yang cukup baik dimaksud Johanes yaitu yang dapat memberikan manfaat tambahan untuk tubuh. Contohnya kurma yang banyak mengandung gula alami. Kandungan gula di dalam kurma tidak terlalu cepat menaikan gula di dalam darah atau naik secara perlahan. Kurma juga dinilai mengandung serat pangan yang dapat membantu dalam proses buang air besar (BAB).

Kemudian kurma juga mengandung antioksidan yang membantu menurunkan peradangan serta dapat membuat seseorang awet muda. Asupan kurma lanjut dia juga dinilai lebih bagus daripada kita minum teh manis.

"Idealnya kurma 3 sampai 5 butir. Tergantung besarnya ya. Nah, jadi kurma itu sehat karena dia mengandung gula, kemudian juga mengandung serat dan antioksidan," kata Johanes kepada Liputan6.com.

Kendati begitu tak semua masyarakat mengkonsumsi kurma ketika berbuka puasa. Biasanya ada yang memilih kolak ataupun sop buah. Johannes menyebut sop buah masih dinilai cukup bagus untuk berbuka puasa.

Kendati begitu penggunaan susu kental manis dan gula harus dibatasi. Sebab, buah-buahan yang digunakan dalam sop tersebut sudah memiliki rasa yang cukup manis.

 

Antisipasi Kenaikan Kadar Gula Darah

Mencari Menu Berbuka Puasa di Pasar Lama Tangerang
Perbesar
Pembeli memilih makanan untuk berbuka puasa (takjil) di kawasan Pasar Lama, Kota Tangerang, Selasa (20/4/2021). Bulan Ramadhan, membuat sejumlah pedagang takjil musiman bermunculan dan menawarkan aneka makanan dan minuman untuk umat Islam yang menjalankan puasa. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Kemudian untuk kolak dia menyarankan agar masyarakat tidak menghabiskan air dalam besaran yang dikonsumsi. Air dalam kolak kata Johanes mengandung banyak gula dan santan.

Sebab jika dikonsumsi berlebihan akan berakibat pada naiknya asupan kalori dalam tubuh. Selain itu secara umum dapat mengakibatkan timbulnya kenaikan berat badan dan juga memicu munculnya sejumlah penyakit tidak menular. Misalnya diabetes, darah tinggi, trigliserida hingga asam urat.

"Misalnya kolak biji salak itu dari ubi dan ada tepungnya ya, jadi tidak banyak mengandung serat, ada seratnya, tapi jauh lebih rendah dibandingkan kalau kita makan sop buah misalnya. Tapi untuk variasi boleh sesekali kita makan kolak, tapi dihari hari lain utamakan kurma atau sop buah lebih bagus untuk kelancaran pencernaan kita selama bulan puasa," ucapnya.

Kemudian Johanes juga menyoroti mengenai gorengan yang menjadi primadona saat berbuka puasa di masyarakat. Secara fisiologis kata dia, gorengan memerlukan waktu lebih lama untuk menaikkan kadar gula darah. Kemudian untuk masyarakat yang memiliki riwayat kolesterol tinggi dianjurkan untuk mengurangi gorengan.

 

 
Infografis Journal
Perbesar
Daftar Kalori Makanan Berbuka Puasa (Liputan6.com/Trie Yasni)

Sementara itu untuk minuman berbuka puasa masyarakat juga sering memilih teh manis. Johanes menganjurkan agar masyarakat dapat minum tidak lebih dari satu gelas atau cukup 250 ml. Lanjut dia, saat berpuasa cakupan cairan juga harus tercukupi dengan benar.

"Disarankan pada saat berbuka puasa jangan langsung makan berat. Kita penuhi dulu kebutuhan tubuh, yaitu kurangnya cairan dan kurangnya gula di darah kita. Jadi kita minum air 2 gelas ditambah makanan yang manis-manis. Utamakan kurma kalau mau sehat ya 3 butir kurma," ujar dia.

 


Cakupan Air Dalam Tubuh

Ilustrasi Muslim, puasa, buka puasa, sahur
Perbesar
Ilustrasi Muslim, puasa, buka puasa, sahur. (Photo by Michael Burrows from Pexels)

Kemudian setelah salat Magrib, kata Johanes dapat dilanjutkan dengan minum dua gelas air putih dan makan besar secukupnya. Hal tersebut dikarenakan saat berpuasa kegiatan rutin olahraga jarang dilakukan. Porsi secukupnya juga untuk menghindari kenaikan berat badan.

"Kita tetap mengikuti piring makan sehat. Anjuran piring makan sehat ini di Depkes juga ada, yaitu piringnya diameter 20 senti itu kita bagi 2 setengahnya sayuran ditambah buahnya 1 buah ukuran sedang. Yang setengahnya lagi dibagi seperempat bagiannya, itu adalah karbohidrat, seperempat piring protein. Ya, proteinnya harus yang bebas lemak ya," papar Johanes.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya