Tukang Siomay yang Cabuli Anak Kecil di Jagakarsa Jadi Buron

Oleh Ady Anugrahadi pada 16 Mar 2022, 20:53 WIB
Diperbarui 16 Mar 2022, 20:53 WIB
Ilustrasi Penangkapan
Perbesar
Ilustrasi Penangkapan. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta Satreskrim Polres Metro Jaksel menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap pelaku pencabulan seorang bocah berinisial ZF di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Pelaku H (38) yang merupakan pedagang siomay resmi jadi buron.

Kapolres Metro Jakarta Selatan, Kombes Budhi Herdi Susianto, menerangkan pihaknya telah menetapkan H (38) sebagai tersangka. Penyidik telah mencoba mencari keberadaan pelaku sampai ke kediaman keluarganya. Namun, belum membuahkan hasil.

"Tersangka kami cari di rumah keluarganya tapi belum didapatkan sehingga penyidik sudah menerbitkan DPO dan meminta bantuan jajaran kesatuan Polri untuk penangkapan yang bersangkutan," kata dia.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, AKBP Ridwan Solpanit membenarkan status DPO telah disematkan ke H (38).

"Iya (pelaku status DPO)," ucap Ridwan.

 


Kronologi

Sebelumnya, seorang bocah berinisial ZF di Jagakarsa, Jakarta Selatan, menjadi korban pemerkosaan pria berinisial K, yang sehari-harinya berjualan siomay.

K sehari-harinya menjajakan siomay keliling kampung di sekitar rumah korban. Mirisnya, aksi pemerkosaan sudah berlangsung selama satu tahun terakhir dan baru terbongkar pada Senin, 24 Januari 2022 lalu.

Kanit PPA Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Nunu, menerangkan kasus ini terbongkar setelah korban menghubungi orangtua melalui sambungan telepon. Saat itu, korban mengeluhkan sakit pada bagian kemaluan.

"Dia (korban) cerita ke ibunya, katanya sering mendapat perlakuan tak senonoh dari om siomay. Kontan ibunya pulang setelah pulang dan nanya langsung ke putri tersebut," kata Nunu saat dihubungi, Kamis (3/2/2/2022).

Nunu menerangkan, ibu korban telah dimintai keterangan sebagai saksi. Berdasarkan pemeriksaan, diketahui bahwa pencabulan sudah sering terjadi. Nunu menyebut, kurang lebih berlangsung sejak tahun 2021.

"Korban mengaku sering dilakukan pencabulan oleh si pelaku untuk berapa kalinya korban tidak bisa mengingat, tapi dia mengatakan sering," kata dia.

Nunu menerangkan, pelakunya adalah tukang siomay berinisial K yang sering mangkal di dekat rumah korban. Nunu menerangkan, K melakukan pencabulan saat kedua orangtua korban sedang sibuk bekerja. Korban sendiri tinggal seorang diri di rumah tersebut.

"Pelaku mencabuli korban kadang di teras, atau di dalam rumah," ucap dia.

Nunu mengatakan, pelaku mengiming-imingi korban dengan uang sekitar Rp 5 ribu. Tak hanya itu, pelaku juga mengancam korban agar tidak memberitahukan perbuatannya ke siapa pun, termasuk orangtua korban sendiri.

Ancaman itu pun membuat korban ketakutan dan tidak berani mengadu ke ibunya.

"Korban diancam sama tukang siomay itu kalau 'kamu nanti ngomong-ngomong kita pada berantem’. Si anak takut orangtuanya berantem, makanya dia tidak cerita," terang dia.

 


Jerat Hukum

Pada kesempatan itu, Nunu membantah narasi yang beredar di mana pelaku yang meminum darah kemaluan korban. Nunu mengaku telah mengkonfirmasi langsung ke orangtua korban pada saat pemeriksaan kemarin.

"Itu tidak benar sama sekali. Tidak ada itu minum-minum darah," papar dia.

Nunu mengatakan, tukang siomay telah ditetapkan sebagai tersangka berdasar dua alat bukti yang dikantongi penyidik. Sementara itu, pelaku sampai saat ini masih dalam perburuan.

"Pelaku sudah kami indetifikasi, sudah ada (identitas) cuman saat ini pelaku masih dalam pencarian," terang dia.

Atas perbuatannya, pelaku terancam Pasal 76 e jo 82 UU No. 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak."Ancaman hukuman 15 tahun," ujar dia.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya