Anggota Polri Turut Jadi Korban Tewas Ritual di Pantai Payangan Jember

Oleh Ady Anugrahadi pada 14 Feb 2022, 18:18 WIB
Diperbarui 14 Feb 2022, 18:18 WIB
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Gatot Repli Handoko (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta - Sebanyak 11 orang dilaporkan meninggal dunia akibat terseret ombak saat ritual di pesisir Pantai Payangan, Kabupaten Jember, Jawa Timur. Belasan korban tewas itu telah ditemukan tim SAR gabungan pada Minggu (13/2/2022).

Kabid Humas Polda Jawa Timur, Kombes Pol Gatot Repli Handoko menyebut, salah satu korban tewas ritual di Pantai Payangan adalah anggota Polri.

"Jadi dari hasil identifikasi, terhadap korban yang ditemukan meninggal dunia itu satu orang sudah pasti adalah anggota dari kami," kata Gatot kepada wartawan, Senin (14/2/2022).

Gatot mengatakan, korban berdinas di Polsek Pujer Polres Bondowoso. Dia termasuk dari 11 orang yang meninggal dunia dalam tragedi ritual di Pantai Payangan, Jember.

"Saat ini kami masih mendalami terkait keterlibatan yang bersangkutan dalam kelompok tersebut," tambah Gatot.

Gatot menerangkan, pihaknya telah memeriksa sejumlah saksi guna mencari unsur pidana dalam kasus ini.

Gatot menyebut, saksi berasal dari masyarakat setempat, peserta serta pimpinan kelompok yang menjalani ritual.

"Korban yang selamat juga sudah ambil keterangannya. Juga pimpinannya yang mengadakan acara itu kebetulan yang bersangkutan selamat," ujar dia.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.


Masih Tahap Penyelidikan

Sejumlah korban tenggelam ritual ditemukan di Bukit Kamboja Pantai Payangan Jember. (Istimewa)
Perbesar
Sejumlah korban tenggelam ritual ditemukan di Bukit Kamboja Pantai Payangan Jember. (Istimewa)

Berdasarkan keterangan saksi, Gatot menjelaskan, peserta ritual sebelumnya berjalan ke arah laut. Diduga, mereka tidak mengetahui datangnya ombak besar.

"(Berjalan) kira-kira sampai sedengkul kaki, mereka berdoa masing-masing secara ritual dengan cara bergandengan tangan. Tidak tahu bahwa di balik gunung itu ada ombak besar. Itu jadi tersapu akhirnya terbawa ombak," terang dia.

Gatot menerangkan, kasus ini masih dalam tahap penyelidikan. "Untuk masuk kategori pidana atau tidak masih kita selidiki," tandas dia.

Lanjutkan Membaca ↓

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya