Satgas: Belum Ada Kasus Berat atau Kematian Akibat Varian Omicron

Oleh Liputan6.com pada 03 Des 2021, 08:30 WIB
Diperbarui 03 Des 2021, 09:19 WIB
Dewi Nur Aisyah
Perbesar
Tim Pakar Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Dewi Nur Aisyah sampaikan dalam pekan terakhir terjadi kenaikan kasus yang cukup tinggi di Provinsi Jawa Barat saat dialog di Graha BNPB, Jakarta, Senin (10/8/2020). (Dok Tim Komunikasi Satgas Nasional)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menyampaikan varian B.1.1.529 atau Omicron belum memicu gejala berat atau kematian pada pasien. Klaim ini merujuk pada kondisi kasus varian Omicron di Eropa.

"Jadi belum ada kasus berat ataupun kematian akibat strain Omicron di Eropa dari informasi resmi yang kami peroleh," kata Anggota Bidang Penanganan Kesehatan dan Panel Ahli Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Budiman Bela, Kamis (2/12).

Spesialis Mikrobiologi Klinis ini menyebut, sebagian besar pasien yang terinfeksi varian Omicron hanya mengalami gejala ringan. Bahkan, ada yang tidak mengalami gejala atau OTG.

"Omicron ini kelihatannya belum berdampak signifikan di Eropa," ujarnya.

Sebelumnya, Ketua Bidang Data dan Teknologi Informasi Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Dewi Nur Aisyah mengatakan, tidak ada perbedaan gejala yang dialami pasien terinfeksi Omicron dengan varian lainnya. Temuan ini berdasarkan laporan awal dari Afrika Selatan, negara yang mendeteksi Omicron pertama kali.

"Mirip-miriplah dengan varian yang sudah ada dan juga ditemukan beberapa individu yang asimtomatik, tidak punya gejala sama sekali," katanya dalam talkshow Analisis Gelombang ke-3 Covid-19 di Indonesia, Senin (29/11).

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ditetapkan sebagai Variant of Concern

Dewi menyebut, Omicron sudah ditetapkan sebagai variant of concern (VoC) oleh Badan Kesehatan Dunia atau WHO. Penetapan VoC ini biasanya berdasarkan tiga indikator.

Pertama, varian tersebut meningkatkan angka penularan secara epidemiologi. Kedua, meningkatkan perubahan gejala penyakit. Ketiga, menurunkan efektivitas usaha kesehatan publik, pengobatan, dan alat diagnostik yang saat ini tersedia.

Menurut Dewi, Omicron kemungkinan lebih cepat menular dibandingkan varian Delta. Sebab, berdasarkan sebaran kasus di Afrika Selatan, Omicron mendominasi dibandingkan varian lainnya. Padahal, Omicron baru teridentifikasi pada 9 November 2021.

Sementara untuk karakteristik resistensi terhadap vaksin, belum diketahui. Saat ini, sejumlah peneliti masih mengkaji potensi resistensi Omicron terhadap vaksin.

"Efek resistensinya terhadap vaksin masih belum diketahui. Namanya juga masih baru," tutupnya.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya