BMKG Sebut Bibit Siklon Terpantau di Perairan Kamboja, Ini Dampaknya ke Indonesia

Oleh Delvira Hutabarat pada 29 Nov 2021, 20:54 WIB
Diperbarui 29 Nov 2021, 20:54 WIB
20160907-Curah-Hujan-Jakarta-JT
Perbesar
Sejumlah gedung di Jakarta tertutup awan gelap sebelum turunya hujan, Rabu (7/9). BMKG memprediksi fenomena La Nina yang mengakibatkan curah hujan tinggi akan berlangsung hingga bulan September 2016. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta Jakarta Tropical Cyclone Warning Center (TCWC) Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengamati adanya pertumbuhan bibit Siklon Tropis 94W yang terbentuk di sekitar Laut China Selatan atau sebelah selatan Kamboja.

Deputi Bidang Meteorologi, Guswanto menyatakan, sistem bibit Siklon Tropis 94W bergerak ke arah barat dan menjauhi wilayah Indonesia. Bibit itu dalam 24 jam ke depan diprakirakan masih berada di kategori rendah untuk menjadi sistem siklon tropis.

"Keberadaan Bibit Siklon Tropis 94W ini membentuk daerah pertemuan dan perlambatan kecepatan angin (konvergensi) yang memanjang dari wilayah Vietnam bagian selatan hingga Teluk Thailand yang mampu meningkatkan potensi pertumbuhan awan hujan di sekitar sistem dan di sepanjang daerah konvergensi tersebut," kata Guswanto dalam keterangannya, Senin (29/11/2021).

Namun, dalam 24 jam ke depan, bibit Siklon Tropis 94W ini dapat memberikan dampak tidak langsung terhadap kondisi cuaca di wilayah Indonesia yang berdekatan dengan Kamboja. 

Dampak dan wilayah-wilayah itu yakni:

1. Potensi hujan intensitas sedang-lebat di wilayah Aceh, Sumatra Utara, Riau dan Kepulauan Riau.

2. Tinggi gelombang 1.25 - 2.5 meter (Moderate), di Perairan Kepulauan Anambas dan Natuna

3. Tinggi gelombang 2.5 - 4.0 meter (Rough Sea), di Laut Natuna Utara.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Imbauan

Terkait dengan potensi cuaca ekstrem tersebut, BMKG mengimbau masyarakat menghindari kegiatan pelayaran di wilayah perairan yang terdampak.

Kemudian menghindari daerah rentan mengalami bencana seperti lembah sungai, lereng rawan longsor, pohon yang mudah tumbang, tepi pantai, dan lainnya.

"Ketiga mewaspadai potensi dampak seperti banjir/bandang/banjir pesisir, tanah longsor dan banjir bandang terutama di daerah yang rentan," pungkas Guswanto.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya