Peneliti Ungkap Kesulitan Tembus Saluran Air Peninggalan Belanda di Bogor

Oleh Achmad Sudarno pada 15 Okt 2021, 11:20 WIB
Diperbarui 15 Okt 2021, 11:20 WIB
Salah satu lokasi penemuan saluran air di kawasan Stasiun Bogor, Jawa Barat yang merupakan bangunan peninggalan jaman Belanda. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)
Perbesar
Salah satu lokasi penemuan saluran air di kawasan Stasiun Bogor, Jawa Barat yang merupakan bangunan peninggalan jaman Belanda. (Liputan6.com/Achmad Sudarno)

Liputan6.com, Jakarta Tim peneliti telah mengidentifikasi penemuan saluran air di kawasan Stasiun Bogor, Jawa Barat yang merupakan bangunan peninggalan era kolonial Belanda.

Ketua Tim Kajian, Wahyu Gendam Prakoso, menuturkan saluran air yang membentang di bawah Jalan Nyi Raja Permas dan MA Salmun dibangun sekitar tahun 1880-an dan difungsikan dari masa ke masa. Selain itu, telah mengalami beberapa kali perbaikan dari era kolonial Belanda sampai dengan tahun 1956. 

Hal itu terlihat dari teknik pembuatan, struktur dan adanya kombinasi material bangunan yang tersusun pada fisik bangunan saluran air tersebut. 

"Itu bisa kita lihat dari materialnya bermacam-macam. Ada yang menggunakan material bata, ada juga yang kami temukan berupa susunan batu. Jadi kemungkinan itu tidak berasal dari satu masa saja," terang Wahyu, Kamis (14/10/2021).

Wahyu menerangkan, terdapat tiga saluran air yang membentuk setengah lingkaran. Tinggi saluran air dari permukaan hingga dinding atas sekitar 2 meter lebih. Sehingga dengan leluasa manusia bisa berdiri tegak di dalam saluran air tersebut. 

Dari tiga saluran air, satu titik membentang dari arah Taman Wilhelmina atau kini disebut Taman Topi. Satu lagi berasal dari emplacement Stasiun Bogor. Terakhir, mengarah ke Sungai Cipakancilan.

Dua di antaranya mengarah ke sebuah bangunan berbentuk kotak dengan kedalaman diperkirakan mencapai 2,5 meter dan lebar 5 meter. Bangunan itu disinyalir adalah sebuah kolam. 

"Berdasarkan dokumen dan peta sejarah dari beberapa sumber termasuk PT KAI, cukup akurat. Bangunan itu pertemuan dari beberapa saluran dan arahnya jelas. Yang satu dari arah Nyi Raja Permas, ada yang sejajar dengan stasiun, satu lagi ke arah Sungai Cipakancilan," kata Wahyu.

Tak hanya itu, berdasarkan sumber peta dari PT KAI, terdapat dua kolam yang disinyalir berfungsi untuk pengolahan limbah rumah tangga dan aktivitas masyarakat pada jaman Belanda, sebelum dibuang ke Sungai Cipakancilan. 

"Penyaringan air ini jumlahnya sepasang. Satu titik lokasinya ada dekat Sungai Cipakancilan dan satu lagi di Jalan MA Salmun," ujarnya.

Namun sampai saat ini tim peneliti dari Balai Arkeologi Provinsi Jawa Barat dan Universitas Pakuan belum bisa menembus dua kolam retensi ini. Hal ini lantaran terkendala akses masuk.

"Kami belum bisa tembus karena akses yang kalau kita lewati Stasiun Bogor diperkirakan (kolam) letaknya di bawah gardu PLN, jadi ga mungkin kan bongkar gardu," ucap Wahyu.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Untuk Pengolahan Limbah Cair ?

Kepala Balai Arkeologi Provinsi Jabar, Deni Sutrisna, menyatakan kolam tersebut disinyalir untuk mengolah limbah cair sebelum dibuang ke Sungai Cipakancilan. 

"Betapa hebatnya dulu orang Belanda, mereka sudah berpikir bahwa kotoran limbah itu sebelum masuk ke sungai harus dalam keadaan bersih airnya," kata dia.

Deni menerangkan, sebelum mendirikan fasilitas publik seperti stasiun maupun taman, orang Belanda selalu memerhatikan dampak lingkungan di masa mendatang. Karena itu, mereka lebih dulu membangun saluran air dan kolam filter yang berfungsi untuk mencegah pencemaran air dan banjir.

"Orang belanda sudah memikirkan ke depan. Ini terbukti di beberapa stasiun kereta api yang kami temukan seperti di Sumatera juga demikian, oleh Belanda dibangun saluran air mumpuni untuk mencegah banjir dan lainnya," kata dia. 

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya