Ini yang Diklaim Penyebab Pesisir Jakarta Cepat Tenggelam

Oleh Delvira Hutabarat pada 17 Sep 2021, 23:30 WIB
Diperbarui 17 Sep 2021, 23:30 WIB
Hutan Bakau di Pesisir Marunda Memprihatinkan
Perbesar
Kondisi hutan bakau di pesisir kawasan Marunda, Jakarta, Selasa (27/8/2019). Tutupan hutan tersebut berakibat bertambahnya emisi karbon dioksida hingga 4,69 kilo ton. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Anggota Komisi IV DPR RI Slamet mengatakan, banyak faktor yang menyebabkan pesisir Jakarta cepat tenggelam. Salah satunya penggunaan air tanah yang masif.

"Jakarta mengalami penurunan tanan (land subsidence) sebesar 11-17 milimeter pertahunnya akibat penyedotan air tanah," kata dia kepada Liputan6.com, Jumat (17/9/2021).

Selain itu, Politikus PKS ini memandang ada penyebab tidak langsung dari perilaku manusia Jakarta yang dapat memperparah efek perubahan iklim, seperti produksi limbah yang banyak melepaskan karbon di udara.

Slamet juga mengungkapkan, posisi Jakarta yang berada di bawah permukaan air juga ikut memperparah kondisi wilayah pesisir yang sudah terdampak perubahan iklim.

"Itu juga menjadi salah satu faktor utama yang menyebabkan potensi atau dampak perubahan iklim semakin terasa. Kita bisa lihat dari frekuensi terjadinya banjir rob di utara Jakarta," ungkap dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Bawa Dampak

Slamet menuturkan, ada dampak nyata bagi pesisir jika air laut terus masuk ke daratan. Yang pertama kualitas air tawar yang menjadi payau, sehingga air baku masyarakat mengalamai penurunan.

"Selain itu frekuensi banjir rob juga akan mengalami peningkatan yang menyebabkan kerusakan terhadap kendaraan dan pemukiman masyarakat, serta yang paling parah adalah apabila garis pantai mengalami penyusutan, seperti yang kita lihat di daerah teluk Jakarta seperti muara gembong, di mana perkampungan menjadi hancur sehingga ditinggalkan oleh masyarakat," kata dia.

Slamet pun menyarankan, pemerintah harus melakukan antisipasi akan dampak ini. Misalnya, berupaya untuk ikut menurunkan emisi gas hingga 29% pada tahun 2030.

"Sedangkan langkah kecil yang bisa dilakukan di masyarakat adalah mulai mengolah sampah yang dihasilkan," kata dia.

"Banyak hal yang bisa dilakukan seperti pembatasan pengambilan air tanah, pembatasan penggunaan kendaraan yang menghasilkan emisi tinggi atau mungkin mulai beralih ke kendaraan yang ramah lingkungan seperti sepeda dan mobil listrik," sambungnya.

Lanjutkan Membaca ↓

Live Streaming

Powered by

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya