BMKG Ingatkan Wilayah yang Diprediksi Alami Kekeringan Ekstrem Waspadai Kebakaran Hutan

Oleh Lizsa Egeham pada 02 Sep 2021, 12:48 WIB
Diperbarui 02 Sep 2021, 12:48 WIB
[Fimela] Ilustrasi Kemarau dan Kekeringan
Perbesar
Ilustrasi kemarau dan kekeringan | unsplash.com/@danielcgold dan unsplash.com/@redcharlie

Liputan6.com, Jakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan pemerintah daerah (pemda) yang wilayahnya diprediksi mengalami kekeringan akibat kemarau panjang melakukan sejumlah mitigasi. Salah satunya, mewaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan.

"Perlu dilakukan mitigasi di antaranya mewaspadai terjadinya kebakaran hutan, lahan dan semak, menghemat penggunaan air bersih, serta melakukan budidaya pertanian yang tidak membutuhkan banyak air," kata Kepala Pusat Layanan Informasi Iklim Terapan BMKG Ardhasena Sopaheluwakan kepada Liputan6.com, Kamis (1/9/2021).

Ada pun salah satu wilayah yang kini mengalami kekeringan ekstrem dan Hari Tanpa Hujan yakni, Nusa Tenggara Timur. Sena menyampaikan bahwa musim hujan di wilayah timur Indonesia umumnya memang lebih lambat dibandingkan bagian barat.

"Hari Tanpa Hujan yang terjadi di NTT sudah cukup panjang sekitar 60 hari, hal tersebut karena memang diwilayah tersebut normalnya sedang dalam musim kemarau," jelasnya.

"Musim hujan memang gradual seolah-olah masuknya dari wilayah barat," sambung Sena.

Menurut dia, kondisi ini membuat wilayah NTT memiliki musim kemarau yang lebih panjang dibanding daerah-daerah lainnya. BMKG memprediksi musim hujan di NTT baru dimulai pada akhir November.

"Sehingga di NTT masuk musim hujan paling belakangan, yang berarti musim kemaraunya lebih panjang. Prediksi awal musim hujannya di akhir November," tutur Sena.

 


Masuk Musim Hujan

Ilustrasi - Sawah di musim kemarau. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)
Perbesar
Ilustrasi - Sawah di musim kemarau. (Foto: Liputan6.com/Muhamad Ridlo)

Sebelumnya, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki musim hujan pada September hingga November 2021. Namun, beberapa wilayah di Indonesia Timur justru mengalami kekeringan, seperti Nusa Tenggara Timur (NTT), Nusa Tenggara Barat (NTB), Bali dan Jawa Timur.

Berdasarkan pantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), beberapa wilayah berada dalam status 'Siaga' kekeringan meteorologis, di antaranya Kabupaten Bangkalan, Banyuwangi, Bondowoso, Pamekasan dan Situbondo di Jawa Timur, Kabupaten Buleleng dan Karangasem di Bali, Lombok Timur di NTB, serta Kabupaten Ende, Ngada dan Sumbar Barat di NTT.

Sedangkan beberapa wilayah dengan status 'Awas,' terpantau di Kabupaten Bima dan Sumbawa di NTB, serta Kabupaten Alor, Belu, Flores Timur, Kota Kupang, Manggarai Timur, Sikka, Sumba Timur, Timor Tengah Selatan, Timor Tengah Timur di NTT.

Status 'Siaga' merujuk pada kondisi jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 31 hari, prakiraan probabilitas curah hujan kurang dari 20mm/dasarian di atas 70 persen. Sementara 'Awas' mendeskripsikan jumlah hari tanpa hujan paling sedikit 61 hari. Prakiraan probabilitas curah hujan kurang dari 20 mm/dasarian di atas 70 persen.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya