DPR Minta Pemerintah Jemput Bola Vaksinasi Covid-19: Tinggalkan Cara Konservatif

Oleh Delvira Hutabarat pada 04 Agu 2021, 19:30 WIB
Diperbarui 04 Agu 2021, 19:30 WIB
Target Vaksinasi COVID-19 Terus Dikejar
Perbesar
Petugas kesehatan menyuntikkan vaksin COVID-19 di sentra vaksin Tomang Tol Plaza, Tangerang, Sabtu (24/7/2021). Target pemerintah dalam pelaksanaan vaksinasi Covid-19 bertambah menjadi 208,2 juta orang yang sebelumnya sebanyak 181,5 juta atau 70 persen dari total populasi. (Liputan6.com/Angga Yuniar

Liputan6.com, Jakarta Anggota Komisi VIII DPR RI, Bukhori Yusuf mengatakan, untuk mempercepat vaksinasi Covid-19, pemerintah harus menjemput bola serta masifkan sentra vaksinasi berbasis RT/RW.

"Tinggalkan cara-cara konservatif seperti mengundang masyarakat berkerumun demi memperoleh vaksinasi. Sebab jika cara ini tetap dipertahankan, saya khawatir keberadaan sentra vaksinasi akan menimbulkan klaster baru dan menjadi kontraproduktif," kata Yusuf, Rabu (4/8/2021).

Di sisi lain, dia menegaskan, langkah tracing di Indonesia masih jauh dari standar acuan WHO yang merekomendasikan pelacakan dilakukan terhadap 30 orang yang berkontak erat dengan satu orang yang terkonfirmasi positif Covid-19.

Ia juga menyoroti angka testing dan treatment yang terjadi belakangan ini. Terhitung sejak tanggal 28 Juli hingga 2 Agustus 2021, jumlah testing PCR di Indonesia merosot hampir 50%, dari angka 84.462 menjadi 44.797. Selain itu, positivity rate Indonesia juga masih terbilang tinggi, yakni 21% dimana persentase ini 4 kali lebih tinggi dibandingkan standar acuan WHO, yakni 5%.

"Kelemahan ini kian diperparah lantaran ketersediaan obat terapi bagi pasien Covid-19 maupun tabung oksigen juga mengalami kelangkaan di sejumlah daerah. Sekalipun tersedia, itu pun dijual di atas harga eceran tertinggi," kata Yusuf.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Nyawa Lebih Penting

Yusuf pun menyoroti soal tingginya angka korban jiwa yang terus berjatuhan. Menurutnya, ini tak bisa dilihat sebagai angka statistik semata.

"Setiap satu nyawa yang hilang adalah memori bagi setiap orang yang mengenalnya. Dan mirisnya, kematian ini juga menimpa para tenaga kesehatan yang kita harapkan bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa pasien," kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya