Jejak Prank Nasional, Mulai dari Era Presiden Sukarno hingga Jokowi

Oleh Devira Prastiwi pada 03 Agu 2021, 06:31 WIB
Diperbarui 03 Agu 2021, 06:31 WIB
Ilustrasi kata-kata bijak, pembohong
Perbesar
Ilustrasi kata-kata bijak, pembohong. (Photo by vectorjuice on Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Masyarakat Indonesia dihebohkan dengan adanya aksi sosial keluarga pengusaha mendiang Akidi Tio asal Kabupaten Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD).

Bagaimana tidak, keluarga pengusaha mendiang Akidi Tio memberikan bantuan berupa dana segar sebesar Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19.

Namun rupanya, prank seperti itu bukan pertama kali terjadi di Indonesia. Di era presiden pertama Indonesia, Sukarno sudah ada hoaks seperti itu.

Kala itu, Sukarno dibuat repot dengan adanya raja dan ratu fiktif. Mereka adalah Raja Idrus dan Ratu Markonah.

Kedatangan raja dan ratu dari suku Anak Dalam di wilayah Lampung itu pun bak tamu penting di Istana Kepresidenan.

Peristiwa tersebut terjadi sekitar 1950-an. Saat itu, Soekarno mudah percaya karena raja dan ratu berminat menyumbangkan harta benda mereka untuk merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Tak hanya di era Sukarno, kasus berita bohong atau hoaks juga sempat terjadi saat kepemimpinan Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kala itu, terdapat seorang pria bernama Soewondo yang membobol Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) senilai Rp 35 miliar.

Berikut sederet berita bohong atau hoaks dari masa ke masa era Presiden pertama Sukarno hingga Presiden Joko Widodo atau Jokowi dihimpun Liputan6.com:

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sukarno

Presiden pertama Indonesia Sukarno (AFP)
Perbesar
Presiden pertama Indonesia Sukarno (AFP)

Di era Presiden pertama Indonesia Sukarno, nama Raja Idrus dan Ratu Markonah sempat membuat geger.

Bagaimana tidak, sang raja dan ratu fiktif itu bahkan disambut bak tamu penting di Istana Kepresidenan sekitar tahun 1950-an.

Keduanya mengaku sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di wilayah Lampung. Sukarno mudah percaya karena raja dan ratu itu berniat menyumbang harta benda mereka untuk merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Niat keduanya pun disorot sejumlah media massa. Bahkan, keduanya juga diundang Presiden Sukarno ke Istana Merdeka.

Penampilan Ratu Markonah saat datang ke Istana juga tak kalah menarik perhatian. Markonah sebagai permaisuri Raja Idrus selalu memakai kaca mata hitam saat tampil di hadapan publik.

Namun, tak butuh lama, identitas asli Raja Idrus dan Ratu Markonah pun terungkap. Media massa mulai mengulik latar belakang tamu istimewa Bung Karno itu.

Setelah ditelusuri, ternyata mereka bukan raja dan ratu dari suku Anak Dalam. Asal usul Ratu Markonah juga akhirnya terbongkar setelah dia secara tidak sengaja menggunakan bahasa Jawa.

Fakta yang diketahui kemudian, Idrus dan Markonah hanyalah warga biasa. Idrus diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sedangkan Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Soeharto

20160127-Soeharto
Perbesar
Almarhum Presiden RI ke-2 Soeharto tiba untuk menghadiri pertemuan puncak Kerjasama Ekonomi Asia Pasifik (APEC) di Museum Antropologi dari Universitas British Columbia, Vancouver,Kanada (25/10/1997). (AFP PHOTO/John GIBSON)

Di era kepemimpinan Soeharto, ada pula Cut Zahara Fona yang berhasil menipu. Perempuan asal Aceh ini diketahui bahkan tak lulus SD.

Kali ini yang menjadi korban adalah sang Wakil Presiden (Wapres) Adam Malik. Cut Zahara Fona mengaku janin yang ada dalam perutnya bisa berbicara, bahkan mengaji.

Kejadian itu berlangsung di akhir 1970-an. Kedua pemimpin negara itu pun tertarik dengan fenomena Cut Zahara tersebut. Bahkan, Menteri Agama saat itu juga memberikan komentar di media massa.

Orang-orang juga sempat beramai-ramai menemui Cut Zahara untuk menyaksikan keajaiban tersebut. Masyarakat bahkan rela antre untuk menempelkan telinganya ke perut si ibu demi mendengarkan suara sang janin.

Dan ajaib, dari perut itu memang terdengar suara orang bicara, kadang bahkan mengaji Al Quran. Berita aneh itu pun menyebar dan dimuat media massa.

Sejumlah ulama yang dimintai pendapat tentang keanehan tersebut memberikan pendapat yang cenderung membenarkan berita aneh tersebut.

Ulama kelas satu Indonesia umumnya berpendapat, janin dalam perut bisa mengaji merupakan bukti kekuasaan Tuhan. Kun fayakun, bila Tuhan menghendaki apa pun bisa terjadi. Begitu tanggapan para ulama.

Namun hal berbeda disampaikan Kakanwil Kesehatan DKI Dr Herman Susilo. Dr Herman menyatakan, janin bisa mengaji merupakan hal yang tidak mungkin.

Sebab, bayi dalam kandungan tidak dapat membuka mulut atau bernafas normal, sehingga tak akan dapat mengeluarkan suara.

Karena melawan arus, Dr Herman sempat diancam akan dibunuh oleh orang-orang fanatik yang mempercayai bayi dalam perut bisa mengaji.

Tetapi terbukti Dr Herman Susilo lah yang benar. Bayi ajaib yang bisa membaca Al Quran ketika masih dalam rahim ibunya adalah bohong.

Hal itu diketahui karena akhirnya, Tim Medis RSPAD, Ikatan Dokter Indonesia, Kejaksaan Agung, dan Polri turun tangan.

Saat hendak diperiksa oleh Tim Ikatan Dokter Indonesia di RSPAD Gatot Subroto pada 13 Oktober 1970, Cut Zahara Fona mengatakan bayinya menolak. Namun, ia diperiksa di RSPAD sepekan kemudian.

Tim dokter RSCM juga memeriksa Cut Zahara dan menyatakan tidak ada janin di rahim perempuan itu.

Aktivitas bayi ajaib itu terhenti setelah tape recorder yang dipasang di dalam pakaian Cut Zahara ditemukan Polisi Komdak XIII, Kalimantan Selatan, yang memburunya di Kampung Gambut, 14 kilometer dari Kota Banjarmasin.

Polisi menyita tape recorder EL 3302/OOG serta kaset rekaman suara tangisan bayi dan bacaan ayat-ayat suci Al Quran.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur

Gus Dur
Perbesar
Abdurrahman Wahid

Kembali terjadi berita bohong atau hoaks yang merebak di era Presiden KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Kali ini, seorang pria bernama Soewondo yang berhasil membobol Yayasan Dana Kesejahteraan Karyawan (Yanatera) Badan Urusan Logistik (Bulog) senilai Rp 35 miliar.

Soewondo saat itu dapat leluasa beraksi karena berprofesi sebagai tukang urut Presiden. Hal tersebut membuatnya memiliki akses kekuasaan serta menjual nama para petinggi negara. Aksi Soewondo akhirnya ketahuan. Dia kemudian melarikan diri. Namun, Polda Metro Jaya berhasil melacak persembunyian Soewondo.

Soewondo kemudian ditangkap setelah ditemukan di salah satu tempat di kawasan Puncak, Jawa Barat. Dia divonis dengan hukuman 3,5 tahun.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Megawati Soekarnoputri

Megawati Soekarnoputri menyampaikan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa-mahasiswi Universitas Soka, Tokyo, Jepang, Rabu (8/1/2020).
Perbesar
Megawati Soekarnoputri menyampaikan orasi ilmiah di hadapan mahasiswa-mahasiswi Universitas Soka, Tokyo, Jepang, Rabu (8/1/2020). (foto: istimewa)

Di era kepemimpinan Presiden Megawati Soekarnoputri, sempat beredar kabar adanya harta karun milik Prabu Siliwangi yang berada di pelataran Istana Batutulis, Bogor. Menteri Agama Said Agil Al-Munawar pun bersikeras melanjutkan penggalian di Situs Batutulis.

Penggalian tersebut mendatangkan protes dari berbagai kalangan, khususnya Kepala Kantor Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Endjat Djaenuderajat. Sejumlah warga Bogor juga mengecam penggalian lokasi prasasti Batutulis peninggalan putra Prabu Siliwangi, Surawisesa.

Sekelompok warga menempelkan pamflet bertuliskan, "Mbah Dukun, Tolong Sembur Said Agil, Biar Sadar" dan "Kami Warga Batutulis Tetap Akan Mempertahankan Prasasti Ini. Barangsiapa Berani Melanjutkan Penggalian, Kami Akan Bertindak Brutal".

Dan hingga kini, harta karun Batutulis memang tak terbukti kebenarannya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Susilo Bambang Yudhoyono (SBY)

20161102-Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Gelar Jumpa Pers di Cikeas-Bogor
Perbesar
Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menggelar jumpa pers di Cikeas, Bogor, Rabu (2/11). Presiden ke-6 RI itu menyampaikan tanggapannya terkait berbagai isu nasional, keamanan dan politik. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Di zaman Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), sempat ada skandal banyu geni. Banyu geni ini adalah dugaan penipuan penggunaan air sebagai bahan bakar.

Proyek banyu geni ini dimulai saat ada penelitian untuk memanfaatkan air sebagai bahan bakar. Presiden SBY kala itu merestui jalannya proyek tersebut. Proyek tersebut kemudian dikenal dengan sebutan blue energy.

Dasar pemikirannya adalah hidrogen yang merupakan unsur dalam air dapat dijadikan bahan bakar. Namun, air harus disosiasi untuk memisahkan hidrogen atau disenyawakan dulu dengan karbon maupun karbon dan oksigen.

Usul punya usul, instalasi proyek banyu geni di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dibongkar. Isi instalasi itu ternyata cuma berupa kotak berisi kabel besar dan variac (transformator auto).

Lagi-lagi isu menghebohkan itu tak terbukti atau hanya sekedar hoaks. Bahkan, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta memperkarakan Joko Suprapto yang merupakan pelopor riset itu.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Joko Widodo atau Jokowi

Presiden Joko Widodo (Jokowi)
Perbesar
Menyambut tahun 2021, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan Indonesia mampu bangkit dari pandemi COVID-19. (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Di era kepemimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi, ada sejumlah berita bohong atau hoaks yang sempat menggemparkan.

Nama Dwi Hartanto sempat membuat harum bangsa Indonesia pada 2017 lalu. Sebagai seorang mahasiswa yang mengenyam pendidikan tinggi di Belanda, pemuda itu mengaku telah mendulang segudang prestasi di bidang aeronautika. Kabar prestasinya itupun banyak dimuat di berbagai media di Tanah Air.

Bahkan kepada Liputan6.com medio Februari lalu, Dwi mengaku telah menamatkan studi doktoralnya di TU-Delft bidang kedirgantaraan, dengan beasiswa dari pemerintah Belanda.

Saat itu, tim Liputan6.com berusaha mewawancarai Dwi lewat Skype. Dia mengaku tengah sibuk berada di Boston, AS dan berjanji akan segera memberi kabar perihal waktu wawancara.

Pemuda itu juga mengaku mengikuti kompetisi riset teknologi kedirgantaraan bergengsi di Jerman pada Juni 2017, yang diikuti oleh ESA (Eropa), NASA (AS), DLR (Jerman), ESTEC (Belanda), JAXA (Jepang), UKSA (Inggris), CSA (Kanada), KARI (Korea), AEB (Brazil), INTA (Spanyol), dan negara-negara maju lain. Dan ia mengaku berhasil memenangi kompetisi itu.

Dwi mengklaim berhasil 'menyikut' seluruh lawan dan sukses duduk di puncak podium tertinggi dalam bidang bidang kategori riset Spacecraft Technology.

Ia memenangi kompetisi itu dengan mengusung riset yang berjudul "Lethal weapon in the sky" atau senjata yang mematikan di angkasa. Dwi juga mengaku, dari hasil riset tersebut, beberapa teknologi utama sudah berhasil ia patenkan bersama timnya.

Alih-alih bisa mewawancarai Dwi karena tarik-ulur dan segala dalih sibuk, sebuah kabar tak enak datang dari Belanda terkait segala pengakuan pemuda itu.

Segala kabar harum semerbak yang Dwi klaim hanyalah sebuah informasi palsu semata. Ia mengaku, sejumlah prestasi ini dan itu yang telah ia klaim hanyalah kebohongan.

Lalu pada 2018, Indonesia digegerkan dengan viral foto wajah aktivis perempuan Ratna Sarumpaet dengan muka bengkak beredar di media sosial.

Ketika itu, kecaman dan kutukan pun mengalir dari para politikus koalisi capres cawapres nomor urut 02 Prabowo Subianto-Sandiaga Uno. Tuduhan kekerasan karena perbedaan politik sempat mencuat.

Dalam pengakuannya kepada sejumlah pihak, Ratna Sarumpaet mendapat kekerasan fisik pada 21 September 2018 usai menghadiri sebuah acara di Bandung.

Dia mengaku diseret dari taksi yang ditumpangi, dipukuli oleh sejumlah orang, dan dibuang tak jauh dari Bandara Husein Sastranegara. Kabar itu baru heboh 10 hari kemudian saat foto itu beredar.

Ratna Sarumpaet akhirnya mengakui berbohong telah dianiaya. Dalam jumpa pers pada Rabu, 3 Oktober 2018 di rumahnya, Ratna Sarumpaet pertama menuturkan pertama kali mengarang cerita itu kepada anaknya saat mengetahui wajahnya lebam.

Menurut Ratna, saat itu anaknya bertanya mengapa wajahnya lebam. Dia langsung menjawab dipukuli orang.

Ratna mengakui wajahnya nampak babak belur karena usai menjalani operasi sedot lemak pipi kiri di RS Bina Estetika pada 21 September 2018 lalu.

Kemudian, pada 2020, youtuber Ferdian Paleka menjadi sorotan karena video prank membagikan sembako berisi sampah di Kota Bandung, Jawa Barat.

Tak lama, Ferdian Paleka bersama dua rekannya yang lain yakni Tubagus Fahddinar dan M Aidil ditetapkan sebagai tersangka kasus konten video bermuatan penghinaan.

Setelah ditangkap tim gabungan dini hari tadi, Ferdian Paleka ditetapkan sebagai tersangka dengan Pasal 45 Ayat 3 Undang-undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Selain Pasal 45 UU ITE, para tersangka juga dijerat dengan dua pasal tambahan yaitu Pasal 36 dan Pasal 51 ayat 2 UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE.

Masih di Mei 2020, nama Muhammad Nuh atau M Nuh santer menjadi perbincangan publik di Jambi. Pria yang memenangkan lelang motor listrik Presiden Jokowi dalam konser amal itu seketika viral dan menghiasi jagat media sosial.

Yang pertama, ia viral karena berhasil memenangkan lelang motor listrik Gesits bertanda tangan Jokowi. M Nuh menawar motor listrik itu dengan nilai fantastis mencapai Rp2,5 miliar, mengalahkan pengusaha dan politikus ternama.

Usut punya usut ternyata sosok M Nuh bukanlah seorang pengusaha, melainkan dirinya seorang buruh harian lepas.

Ia sendiri memang warga yang tinggal di Kampung Manggis, Kecamatan Pasar, Kota Jambi seperti informasi saat lelang sebelumnya.

Berdasarkan keterangan Nuh, dia mengaku tidak mengetahui jika acara tersebut adalah acara lelang yang ditayangkan secara langsung di TVRI dalam konser 'Berbagi Kasih Bersama Bimbo' pada Minggu 17 Mei 2020.

M Nuh kala itu justru malah minta perlindungan pihak berwajib. Karena takut akan ditagih setelah memenangkan lelang motor tersebut.

Kisah Ferdian Paleka kembali berulang. Kali ini video prank berjudul ‘Prank Bagi Bagi Daging ke Emak-Emak Isinya Sampah #THEREALPRANK’ diposting di channel Youtube Edo Putra Official menyeret Edo Putra dan rekannya ke Mapolrestabes Palembang.

Video berdurasi 11,56 menit tersebut sudah ditonton lebih dari 600 ribu. Channel Youtube Edo Putra Official tersebut, juga sudah diikuti sekitar 10,3 ribu subscriber.

Ternyata, video prank berisi sampah ini pernah dilakukan Edo Putra sebelumnya. Pada 25 Mei 2020 lalu, Youtuber Palembang ini mengunggah video berjudul ‘Prank Bagi-bagi THR ke Bocil Isinya Sampah’.

Edo dan seorang rekannya membagikan amplop kepada empat orang remaja di dua lokasi berbeda. Setelah membagikan amplop tersebut, keduanya meninggalkan sasaran prank.

Terakhir, baru-baru ini, aksi sosial keluarga pengusaha asal Kabupaten Aceh Timur, Nanggroe Aceh Darussalam (NAD), membuat tercengang warga Sumatera Selatan (Sumsel).

Pasalnya, keluarga mendiang Akidi Tio, salah satu pengusaha sukses asal Kota Langsa Kabupaten Aceh Timur NAD, menyumbangkan uang dengan jumlah yang fantastis.

Bantuan berupa dana segar sebesar Rp 2 triliun, disalurkan melalui dokter keluarga mendiang Akidi Tio, Prof Hardi Darmawan, pada hari Senin pagi 26 Juli 2021.

Dan pada hari ini, Senin 2 Agustus 2021, anak bungsu Akidi Tio, Heriyanti dijemput langsung oleh Dir Intelkam Polda Sumsel Kombes Pol Ratno Kuncoro.

Heriyanti ditangkap terkait dengan bantuan Akidi Tio Rp 2 triliun untuk penanganan Covid-19 yang dijanjikan cair hari ini namun tidak ada.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Prank Sumbangan Rp 2 Triliun Anak Akidi Tio

Infografis Prank Sumbangan Rp 2 Triliun Anak Akidi Tio. (Liputan6.com/Abdillah)
Perbesar
Infografis Prank Sumbangan Rp 2 Triliun Anak Akidi Tio. (Liputan6.com/Abdillah)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya