Menkes Budi Gunadi Sebut Butuh Waktu Atasi Pandemi

Oleh Muhammad Radityo Priyasmoro pada 02 Agu 2021, 15:40 WIB
Diperbarui 02 Agu 2021, 15:40 WIB
Menkes Budi Gunadi Sadikin tentang pengadaan vaksin COVID-19. (Foto: jabarprov.go.id)
Perbesar
Menkes Budi Gunadi Sadikin tentang pengadaan vaksin COVID-19. (Foto: jabarprov.go.id)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin mengatakan, pandemi Covid-19 membuat masyarakat harus mengubah perilakunya. Dia pun mengingatkan, berdasarkan sejarah yang ada, pandemi tidak mungkin selesai dalam waktu satu tahun.

"Bahkan pandemi polio, malaria, HIV, baru bisa selesai setelah puluhan hingga ratusan tahun," kata Budi secara virtual dalam pelatihan asisten tenaga kesehatan (Nakes) yang digelar DPP PDIP, Senin (2/8/2021).

Dia menjelaskan, pandemi diikuti oleh perubahan perilaku manusia. Pandemi black death, dirinya mencontohkan, menghasilkan perubahan perilaku manusia yang wajib memastikan selalu bersih, memakai sabun, dan lain-lain. Pandemi HIV/AIDS yang telah membunuh 50 juta orang, diikuti perubahan perilaku orang dalam berhubungan fisik/seksual.

"Jadi semua pandemi itu dari pesan Yang di Atas untuk menyampaikan bahwa manusia itu harus melakukan perubahan perilaku. Saat ini, istilah kita itu protokol kesehatan. Dan itu yang paling penting," kata Budi.

Menyambung hal itu, Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris, yang juga jadi pembicara di pelatihan itu, mengatakan Indonesia masih berjuang melawan pandemi covid. Negara kita saat ini menjadi peringkat ke-14 di dunia untuk jumlah korban yang meninggal, hingga mencapai 94 ribuan.

"Yang jelas, virus Covid-19 membutuhkan inang untuk bisa hidup. Dan manusia menjadi inang yang efektif. Semakin Semakin tinggi intensitas pergerakan manusia, semakin cepat juga virus itu bergerak," kata dia.

Charles mengevaluasi, pembatasan mobilitas yang sudah dilaksanakan memang cenderung menurunkan angka perawatan pasien Covid di di Jawa-Bali. Namun dia mengingatkan, harus juga diantisipasi kenaikan untuk luar Jawa-Bali.

Dirinya mengatakan, pihaknya mengapresiasi Pemerintah yang membuat berbagai terobosan penting. Misalnya, untuk memastikan akses masyarakat ke obat-obatan, dilakukan pembagian gratis paket obat covid untuk yang bergejala ringan dan OTG. Lalu program telemedicine sehingga pasien isolasi mandiri bisa berkonsultasi dan dipastikan dalam kondisi penyembuhan.

"Pandemi ini tak bisa segera selesai. Maka pemerintah harus bekerja keras untuk meningkatkan kemampuan dalam menyediakan oksigen, obat-obatan hingga meningkatkan fasilitas kesehatan yang ada," kata Charles.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Terus Berkomitmen

Sementara, Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto mengatakan, bahwa pihaknya berkomitmen untuk bergotong royong bersama Pemerintah dan seluruh elemen bangsa dalam menghadapi pandemi covid-19. Sejak Februari 2020 pandemi covid-19 muncul di Indonesia, Ketua Umum Megawati Soekarnoputri sudah mengeluarkan instruksi mengenai penanganan pandemi.

Sejak saat itu, PDIP sudah bergerak membangun berbagai posko kesehatan hingga saat ini. Termasuk berbagai dapur umum yang terus bekerja. PDIP juga menginstruksikan para kepala daerahnya agar mengikuti instruksi Pemerintah Pusat melaksanakan refocusing anggaran dengan baik.

Selain itu, Megawati juga menginstruksikan agar dilaksanakan penanaman 10 tanaman pendamping beras, demi memastikan kebutuhan pangan masyarakat tetap terpenuhi. Kini, PDIP melakukan pelatihan khusus asisten nakes.

"Kami mengajak agar mari membangun optimisme bagi penderita covid. Ini penting. Rata-rata orang sehat itu karena secara mental memiliki keyakinan kita bisa kalahkan covid ini. Yang komorbid, memang harus waspada. Tapi bukan berarti tak bisa sembuh," kata Hasto.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya