Keringat dan Air Mata demi Kejayaan

pada 01 Agu 2021, 23:45 WIB
Diperbarui 25 Sep 2021, 00:09 WIB
ilustrasi Gebrak Tokyo
Perbesar
Tiga lifter Indonesia meraih medali di Olimpiade Tokyo 2020. (Liputan6.com/Abdillah)

Jakarta - Eko Yuli Irawan duduk tenang, menunggu giliran. Matanya fokus. Targetnya cuma satu, medali emas Olimpiade Tokyo 2020. Baginya itu harga mati!

Begitu dipanggil, dengan mantap Eko naik ke atas panggung Tokyo International Forum, Minggu (25/7/2021), tepat sehari setelah ulang tahunnya yang ke-32. Langkahnya tegap, lalu dia mengambil ancang-ancang.

Sambil mengatur napas, Eko berusaha menyelesaikan kesempatan ketiga dengan angkatan clean & jerk seberat 177kg. Ini strategi Eko demi mengalahkan selisih margin dengan rivalnya, Li Fabin, lifter China yang sudah unggul. Sayang, Eko tak berhasil.

Selepas lomba, Eko melakukan sesi wawancara virtual dengan Erick Thohir selaku anggota International Olympic Committee (IOC). Disiarkan Indosiar, Eko membuka percakapannya dengan kata "Maaf" yang merujuk dirinya gagal memberikan medali emas Olimpiade Tokyo 2020.

"Saya mohon maaf pak, masih ini (perak)," ujar Eko, sambil merapatkan kedua telapak tangannya di dada, tanda hormat.

Erick langsung memotong. Rasa-rasanya, memang tidak pantas seorang juara mengucapkan kata maaf. "Enggak (jangan minta maaf), yang penting kamu konsisten dan men-challenge diri kamu. Saya apresiasi dan salut sama kamu, kamu oke dari (Olimpiade 2012) London dulu terus Asian Games dan sekarang," kata Erick Tohir.

"Tahun depan masih ada Asian Games, tetap semangat ya. Eko ini legenda, dia hebat, dia meraih empat medali di seluruh olimpiade-nya," Erick memuji.

Ya, Eko memang mesti rela membawa pulang medali perak angkat besi kelas 61kg Olimpiade Tokyo, dengan total angkatan 302kg dengan snatch 137kg dan clean & jerk 165kg. Medali emas melayang ke tangan Li Fabin yang punya total angkatan 313kg.

Padahal, barangkali kalau ada atlet yang paling mengidamkan medali emas Olimpiade, ya Eko Yuli orangnya. Ini keikutsertaan keempatnya di pesta olahraga sejagat, di mana tiga edisi Olimpiade sebelumnya ia selalu naik podium tanpa sekalipun merebut emas.

Eko Yuli meraih perunggu di Beijing 2008 dan London 2021. Di Olimpiade Rio 2016, Eko Yuli mampu menyabet perak. Mimpinya di Tokyo 2020 jelas emas, mengingat usianya yang kini telah menginjak 32 tahun, tapi mimpi tinggal mimpi.

Berulangkali Eko meminta maaf karena kembali menyumbang perak. Permintaan yang mungkin tak seharusnya dilakukan, setelah apa yang sudah ia berikan demi berkibarnya sang Merah Putih di pentas dunia. Bahkan, sebutan legenda hidup angkat besi Indonesia pantas disematkan kepada Eko Yuli. 

Kucuran Keringat dan Air Mata

Eko Yuli Irawan
Perbesar
Atlet angkat besi, Eko Yuli Irawan, saat sesi latihan di Pelatnas angkat besi, Jakarta. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Tak banyak yang tahu beratnya perjuangan Eko merebut kejayaan di Olimpiade 2020. Tak hanya kucuran keringat yang terperas karena kejar kerasnya, airmata pun tumpah karena Eko sempat menderita sakit dua bulan sebelum berangkat. Meski begitu, tekad Eko sudah bulat. Ia harus tampil di Tokyo.

Dengan jam terbang tinggi, Eko tahu apa yang harus dilakukan. Ia juga punya strategi khusus mengatur porsi latihan.

Eko menjelaskan, jika untuk event besar seperti Olimpiade, dia berlatih dengan durasi satu hari, satu sesi. Dari H-7, setiap hari satu sesi, dan dibatasi 2 jam. "Satu hari sebelum tanding, saya baru istirahat total. Kalau untuk latihan angkat bebannya, semakin mendekati hari pertandingan, semakin menurun. Ini supaya lebih banyak istirahat, simpan tenaga dan jaga kondisi badan pas hari pertandingan," kata Eko kepada Liputan6.com.

Tak hanya sakit, Eko juga sempat kelebihan berat badan sekitar 9kg sebelum Olimpiade. Jadi, ia harus mengatur dietnya, sambil mempertahankan pola latihan menuju Hari-H.

"Makan sebenarnya normal, cuma sebulan sebelum pertandingan mulai diatur. Dikurangi atau diganti karbohidratnya. Lebih banyak protein dan sayuran. Kurangi santan dan yang berminyak. Boleh sih, tapi jangan terlalu sering," ujarnya.

Eko menuturkan, kalau soal latihan, dia tidak pernah putus. "Seperti dari Olimpiade pulang ini, langsung persiapan PON. Jadi menyambung terus sebenarnya. Saya tidak pernah istrahat total atau lima bulan sebelum event baru latihan, enggak boleh gitu," ujarnya, lagi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Kehilangan Masa Remaja

Foto: Eko Yuli Irawan Persembahkan Medali Kedua bagi Indonesia Setelah Sabet Perak di Cabang Olahraga Angkat Besi Olimpiade Tokyo 2020
Perbesar
Eko Yuli Irawan (Foto: AFP/Vincenzo Pinto)

Pengorbanan Eko menuju sukses memang begitu besar. Ia harus kehilangan masa remajanya lantaran hari-harinya dihabiskan dengan berlatih. Ketika anak-anak muda lainnya asyik nongkrong, jalan-jalan atau main ke mal, Eko justru berada di gym dan berlatih.

Menurut Eko, jalan menuju sukses tak pernah mudah, tapi ia percaya tekad kuat dan konsistensi, pasti akan membuahkan hasil. "Semuanya saya korbankan demi tujuan di depan," ucap dia.

Melalui angkat besi, Eko ingin mengangkat derajat keluarga. Bapaknya, Saman, seorang tukang becak. Sementara ibunya, Wastiah, jualan sayur.

Eko menyebut, mungkin orang hanya melihat hasilnya saja. Mereka tidak merasakan, betapa beratnya dia memperjuangkan impian. "Orang-orang di luar tahunya saya sekarang enak, dapat medali. Bagi orang yang tahu perjuangannya mendapatkan hasil, pasti pahamlah kerja kerasnya gimana," ujarnya.

Perjalanan Eko menjadi atlet angkat besi berawal saat ia menyaksikan sekelompok orang berlatih di sebuah klub di daerahnya. Lama kelamaan Eko tertarik. Pelatih klub tersebut pun akhirnya mengajak Eko ikut berlatih.

Berbekal izin orang tua, Eko mulai mengakrabkan diri dengan angkat besi. Eko merintis prestasinya saat tampil sebagai lifter terbaik di Kejuaraan Dunia Yunior 2007, di mana saat itu ia meraih medali emas. Sejak itu ia melanjutkan kariernya dengan gemilang.

"Sepertinya sederhana, tidak nongkrong seperti orang lain, tidak main dan hanya fokus latihan, istirahat, latihan, istirahat. Tapi, setiap hari memang itu kesibukannya. Untuk prestasi tinggi, harus konsisten bertahun-tahun. Pengorbanannya di situ," Eko menuturkan.

Dia menambahkan, "Belum lagi pengorbanan harus jauh dari keluarga kalau sudah pelatnas. Itu berat sekali."

Lifter Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020
Perbesar
Lifter Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020 (Liputan6.com/Abdillah)

Eko Sempat Dihantam Cedera Serius

Layaknya atlet normal, Eko juga pernah mengalami cedera serius. Setidaknya empat cedera berat dialami pria asal Metro Lampung itu.

Yang paling parah ketika tulang keringnya retak jelang Olimpiade London 2012. Tapi, Eko berhasil menaklukkan rintangan tersebut.

"Saat itu (2012), kalau dipaksakan, bisa patah kaki saya. Butuh waktu 4 sampai 5 bulan untuk recovery dan istirahat total, sampai akhirnya bangkit lagi," ucap dia.

Meski kondisinya tak ideal, Eko sembuh tepat waktu. Ia kemudian berangkat dan sukses menyabet medali perak Olimpiade London 2012.

Jelang Olimpiade 2016 Rio de Janeiro, Eko lagi-lagi dibekap cedera. Kali ini lututnya yang bermasalah. Tapi, Eko tetap ngotot pergi dan berhasil meraih medali perak.

"Kalau cedera, apalagi parah, ya pasti psikis kena. Tapi ini bagaimana menjaga mental kita dan tetap fokus pada tujuan," ucap dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Masa Depan Cerah Angkat Besi

Foto: Menguras Emosi, Kumpulan Foto Ekspresi Para Olimpian di Olimpiade Tokyo 2020 Hingga Hari Ini
Perbesar
Foto yang diambil dengan kamera robot ini menunjukkan reaksi Windy Cantika Aisah dari Indonesia saat berlaga dalam kompetisi angkat besi 49kg putri pada Olimpiade Tokyo 2020 di Tokyo International Forum, Tokyo pada 24 Juli 2021. (AFP/Pool/Chris Graythen)

Sebelum Eko Yuli merebut perak, bendera merah putih lebih dulu dikibarkan atlet angkat besi lainnya, Windy Cantika Aisah di Olimpiade Tokyo 2020. Windy menyabet perunggu saat turun di kelas 49 kg putri dengan total angkatan 194kg di babak final yakni snatch 84 kg serta clean and jerk 110 kg.

Itu artinya, dari total lima lifter Indonesia yang tampil di Olimpiade, tiga di antaranya sukses meraih medali. Selain Eko dan Windy, Rahmat Erwin Abdullah juga meraih perunggu di kelas 73kg putra.

Sedangkan dua lifter lainnya, Deni dan Nurul Akmal tak berhasil meraih medali. Deni hanya bertengger di posisi kesembilan kelas 67kg. Sementara Nurul Akmal masuk lima besar kelas +87kg putri.

Windy adalah lifter yang menyumbang medali pertama untuk kontingen Indonesia di Olimpiade Tokyo 2020. Usia Windy baru menginjak 19 tahun. Ia adalah masa depan angkat besi Indonesia.

Keberhasilan Windy meraih medali Olimpiade Tokyo sebenarnya sudah diprediksi pelatih berdasarkan hasil dalam turnamen kualifikasi pada April dan Mei lalu. Tapi, Windy sempat demam panggung dan kurang optimal saat dua kali gagal melakukan angkatan snatch, akibat kurangnya waktu pemanasan saat pertandingan.

Windy Cantika merupakan anak dari Siti Aisyah, atlet angkat besi putri Indonesia era 1980-an. Sang ibu yang kerap menceritakan pengalamannya menjadi atlet angkat besi nasional membuat Windy terinspirasi.

Gadis kelahiran 11 Juni 2002 itu pun bergabung dengan klub angkat besi ketika masih duduk di kelas 5 SD. Sejak itu, perkembangannya pesat dan prestasinya melesat. Windy juga dikenal pekerja keras, bahkan sampai sering ditegur pelatih karena tetap berlatih pada hari libur.

"Sampai sekarang masih (latihan ekstra), sampai sering dikasih tahu, karena katanya untuk umur Windy sekarang butuh istirahat, bukan pembentukan otot lagi," ujar Windy.

"Biasa latihan hari Senin, Selasa, Rabu, Jumat, Sabtu, jadi saat Kamis dan Minggu Windy suka minta tambahan," katanya.

Lifter asal Jawa Barat ini sebelumnya juga telah berprestasi di event bergengsi internasional seperti saat merebut medali emas Kejuaraan Asia Junior 2020 dan Kejuaraan Dunia Junior 2021 yang semuanya berlangsung di Taskent, Uzbekistan.

Kejutan Rahmat

Lifter Indonesia, Rahmat Erwin Abdullah (NOC Indonesia)

Tanda-tanda bahwa masa depan cerah angkat besi tanah air cerah adalah keberhasilan Rahmat Erwin Abdullah, lifter asal Makassar yang baru berusia 20 tahun itu meraih medali perunggu di kelas 73kg setelah tampil mengejutkan lewat total angkatan 342 kg.

Angkatan snatch Rahmat seberat 152 kg, lalu dia mencatatkan angkatan 190 kg ketika clean & jerk. Rahmat sanggup melampaui prediksi, di mana awalnya PB PABSI hanya menargetkannya bisa masuk posisi 8 besar.

Darah lifter mengalir deras di tubuh Rahmat. Sang ayah, Erwin Abdullah, mantan lifter nasional, demikian pula ibunya, Ami Asun Budiono, yang juga atlet angkat besi peraih medali emas SEA Games 1995 di Chiang Mai. Sementara Erwin Abdullah sempat lolos ke Olimpiade Athena 2004, tapi dilarang bertanding oleh dokter tim karena cedera punggung. Sukses Rahmat adalah angin segar sekaligus perwujudan mimpi sang ayah.

"Saya masih ingat terus kata-kata bapak. ‘Mat, kamu mau rasain yang pernah bapak rasain di Olimpiade. Soalnya, bapak belum sempat bertanding.’ Itu selalu diulang terus sama bapak akhir-akhir ini," kata Rahmat.

Rahmat menambahkan, "Saat itu, aku bilang gini. Aku mau rasain yang enggak pernah bapak alami, yakni bertanding di Olimpiade. Kini, aku tak cuma melakukannya di Olimpiade 2020 Tokyo, tetapi juga pulang membawa medali."

Ketika Eko Yuli telah berusia 32 tahun dan mungkin mulai memasuki penghujung karier, di sisi lain lifter-lifter muda mulai terus memperlihatkan geliat, kemunculan suksesor sang peraih 4 medali Olimpiade itu sangat terbuka. Boleh jadi, memang sudah saatnya angkat besi Indonesia membawa pulang emas di Olimpiade berikutnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Sport Science Menentukan

Pelatnas Angkat Besi SEA Games 2019
Perbesar
Atlet Pelatnas angkat besi, Windy Cantika, saat berlatih di Jakarta. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Angkat besi jelas bukan cabang olahraga yang populer. Padahal, ini adalah salah satu dari sedikit olahraga yang konsisten meraih medali untuk Indonesia di ajang Olimpiade. Rasanya, kita perlu mencetak seorang superstar dari cabor ini. Angkat besi juga pantas memperoleh perhatian dan sorotan lebih, mengingat pencapaian mereka selama ini yang tidak main-main di level internasional. Suksesor Eko Yuli mesti dilahirkan.

Namun, landasan cabor angkat besi berprestasi internasional bukan cuma perkara atletnya saja. Di era seperti sekarang, pelibatan sport science melalui teknologi dan ilmu kedokteran menjadi elemen penting yang dapat memengaruhi raihan atlet di panggung sebesar Olimpiade. Dari ahli gizi, dokter spesialis kedokteran olahraga, fisioterapis, sampai measure bisa berkolaborasi dengan tim pelatih demi memaksimalkan potensi terbaik para atlet.

Hal ini pula yang membuat sport science diputuskan masuk ke Grand Design Keolahragaan Nasional yang disusun Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) tahun ini. Menpora Zainudin Amali menekankan perlunya sport science untuk menghasilkan prestasi. Dia berpendapat sport science sangat berguna untuk mengetahui kekuatan dan kelebihan seorang atlet.

"Tidak bisa menciptakan atlet secara instan, tidak bisa by accident, melainkan harus dengan kerja keras dan waktu yang panjang," katanya dalam uji publik grand design keolahragaan nasional, 12 November 2020.

Butuh Dana Besar

Atlet angkat besi, Deni,
Perbesar
Atlet angkat besi, Deni, saat latihan di Pelatnas angkat besi, Jakarta. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Pelatih tim angkat besi Indonesia, Dirja Wihardja, mengungkapkan, sesungguhnya penerapan sport science di tanah air perlu ditingkatkan lagi. Untuk bisa melakukan itu, dia mengakui perlu biaya sangat besar, konsistensi, serta kontinuitas.

Menurut Dirja, salah satu yang perlu ditingkatkan dari sport science di angkat besi yakni mengenai pendampingan. Dia ingin di masa depan, elemen-elemen dalam sport science ini lebih melekat ke atlet dan pelatih.

"Kita ibaratnya masih semi (penerapan sport science) ya. Kita menerapkan sport science-nya belum total. Tapi, setidaknya kita sudah melakukan. Seperti ahli gizi ada dokternya, measure-nya, kita sudah ada. Kemudian untuk pelatihan conditioning sudah ada. Cuma memang mungkin belum maksimal ya," beber Dirja ketika dihubungi Liputan6.com.

Untuk menjalankan program berkualitas kepada atlet seperti sport science, dana besar memang harus disiapkan. Sayangnya, anggaran untuk olahraga masih tergolong kecil. Selama ini pemerintah hanya mengalokasikan anggaran untuk pembinaan olahraga sekitar 0,03 persen dari APBN. Padahal, negara tetangga kita, Singapura, mau menyisihkan 4 persen dari anggaran negara mereka untuk olahraga.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besa Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI), Hadi Wihardja, mengatakan, pihaknya sudah menggunakan sport science, terutama untuk nutrisi para atlet dengan melibatkan ahli gizi yakni dr. Louise Kartika, MGizi, SpGK.

"Di nutrisi, sangat dibantu oleh dokter Tika. Dokter Tika membantu dari segi asupan makanan. Mesti makan apa anak-anak (atlet), diukur body mass-nya, otot, dan segala macam. Dan itu di-report kepada PB PABSI dan kepada para pelatih. Cuma memang untuk dibedah habisnya, belum maksimal mungkin. Itu yang akan kita kembangkan lagi," tutur Hadi kepada Liputan6.com.

Hadi menambahkan, penerapan sport science mesti komplet. Untuk alasan itu, PB PABSI meminta bantuan dokter spesialis kedokteran olahraga yaitu dr. Andi Kurniawan, Sp.KO, yang memiliki keahlian khusus dalam melayani pemulihan serta pencegahan cedera maupun penyakit yang berkaitan dengan olahraga.

Andi Kurniawan membantu recovery para atlet angkat besi dan memiliki tim untuk melatih conditioning. Dokter spesialis kedokteran olahraga juga memberi masukan mengenai latihan apa yang diperlukan untuk mengetahui otot yang lemah dar para atlet. "Jadi memang peranannya penting dan murni saya tidak bilang, tidak bisa berdiri sendiri, harus berkolaborasi dengan tim kepelatihan," ucap Hadi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Atlet Angkat Besi Makannya Apa Sih?

Pelatnas Angkat Besi Asian Games 2018
Perbesar
Lifter Indonesia di Olimpiade Nurul Akmal (kanan) memasang ikatan pelindung jari jelang melakukan angkatan pada tes prestasi pelatnas angkat besi di Jakarta. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Tak sedikit yang bertanya-tanya, agar bisa mengangkat beban ratusan kilogram seperti para atlet angkat besi, apa yang biasa mereka konsumsi? Lalu, bagaimana pula latihan dan pola hidup lifter sehari-hari?

Untuk atlet pelatnas seperti Windy Cantika, hari-harinya diisi dengan berlatih, makan, dan istirahat cukup. Selain itu, dia juga mengonsumsi suplemen setiap hari. Dalam sepekan, gadis berusia 19 tahun ini wajib mengikuti sesi latihan setiap Senin, Selasa, Rabu, Jumat dan Sabtu, sedangkan setiap Kamis dan Minggu ia libur.

"Pagi hari, Windy biasanya minum vitamin C dan saripati ayam. Siang hari, Windy minum minyak ikan dan CDR (suplemen) untuk tulang. Lalu malamnya, Windy minum obat tulang, vitamin B dan madu," ungkap Windy.

Sementara itu, menurut ahli gizi tim pelatnas angkat besi Indonesia, dr Louise Kartika, MGizi, SpGK, menu makanan para lifter memang diatur, termasuk bagaimana pengolahannya. Wanita yang akrab disapa Dokter Tika mengatakan, kebutuhan protein atlet angkat besi lumayan banyak, sehingga kualitas makanan menjadi penting.

Tika mengaku hanya mengajarkan cara makan dan cara mengontrol berat badan para lifter, serta makanan apa yang mesti dikurangi. Dia menjelaskan kepada para atlet angkat besi tidak boleh mengonsumsi makan tertentu yang bisa menyebabkan otot tidak tubuh dan lemak bertambah. Sebab, lemak yang banyak bisa mengurangi power sehingga tidak bisa mengangkat terlalu berat.

"Makanan-makanannya kaya protein kan ada daging, telur, ada ikan, ada ayam. Kemudian mereka pakai suplemen juga seperti protein shake. Cuma kalau sampai dijatahkan atau diberi per berapa gram, sebenarnya tidak," kata Dokter Tika saat dihubungi Liputan6.com.

Body Competition Analyzer

Atlet angkat besi, Nurul Akmal
Perbesar
Atlet angkat besi, Nurul Akmal, saat latihan di Pelatnas angkat besi, Jakarta. (Bola.com/M Iqbal Ichsan)

Dalam memantau secara berkala para lifter nasional, Tika menggunakan alat bernama Body Competition Analyzer. Dari Body Competition itu, dia bisa tahu apakah sang atlet terlalu banyak jajan, sehingga ototnya tidak besar dan malah lemaknya yang banyak. "Jadi saya bisa atur nih tiap-tiap anak," ucapnya.

Tidak cuma banyak protein, konsumsi karbohidrat, lemak, dan vitamin mineralnya para lifter juga mesti cukup. Masa recovery adalah yang terpenting bagi atlet angkat besi, terutama setelah latihan berat atau bertanding.

"Kalau habis latihan biasanya bentuknya (protein) liquid. Kemudian sebelum tidur, mereka ada yang dikonsumsi lagi nih untuk recovery panjangnya nih pada saat mereka tidur. Ototnya kan di-recovery nih sama badan kita. Itu ada kebutuhannya lagi. Biasanya protein sama karbohidrat. Tapi, ada micro nutrien lainnya juga musti dipenuhi juga," terangnya.

Tika membeberkan, kebutuhan nutrisi itu sangat personal dan tergantung pada umur, berat badan, serta jenis kelamin. Selalu itu, pemberian nutrisi juga ada penempatan waktunya, yang berkaitan dengan beban latihan sang atlet. Dalam angkat besi, beban latihan tiap hari atau tiap minggu seringkali berbeda.

Kepala Bidang Pembinaan dan Prestasi Pengurus Besa Perkumpulan Angkat Besi Seluruh Indonesia (PB PABSI), Hadi Wihardja, mengutarakan, di pelatnas memang latihannya mengikuti pola. Atlet senior dan pemula, kata Hadi, volume angkatannya tidak sama, itu yang kemudian memengaruhi asupan nutrisi mereka.

"Ada polanya. Minggu berat, minggu menengah, dan minggu ringan. Kalau minggu berat itu tidak sama semua atlet ya. Umumnya 20 ton sehari (minggu berat), menengah 15 ton, kalau ringan 5 sampai 10 ton. Itu dari segi volume ya," papar Hadi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

INFOGRAFIS

Infografis: Eko Yuli Irawan, Veteran Angkat Besi Peraih 4 Medali Olimpiade (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Infografis: Eko Yuli Irawan, Veteran Angkat Besi Peraih 4 Medali Olimpiade (Liputan6.com / Abdillah)
Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya