Mengungkap Dalang Seruan Demo Jokowi End Game

Oleh Delvira HutabaratMuhammad Radityo Priyasmoro pada 25 Jul 2021, 07:08 WIB
Diperbarui 25 Jul 2021, 09:19 WIB
Ilustrasi Demo
Perbesar
Ilustrasi Demo. (Freepik)

Liputan6.com, Jakarta - Kabar adanya rencana aksi demo di Istana Negara bertajuk Jokowi End Game viral di media sosial. Aksi itu disebut dilakukan sejumlah elemen masyarakat untuk menolak perpanjangan PPKM Darurat.

Melalui selebaran yang dilihat Liputan6.com, aksi bertajuk Jokowi End Game digelar pada Sabtu 24 Juli 2021. Aksi demo ke jalan ini disebut akan dilakukan long march mulai dari Glodok sampai di titik kumpul Istana Negara.

Untuk mengantisipasi itu, polisi bersiap dengan menurunkan personel gabungan sebanyak 3.385 orang. Ribuan personel itu sudah mulai disiagakan sejak pagi dan disebar ke sejumlah titik di Jakarta.

"Iya sudah mulai jam 07.00 pagi tadi sudah siaga. Ada di sekitaran Monas sampai sekitar DPR juga," jelas Karo Ops Polda Metro Jaya Kombes Marsudianto saat dikonfirmasi awak media, Sabtu (24/7/2021).

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus sebelumnya menyebut, aksi itu adalah hoaks. Dia meminta jangan ada pihak yang terprovokasi hal tersebut dan tidak egois dan melihat kondisi pandemi Covid-19 yang belum terkendali. Dia meminta kepada mereka untuk melihat kapasitas rumah sakit yang penuh dengan pasien Covid-19.

"Silakan kalau mau menyampaikan pendapat datang ke Polda Metro akan kita terima. Secara bijak untuk kita bisa hindari kerumunan supaya jangan jadi klaster lagi. Lihat rumah sakit kuburan udah penuh. Apa mau diperpanjang lagi PPKM ini. Sementara masyarakat mengharapkan supaya bisa relaksasi," kata Yusri di Polda Metro Jaya, Jumat 23 Juli 2021.

Polda Metro Jaya tengah memburu otak di balik penyebaran informasi di media sosial tentang seruan aksi nasional bertajuk 'Jokowi End Game'. Aksi demo yang dijadwalkan pada 24 Juli 2021 itu salah satunya untuk menolak kebijakan (PPKM).

"Nanti kita cari," kata Yusri Yunus kepada wartawan, Sabtu (24/7/2021).

Yusri menyakini informasi yang tersebar melalui media sosial adalah tidak benar. Sebab, petugas telah mengkonfirmasi kabar itu kepada organisasi masyarakat maupun ojek online bahwa mereka tidak terlibat dalam seruan aksi demo tersebut.

"Banyak flyer yang beredar di media sosial untuk mengajak demo di Jakarta. Beberapa organisasi seperti ojol dan organisasi yang lain mengatakan tidak ikut karena mereka sadar bahwa Jakarta ini tinggi angka Covid-19," ungkap Yusri.

Dia mengharapkan masyarakat bersabar dan mematuhi aturan PPKM Level 4 di Ibu Kota. Hal itu bertujuan agar setelah selesai dilaksanakan pada 25 Juli besok, pemerintah dapat memberikan kebijakan relaksasi.

"PPKM Level 4 sampai tanggal 25 besok harapan pemerintah akan melakukan relaksasi jika positivity rate turun, BOR di rumah sakit turun, Insyaallah akan terjadi, jadi relaksasi berjalan," imbuhnya.

 

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Ungkap 2 Kelompok Dalang Demo

Sementara itu Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud Md meminta rencana demo dan long march Jokowi End Game dilakukan secara virtual. Mahfud menyebut penyampaian aspirasi selama masa pandemi lebih baik tanpa demo di jalanan, melainkan melalui webinar hingga lewat media sosial.

"Pada prinsipnya pemerintah itu terbuka dan merespons segala aspirasi masyarakat, namun sebaikmya aspirasi dalam pandemi dsampaikan melakui jalur komunikasi sesuai prokes, misalnya melalui virtual meeting, webinar, dialog-dialog di televisi, happening art yang menjaga protokol kesehatan, melalui media sosial, dan sebagainya," kata Mahfud dalam konferensi pers daring, Sabtu (24/7/2021).

Dia mengungkap rencana demo Jokowi ini didalangi dua kelompok. Yaitu kelompok murni dan tidak murni. Mahfud meminta masyarakat hati-hati terhadap kelompok tidak murni yang dinilainya hanya memanfaatkan situasi.

"Ada kelompok tidak murni, masalahnya hanya ingin menentang saja memanfaatkan situasi, apa pun keputusan pemerintah diserang, itu ada. Kita harus hati-hati karena kelompok ini selalu melakukan provokasi dan menyatakan setiap kebijakan pemerintah itu salah," kata Mahfud.

Dia juga mengakui ada kelompok murni yang berdemo karena masalah ekonomi selama PPKM.

"Ada aspirasi masyarakat yang murni karena memang iya saya takut Covid-19 tapi gimana ekonomi? Itu aspirasi murni. Pemerintah mendengar aspirasi itu dan jadikan pertimbamgan," jelas Mahfud.

Mahfud mengaku pemerintah juga mengalami banyak dilema dalam memutuskan PPKM darurat dan penanganan Covid-19 di Indonesia.

"Ada dilema yang sangat kita rasakan dalam menangani Covid-19 ini," katanya.

Namun, ia mamastikan pemerintah mengambil kebijakan secara terbuka dan melalui berbagai analisis dan data.

"Tentu dilakukan dengan berbagai metode-metode ilmiah agar masalah ini bisa segera selesai," kata Mahfud.

Ia pun meminta agar masyarakat tetap tenang dan menjaga ketertiban selama pandemi.

"Mari jaga negara ini agar tetap menjadi kondusif sambil berusaha bersama-sama menyelesaikan berbagai persoalan terutama sekarang ini fokus persoalan kita adalah menyelesaikan Covid-19," pungkasnya.

Mahfud Md sebelumnya juga meminta semua pihak menyampaikan aspirasi seusai aturan yang ada. Saat PPKM ini, kata dia, aspirasi tidak harus disampaikan dengan turun ke jalan melainkan bisa secara tertulis atau media lainnya.

"Dalam kerangka itu mencari jalan yang baik bersama silakan sampaikan aspirasi, yang penting semua punya tujuan yang sama, yaitu menyelamatkan Indonesia. Aspirasi resmi tertulis melalui telepon, melalui media, dan melalui apa pun, yang penting semuanya ikut prosedur yang telah ditetapkan dalam rangka mencapai suatu tujuan," kata Mahfud lewat YouTube Kemenko Polhukam, Jumat malam 23 Juli 2021.

Mahfud meminta masyarakat tetap tenang dan menjaga ketertiban dan keamanan masyarakat. Menurutnya kondisi kondusif tanpa kerusuhan dibutuhkan untuk melawan pandemi.

"Kepada seluruh masyarakat diharapkan untuk tetap tenang dan menjaga kondisi ketertiban dan keamanan di wilayah masing-masing. Mari jaga negara ini tetap menjadi kondusif sambil berusaha bersama-sama menyelesaikan berbagai persoalan terutama yang sekarang ini fokus persoalan kita adalah menyelesaikan Covid," ucap Mahfud Md.

Jakarta Aman Terkendali

Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Yusri Yunus memastikan tidak ada demonstrasi bertajuk Jokowi End Game yang terjadi di Jakarta hari ini. Menurut dia, situasi Jakarta terbilang kondusif tanpa riak kerumunan besar yang dapat melanggar protokol kesehatan.

"Jakarta kondusif aman kok, kita lihat sendiri Jakarta kondusif hari ini. Nggak ada (demo), aman," kata Yusri saat dihubungi awak media, Sabtu (24/7/2021).

Terkait kabar enam orang diamankan sebelumnya, Yusri menyatakan semuanya telah dipulangkan. Dia mengakui, awalnya mereka sempat digelandang ke kantor polisi untuk diinterogasi. Menurut hasil interogasi, mereka diketahui hanya sekumpulan remaja pengangguran.

"Kan kita patroli, kita patroli bersama kita lihat orang kerumunan terus kita tanya (tapi) mereka enggak bisa jawab. Kita bawa dulu, kita edukasi, habis itu kita pulangkan, itu (mereka) pengangguran remaja gitu," jelas Yusri.

Diketahui, Yusri juga telah mengimbau kepada para komunitas ojek online alias ojol, pedagang kaki lima, mahasiswa dan aliansi masyarakat untuk tidak menimbulkan kerumunan di tengah pandemi.

Permintaan ini dinyatakan Yusri usai ramainya ajakan turun berunjuk rasa pada Sabtu 24 Juli 2021, untuk menolak perpanjangan PPKM Darurat untuk kali ketiga.

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya