DPRD Minta Pemprov Jakarta Prioritaskan Penanganan Covid-19 untuk Anak

Oleh Ika Defianti pada 24 Jul 2021, 11:21 WIB
Diperbarui 24 Jul 2021, 11:22 WIB
Vaksinasi Massal Anak Usia 12-17 Tahun di GBK
Perbesar
Seorang anak mendapatkan vaksin covid-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, Jakarta, Sabtu (3/7/2021). Pemprov DKI menggelar vaksinasi massal bagi anak usia 12-17 tahun di Stadion GBK selama dua hari, yakni pada 3-4 Juli 2021. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta Ketua Fraksi PSI Jakarta Idris Ahmad meminta Pemprov DKI Jakarta dapat memprioritaskan anak-anak dalam penanganan kasus Covid-19. Jakarta merupakan penyumbang kasus Covid-19 pada anak lebih dari 50 persen di Indonesia.

"Apabila orang tua diketahui positif, maka anak yang merupakan kontak erat. Orang tua tersebut wajib menjalani tes PCR sehingga langkah cepat penanganan dapat dilakukan," kata Idris dalam keterangan tertulis, Sabtu (24/7/2021).

Dia mengatakan, tanpa adanya bukti tes positif PCR, anak tidak mendapatkan obat-obatan dan vitamin. Idris juga menyebut orang tua dan masyarakat belum memiliki kesadaran bahwa anak memiliki potensi tertular hingga berisiko komplikasi.

Berdasarkan data Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) hingga 5 Juli 2021, kasus anak positif Covid-19 di Indonesia mencapai 140.877 kasus dengan konfirmasi meninggal hingga 556 anak.

"Pemprov DKI perlu menambah kapasitas ruang NICU dan PICU yang amat dibutuhkan untuk penanganan darurat pasien anak bergejala berat dan ini sangat terbatas jumlahnya," ucap dia.

Selain itu, Idris menyebut perlindungan juga harus dilakukan dengan melarang anak ke sejumlah fasilitas umum yang rentan penularan.

"Anak juga sama pentingnya dengan orang dewasa, jangan sampai mereka menjadi korban karena tidak mendapatkan perhatian. Kita harus hadir untuk anak-anak yang ditinggalkan ataupun terkena covid," tandas Idris.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pesan Dokter Reisa untuk Lindungi Anak Indonesia di Masa Pandemi Covid-19

Achmad Yurianto
Perbesar
Dirjen P2P Achmad Yurianto dan Duta Adaptasi Kebiasaan Baru Dokter Reisa Broto Asmoro menghadiri sesi Hari Anak Nasional 2020 di Media Center BNPB, Jakarta. Kamis (23/7/2020). (Dok Tim Komunikasi Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional/BNPB)

Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19, dokter Reisa Broto Asmoro menyampaikan rasa prihatinnya atas kondisi anak-anak Indonesia yang masih menghadapi situasi pandemi Covid-19.

Hingga Hari Anak Nasional 2021 ini, tercatat lebih dari 60 juta anak kehilangan masa indah di sekolah, sebagian bahkan tidak bisa melakukan pembelajaran jarak jauh karena fasilitas tidak tersedia.

Banyak anak yang kehilangan kesempatan bermain dan mengenal alam terbuka. Di dunia digital pun banyak ancaman bagi anak, baik soal perundungan atau tindakan bully, diskriminasi, hingga kekerasan verbal di media sosial.

"Tekanan dan beban mental saat menjalani pandemi pasti tidak mudah bagi anak-anak Indonesia, dan yang paling membuat sedih, beberapa dari anak Indonesia, kehilangan orangtua mereka yang tidak dapat diselamatkan, pada saat menderita Covid-19," tutur Reisa dalam keterangannya, Jumat (23/7/2021).

"Kami turut berduka cita atas kehilangan mereka, dan mendoakan yang terbaik, bagi mendiang ayah bunda yang mendahului kita. Semoga Tuhan memberikan kekuatan dan kesabaran bagi anak yang ditinggalkan. Justru pada masa pandemi, anak Indonesia harus makin kita lindungi, agar masa depan mereka, yaitu masa depan kita juga, jauh lebih baik," sambungnya.

Reisa berharap penambahan kasus harian Covid-19 bisa segera turun dengan signifikan. Kapasitas rumah sakit juga diupayakan maksimal untuk merawat pasien dengan gejala berat meskipun jumlahnya bertambah, dan angka kematian karena Covid-19 harus ditekan sampai serendah mungkin.

Sejak awal pandemi, pemerintah juga terus menguatkan testing, tracing, dan treatment atau 3T. Reisa mengatakan bahwa testing atau menguji seseorang positif atau negatif terhadap Covid-19 sangatlah penting agar pasien cepat dirawat, dibantu sembuh, dan jangan sampai menulari orang lain.

"Tidak semua orang memiliki kesehatan prima, misalnya orang lanjut usia yang sudah punya penyakit menahun, apabila tanpa sengaja tertular oleh orang yang membawa virus, bisa berakibat fatal. Tracing atau kegiatan melacak siapa saja yang dekat dengan pasien yang baru saja diketahui positif Covid-19, supaya kita tahu siapa saja yang tertular dan yang tidak," jelas Reisa.

"Treatment atau perawatan, bagi yang terkonfirmasi positif setelah melakukan testing dan tracing bisa segera kita periksa, untuk memutuskan apakah disarankan isolasi mandiri, dirujuk ke isolasi terpusat punya pemerintah, atau bagi yang punya penyakit peserta yang berbahaya, dirujuk segera di rumah sakit rujukan, agar dapat perawatan intensif," lanjutnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

POPULER

Berita Terkini Selengkapnya