Kasus Covid-19 Melonjak, Nadiem Makarim Diminta Tunda Pembelajaran Tatap Muka Terbatas

Oleh Yopi Makdori pada 24 Jun 2021, 11:30 WIB
Diperbarui 24 Jun 2021, 11:30 WIB
Siswa SD di Bekasi Kembali Sekolah Tatap Muka
Perbesar
Siswa saat mengikuti kegiatan belajar tatap muka di SDN Pekayon Jaya VI, Bekasi, Rabu (24/3/2021). Jumlah siswa pun dibatasi hanya 15 orang tiap kelas dan wajib mengenakan masker baik murid maupun guru. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Kepala Bidang Advokasi Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G), Iman Zanatul Haeri meminta Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi (Mendikbudristek), Nadiem Makarim untuk menunda rencana pembelajaran tatap muka terbatas yang rencananya akan dilakukan di bulan Juli 2021.

"Kami meminta Mas Menteri Nadiem menunda pembukaan sekolah dan PTM yang rencananya akan dilaksanakan pada pertengahan Juli 2021," kata Iman dalam keterangan tulis, Kamis (24/6/2021).

Seumpama pembelajaran tatap muka terbatas tak bisa dilakukan, dirinya berharap memberlakukan pembelajaran jarak jauh. Selain itu, Nadiem Makarim didesak juga menerbitkan aturan mengenai Masa Orientasi Sekolah (MOS) Tahun Ajaran 2021/2022 di masa pandemi Covid-19.

Aturan soal MOS selama pandemi, kata Iman, dibutuhkan sekolah guna menghadapi awal semester baru di tahun ajaran baru 2021/2022 pada Juli nanti. Supaya penyebaran Covid-19 di dunia pendidikan bisa ditekan.

"Oleh sebab itu, kami mendesak agar Kemdikbudristek segera menyiapkan pedoman MPLS/MOS di masa pandemik bagi sekolah. Sebab para siswa baru akan segera masuk, sekitar 2 minggu ke depan," jelas Iman.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Harus Aman

Iman menjelaskan, jika pedoman sudah ada, sekolah dapat segara menyiapkan konten MOS yang bermakna, aman, tetap kreatif, dan menggembirakan bagi siswa baru. Tentu ia mengingatkan supaya skema MOS mesti diselenggarakan secara daring.

Iman juga mengingatkan juga jangan sampai ada sekolah yang memaksakan siswanya masuk mengikuti MOS nanti. "Meskipun hanya tiga hari dan jumlah anaknya dibatasi. Jika dilakukan tentu sangat berisiko bagi nyawa dan kesehatan siswa, guru, dan keluarganya," kata dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓