Kemendikbudristek: Masyarakat Adat Cenderung Tidak Tersentuh Covid-19

Oleh Maria Flora pada 19 Jun 2021, 20:29 WIB
Diperbarui 19 Jun 2021, 20:29 WIB
FOTO: Antisipasi COVID-19 di Terminal Kampung Rambutan
Perbesar
Warga menjalani rapid test antigen di Terminal Bus Antar Kota Antar Provinsi Kampung Rambutan, Jakarta, Kamis (20/5/2021). Penumpang bus yang tiba maupun akan berangkat diwajibkan menjalani pengecekan bebas COVID-19 melalui rapid test antigen atau GeNose. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat Kemendikbudristek Sjamsul Hadi mengatakan masyarakat adat cenderung tidak tersentuh pandemi Covid-19.

"Pandemi ini banyak terjadi di perkotaan. Justru masyarakat di perkampungan bahkan masyarakat adat tidak tersentuh Covid-19," ujar Sjamsul seperti dilansir dari Antara.

Dia menambahkan masyarakat adat menjunjung tinggi kearifan lokal. Misalnya masyarakat Baduy di Kanekes, Banten dan masyarakat adat Dayak di Kalimantan.

"Banyak lokus masyarakat adat berada, pandemi tidak masuk ke dalamnya," ungkap Sjamsul.

Menurut dia, masyarakat dapat mengisolasi diri karena dengan kearifan lokal bisa menguatkan imunitas tubuhnya, kebutuhan nutrisi serta tidak tergoncang dengan adanya pandemi COVID-19.

"Melalui webinar ini, membuka wacana baru dan masyarakat bisa memanfaatkan kekayaan alam yang ada di Indonesia," kata Sjamsul. 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Pesan ke Masyarakat Lebih Berupa Instruksi

Sjamsul menambahkan, dalam pandemi, yang paling terasa kesenjangan pemahaman tentang Covid-19, karena cukup banyak kelompok yang mendatangi pusat belanja dan menimbulkan kerumunan.

Menurutnya, selama ini pesan yang disampaikan ke tengah masyarakat lebih berupa instruksi.

"Mungkin dengan pemahaman yang lebih baik tentang virus Covid-19, masyarakat dapat diajak untuk berpikir ilmiah berdasarkan sumber yang jelas sekaligus bisa mengatasi "infodemik" (informasi berlebihan yang beredar luas, sehingga membingungkan dan menyulitkan upaya penanganan wabah itu sendiri) yang terjadi," ujar Sjamsul. 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓