LSI Denny JA: Jokowi Bukan King Maker Pilpres 2024, Tapi Dukungannya Sangat Berpengaruh

Oleh Liputan6.com pada 17 Jun 2021, 23:45 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 23:45 WIB
20170113-Jokowi-Temui-Pelaku-Industri-Jakarta-AY
Perbesar
Presiden Joko Widodo memberi keterangan saat melakukan pertemuan dengan pelaku industri jasa keuangan di Istana Negara, Jakarta, Jumat (13/1). Jumlah UMKM di Indonesia terbilang cukup besar, yaitu lebih dari 50 juta UMKM. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA Adjie Alfaraby menilai, Presiden Joko Widodo tidak masuk kategori king maker untuk Pilpres 2024. Pasalnya, Jokowi bukan ketua umum partai politik dan tak memiliki partai.

"Dalam kategori king maker maka Jokowi bukan king maker karena Pak Jokowi tidak punya partai, bukan ketua umum partai tertentu sehingga arah koalisi kedepan sedikit banyak akan dipengaruhi ketua umum ketua umum partai politik," katanya dalam survei 3 king/queen maker Pilpres 2024 dan komplikasinya, Kamis (17/6/2021).

Menurutnya, koalisi partai-partai politik yang ada dalam pemerintahan ini menjaga dua hal yang sangat penting. Pertama, menjaga keseimbangan di pemerintahan sendiri lantaran mereka masuk sebagai koalisi pemerintahan.

"Jadi itu menjaga keseimbangan dalam pemerintahan termasuk menjaga keseimbangan ke Pak Jokowi," ucapnya.

Tapi di sisi lain, lanjut Adjie, anggota koalisi pemerintahan juga punya kepentingan untuk menang dalam Pileg 2024. Sehingga, mereka juga akan melihat siapa capres yang punya potensi untuk menang.

"Itu dalam konteks Jokowi bukan bagian king maker, karena king maker yang kita sebut adalah tokoh yang punya partai terutama yang tiketnya hanya tersisa 3/4 tiket lagi penuh bisa mencalonkan calon presiden," terangnya.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Dukungan Jokowi

Selain itu, bila bicara pengaruh secara elektoral, sangat bergantung dari seberapa besar approval rating Jokowi menjelang Pilpres 2024. Kata dia, semakin tinggi approval rating Jokowi jelang 2024 atau minimal stabil seperti hari ini maka siapa yang di dukung Jokowi akan punya pengaruh secara elektoral ke pemilih.

"Tapi kalau approval ratingnya menurun jelang Pilpres 2024 maka itu otomatis akan berpengaruh kepada siapa yang didukung Pak Jokowi, dan kondisi sudah terjadi pada Pilpres 2014, ketika itu Pak SBY sebagai presiden tidak lagi memiliki kekuatan endorsment yang kuat sama seperti ketika dia bertarung sebagai calon presiden di 2004 dan 2009," tandasnya. 

Reporter: Genan

Sumber: Merdeka

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓