LSI Denny JA: Peluang Airlangga Hartarto Tinggi Jika Jadi Cawapres 2024

Oleh Liputan6.com pada 17 Jun 2021, 22:07 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 22:07 WIB
FOTO: Kemristek Beri GeNose C19 kepada Kemenko Perekonomian untuk Deteksi COVID-19
Perbesar
Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan keterangan saat menerima GeNose C19 dari Menristek Bambang Brodjonegoro di Gedung Kemenko Perekonomian, Jakarta, Senin (22/3/2021). GeNose C19 diharapkan dapat semakin dikenal dan dimanfaatkan secara lebih masif. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI) Denny JA, Adjie Alfaraby, menilai tingkat popularitas atau pengenalan publik terhadap Airlangga Hartarto masih rendah bila maju sebagai Capres 2024. Menurutnya, dengan popularitas rendah maka belum ideal menjadi calon kepala negara.

"Airlangga Hartarto dari sisi komplikasinya adalah tingkat popularitas dari ketua umum partai Golkar ini masih cukup rendah. Mereka yang mengenal Airlangga masih di bawah 50 persen, ini belum ideal untuk seorang calon presiden karena tingkat pengenalan masih sangat rendah di bawah 50 persen," katanya katanya dalam survei 3 king/queen maker Pilpres 2024 dan komplikasinya, Kamis (17/6/2021).

"Tingkat elektabilitas Airlangga ini masih di bawah 50 persen, kita lihat datanya hanya di angka 5,3 persen, jadi masih di bawah 10 persen," sambungnya.

Namun, lanjut dia, peluang Airlangga sebagai capres akan naik ketika popularitasnya semakin tinggi. Artinya, pesona Airlangga bisa menjadi daya tarik bagi pemilih bila popularitasnya naik. Menurutnya, bila popularitas Airlangga di atas 80 persen maka ada potensi kenaikan elektabilitas.

"Walaupun kita menyadari kenaikan elektabilitas itu harus didukung juga dengan kenaikan atau konsistensi kesukaan, atau tingkat penerimaan Airlangga di publik juga harus tinggi, jadi komplikasinya popularitasnya kecil, elektabilitasnya kecil namun punya potensi untuk naik," ucapnya.

Peluang Jadi Cawapres

Di sisi lain, kata Adjie, meski tingkat popularitas dan elektabilitas Menko Perekonomian itu rendah sebagai capres, namun untuk posisi cawapres bisa menjadi pertimbangan. Sebab, terkadang pertimbangan posisi cawapres tidak berkaitan dengan elektabilitas.

"Misalnya kejadian ini sering terjadi di Pilpres 2019 kita lihat masuknya Ma'ruf Amin sebagai wakil presiden Pak Jokowi itu bukan karena pertimbangan elektabilitas, karena waktu itu Pak Ma'ruf elektabilitasnya masih rendah atau Pak Boediono ketika 2009 ketika menjadi wakil presiden Pak SBY bukan karena pertimbangan elektabilitas," tuturnya.

"Namun sebagai king maker orang yang sebagai ketua umum partai Golkar punya potensi, secara elektabilitas masih bisa naik, kedua sebagai kalau kemudian Airlangga turun target menjadi calon wakil presiden, maka peluang itu akan semakin tinggi karena posisi partainya," pungkasnya.

Reporter : Muhammad Genantan Saputra

Sumber: Merdeka

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓