Riuh Menuju Pilpres 2024, Relawan Jokowi Tunggu Komando

Oleh Yopi Makdori pada 17 Jun 2021, 20:13 WIB
Diperbarui 17 Jun 2021, 20:13 WIB
FOTO: Presiden Jokowi Tinjau Vaksinasi COVID-19 di Stasiun Bogor
Perbesar
Presiden Joko Widodo saat tiba di Stasiun Bogor, Jawa Barat, Kamis (17/6/2021). Vaksinasi di Stasiun Bogor yang merupakan tempat dengan interaksi mobilitas tinggi dan wilayah aglomerasi penyangga Ibu Kota ini menyasar petugas dan pekerja stasiun serta penumpang kereta. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Sejumlah calon potensial dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 dianggap sudah mencuri star baik secara halus maupun terang-terangan untuk menggaet simpati rakyat. Ketua Bidang Kelembagaan dan Hubungan Antar-Lembaga, Seknas Jokowi, Dono Prasetyo mengatakan pihaknya masih menunggu komando dari Jokowi untuk menambatkan dukungan kepada siapa pada 2024 nanti.

"Pada titik ini kita kembali mengingat arahan Presiden Jokowi pada Rapimnas kemarin, ketika beliau menggunakan diksi 'Ojo Kesusu' (jangan terburu-buru). Maksudnya jangan terburu-buru mendukung tokoh tertentu, kita agar bersabar menanti arahan dari Jokowi," kata Dono dalam keterangan tulis, Kamis (17/6/2021).

Menurut Dono, di saat Pilpres yang masih cukup jauh, maka kondisi politik nasional masih akan fluktuatif. Menurutnya, jika barisan relawan Jokowi yang telah berhasil mengorbitkan idolanya itu menjadi presiden dua periode terburu-buru dalam menyatakan dukungan terhadap seorang figur, maka langkah itu akan dianggap terlalu gegabah.

"Mengingat situasi politik masih berkembang dinamis, terlihat dari manuver sejumlah figur atau parpol, baik yang dilakukan secara halus maupun terang-terangan dalam konteks menuju Pilpres 2024. Dengan demikian dimensi waktu menjadi sangat relatif. Menunggu terlalu lama, posisi relawan seolah menjadi  'mengapung', sementara bila buru-buru sama sekali tidak taktis," ungkapnya.

Dono menerangkan konsep relawan sebenarnya memberi ruang pada aspirasi politik masyarakat, terutama bagi mereka yang aspirasinya tidak bisa ditampung oleh partai yang tersedia.

Berkaca dari pengalaman relawan Jokowi, menurut Dono saat partai yang berafiliasi dengan Jokowi tak segera menyatakan dukungan untuk menjadikan Jokowi Capres pada 2014 lampau, relawan saat itu bergerak untuk memastikan bahwa Jokowi memang layak.

"Langkah cepat relawan bukan lahir dari ruang kosong. Sosok dan kinerja Jokowi sudah terpantau sejak lama, khususnya saat berkiprah sebagai Wali Kota Solo (2005-2012). Ketika masih menjadi Wali Kota Solo, embrio relawan Jokowi sebenarnya sudah muncul, mereka adalah simpul yang secara sadar ingin mengorbitkan Jokowi, dengan pertimbangan Jokowi adalah figur yang tepat untuk memimpin bangsa di masa depan," katanya.

 

Politisasi Relawan Jelang Pilpres 2024

Dono mengatakan, potensi politisasi terhadap relawan Jokowi tetap ada. Pasalnya berkaca dari pengalaman Jokowi dulu, relawan mampu menempatkan bekas Wali Kota Solo itu menjadi orang nomor satu di Tanah Air. Pengalaman seperti itulah yang akhirnya membuat konsep relawan disalin di berbagai level.

"Relawan Jokowi telah menjadi trend setter dalam momen Pilpres, termasuk level di bawahnya, yakni Pilkada gubernur dan bupati. Dalam posisinya  strategis  seperti itulah, sebagaimana diakui Jokowi sendiri, potensi terjadinya politisasi pada relawan senantiasa hadir. Gejalanya sudah bisa kita saksikan hari ini, ketika komunitas relawan mulai ditarik-tarik ke kubu salah satu figur, atau memang ada komunitas relawan yang 'mencuri start' dengan cara mendukung figur tertentu," katanya.

Untuk itu, menurut Dono sembari menunggu arahan Jokowi, relawan bisa melakukan pengawalan terus terhadap proses demokrasi di Tanah Air.

"Utamanya memastikan proses pemilu akan berjalan sesuai regulasi dan tidak menimbulkan friksi berkepanjangan di masyarakat," pungkasnya.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓