HEADLINE: Calon Panglima TNI Mengerucut 2 Nama, Siapa Paling Strategis?

Oleh Muhammad Radityo PriyasmoroLizsa EgehamYopi Makdori pada 18 Jun 2021, 00:03 WIB
Diperbarui 18 Jun 2021, 13:28 WIB
Marsekal Hadi Tjahjanto Resmi Dilantik Jadi Panglima TNI
Perbesar
Presiden Joko Widodo menyematkan tanda kepangkatan sebagai Panglima TNI kepada Marsekal Hadi Tjahjanto di Istana Negara, Jakarta, Jumat (8/12). Hadi Tjahjanto mengantikan Gatot Nurmantyo. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Liputan6.com, Jakarta Bursa kandidat Panglima TNI baru mencuat seiring masa pensiun Marsekal Hadi Tjahjanto pada November tahun 2021. Bisik-bisik ini terdengar di kalangan parlemen di Senayan, Jakarta.

Dua nama masuk sebagai kandidat calon Panglima TNI yang kelak menggantikan Hadi Tjahjanto.

Mereka adalah Kepala Staf TNI Angkatan Darat Atau KSAD Jenderal Andika Perkasa, dan Kepala Staf TNI Angkatan Laut atau KSAL Laksamana Yudo Margono.

Dua Perwira Tinggi TNI ini bisa dipilih oleh Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang mempunyai hak prerogatif, dan kemudian akan diuji kembali oleh DPR RI.

Sebagai catatan, untuk Andika sendiri akan pensiun pada November 2022. Jika dipilih menjadi Panglima TNI, dirinya hanya menjabat selama setahun. Sedangkan Yudo akan pensiun pada November 2023, atau bisa menjabat setahun lebih lama dari Andika.

Juru Bicara Presiden Fadjroel Rachman menuturkan, bahwa dalam pemilihan Panglima TNI ini, sepenuhnya ada di tangan Jokowi.

"Tentu Presiden Jokowi yang memiliki hak prerogatif untuk menentukan siapa Panglima TNI," kata Fadjroel kepada Liputan6.com, Kamis (17/7/2021).

Meski demikian, dia tak menyebutkan apakah pilihan dari Presiden sudah jelas mengarah kepada Andika atau Yudo.

"Kita tunggu saja, pasti dipilih yang terbaik," singkat Fadjroel.

Direktur Imparsial Ghufron Mabruri mengatakan dengan waktu yang tersisa enam bulan lagi, Presiden Jokowi mempunyai banyak waktu untuk mempertimbangkan siapa kandidat paling tepat yang menjadi pengganti Hadi Tjahjanto.

"Paling penting dari proses adalah Presiden masih punya waktu mempertimbangkan berbagai faktor, seperti rekam jejak dan masukan dari publik, masyarakat sipil untuk pergantian tersebut," kata Ghufron kepada Liputan6.com, Kamis (17/7/2021).

Menurut dia, pergantian Panglima TNI bukan hanya sekedar mencari sosoknya, tapi bagaimana membawa TNI ke depan. Sehingga diperlukan banyak aspek untuk menilai siapa yang paling tepat mengisi jabatan Panglima TNI ini.

"Tidak individu saja tapi rekam jejak mereka, komitmennya juga. Tentu dalam konteks ini Presiden perlu mencari masukan dari pemangku kepentingan, dari masyarakat sipil tentunya, yang pas bisa membawa TNI ke depan dan menjamin penghormatan terhadap HAM dan juga agenda reformasi TNI yang belum dijalankan," jelas Ghufron.'Dia menuturkan, masih belum bisa memilih antara Andika maupun Yudo. Karena semuanya masih dicermati.

"Saya sendiri belum bisa menjagokan antara keduanya, mengatakan mana yang lebih baik. Kita masih cermati faktor-faktor penilaian terutama pembangunan TNI yang profesional dan menghormati HAM. Itu poin penting. Bukan hanya sosok tapi siapa yang paling berkomitmen untuk membangun TNI lebih pro lagi," tutur Ghufron.

Dia pun mengingatkan, Panglima TNI yang baru punya masalah pekerjaan rumah yang tidak ringan, selain Covid-19.

"Misal, pekerjaan rumah yang jadi catatan kita memang soal Papua, yang sampai hari ini pendekatan dilakukan masih keamanan dan militeristik, mengirim pasukan yang menjadikan situasi semakin kompleks dengan kekerasan. Kemudian peran keterlibatan TNI dengan sipil yang makin lus yang diluar tupoksi. Relasi TNI dan kekuasaan, jangan sampai TNI jadi instrumen politik untuk pengamanan dan sebagainya," kata Ghufron.

Selain itu, pekerjaan rumah yang paling penting adlaah menjalankan mandat reformasi 98 yang sampai sekarang belum dijalankan, yakni reformasi sistem peradilan militer.

"Kita masih mencari figur yang dibutuhkan publik, kita cari sosok Panglima yang berkomitmen menjunjung HAM dan demokrasi, kita butuh TNI yang didukung oleh Alutsista karena soal anggaran saja kita problem," kata Ghufron.

Infografis Siapa Calon Panglima TNI Pilihan Jokowi? (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Siapa Calon Panglima TNI Pilihan Jokowi? (Liputan6.com/Trieyasni)

Rotasi Sesuai Matra

Senada, Peneliti Bidang Pertahanan dan Keamanan Pusat Penelitian Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Diandra Megaputri Mengko menuturkan, baik KSAD, KSAL, maupun KSAU memiliki kesempatan yang sama untuk menjadi Panglima TNI.

"Hanya memang baiknya ada rotasi matra yang menjadi sebagai Panglima TNI," kata Diandra kepada Liputan6.com, Kamis (17/7/2021).

Dia juga membeberkan, ada dua hal yang masih perlu diperhatikan oleh Panglima TNI yang akan datang. Yang pertama jelas memastikan konteks pelibatan TNI dalam penanganan Covid-19 yang perlu proposional sebagai salah satu tugas Operasi Militer Selain Perang (OMSP).

"Dalam artian tidak mengganggu kesiapan dan persiapan TNI dalam mengemban tugas utamanya, yaitu menghadapi peperangan," jelas Diandra.

Kedua, diharapkan Panglima TNI ke depan bisa melakukan evaluasi terhadap dasar hukum yang digunakan dalam pengerahan TNI dalam menghadapi pandemi dan mendorong perbaikan sesuai UU TNI.

"Karena berdasarkan ketentuan UU TNI, seharusnya dasar hukum yang digunakan adalah keputusan politik negara. Alangkah baiknya apabila pelaksanaan OMSP semacam ini juga mengikuti ketentuan UU TNI," ungkap Diandra.

Selain pandemi, secara umum harapannya Panglima TNI berikutnya bisa memiliki fokus untuk mendorong profesionalisme dan patuh pada kendali demokratis. Terkait profesionalisme, tentu diharapkan Panglima akan terus mendorong dan meninjau pembenahan Alutsista di Indonesia. "Apalagi kita ada kasus Nanggala seperti kemarin," tutur Diandra.

Di sisi lain, Panglima TNI harus terus memberikan perhatian yang cukup kepada kebutuhan prajurit dalam mempersiapkan tugas utamanya seperti latihan-latihan perang dan persoalan kesejahteraan prajurit.

"Kesejahteraan prajurit ini tidak hanya terkait ketersediaan rumah dinas, tapi juga perlu menyentuh sampai jaminan kesehatan dan asuransi jiwa ketika berdinas," jelas Diandra.

Terkait kendali demokratis, lanjut dia, diharapkan Panglima TNI selanjutnya bisa melakukan evaluasi terhadap persoalan lama yang belum tuntas, yaitu evaluasi terhadap berbagai macam MOU dengan instansi sipil terkait sebagai basis pelaksanaan OMSP.

"Ini perlu dievaluasi kembali karena sesuai ketentuan UU TNI itu sendiri, OMSP ini perlu dilakukan atas dasar keputusan politik negara, keputusan presiden bersama dengan DPR," kata Diandra. 

Suara untuk Andika

Anggota Komisi I DPR RI dari Fraksi PKS Sukamta menilai, memang semua Kepala Staf TNI bisa dipilih oleh Presiden Jokowi. "Prinsipnya semua Kepala Staf punya kapasitas yang lebih dari cukup untuk menjadi Panglima," kata Sukamta kepada Liputan6.com, Kamis (17/7/2021).

Menurutnya, walaupun Yudo cukup senior dan mampu untuk mengemban tugas ini, tapi Andika memiliki pengalaman lebih dari kedua Jenderal bintang tiga TNI tersebut.

"KSAD saat ini, Pak Andika, memang punya nilai plus yaitu pengalaman menjadi Kepala Staf yang paling lama diantara yang lainnya," jelas Sukamta.

Bahkan, dia mengungkapkan Andika dinilainya lebih cocok. Pasalnya, Andika dipandang bisa mengatasi masalah Papua yang masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah saat ini.

"Saya kira juga cocok dengan tantangan yang dihadapi baik itu di Papua maupun di wilayah nusantara secara umum. Selama ini, Pak Jendral Andika tampak sangat humanis tapi tegas. Saya kira itu tepat untuk saat ini," ungkap Sukamta.

Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad menyatakan pihaknya tidak mau berpolemik menanggapi ramainya pembicaraan tentang bursa calon Panglima TNI pengganti Marsekal Hadi Tjahjanto.

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto akan memasuki masa pensiun pada November tahun ini. Menurutnya, pemilihan calon Panglima TNI merupakan hak prerogatif Presiden Joko Widodo atau Jokowi.

"Soal Panglima TNI itu soal prerogatif presiden," kata Dasco.

Dasco pun enggan menjawab soal dua calon Panglima TNI yang saat ini disebut mengerucut pada KSAD Jenderal Andika Perkasa dan KSAL Laksamana Yudo Margono.

"Intinya presiden akan mempertimbangkan secara aspek untuk menentukan siapa panglima berikutnya, termasuk juga situasi kondisi pandemi ini. Kita tunggu saja karena itu sudah diatur," ungkapnya.

 

Bukan Pilihan Sulit Bagi Presiden

Sementara, Wakil Ketua Fraksi NasDem DPR RI Willy Aditya mengatakan, baik Andika maupun Yudo layak mempimpin TNI.

"Presiden Joko Widodo sebagai panglima tertinggi memiliki hak prerogatif untuk memilih siapa diantara keduanya. Fraksi NasDem tentu akan mendukung pilihan Presiden siapapun yang akan terpilih. Hal ini sebagai wujud komitmen partai pendukung pemerintah," kata Willy kepada Liputan6.com, Kamis (17/7/2021).

Menurut dia, tentu Panglima TNI yang terpilih nantinya haruslah dapat mendukung kinerja pemerintahan khususnya dalam hal pertahanan militer.

"Memilih satu diantara dua putra terbaik yang memang sudah matang di dunianya tentu bukan pilihan sulit bagi Presiden," jelas Willy.

Dia menegaskan, ada beberapa hal penting yang perlu diperhatikan oleh Panglima TNI yang baru, salah satunya situasi geopolitik kawasan yang perlu menjadi perhatian. Sistem dan strategi pertahanan ini perlu pemikiran Panglima TNI juga. Selain itu juga perlu Panglima yang memiliki orientasi sistem pertahanan masa depan.

"Panglima TNI terpilih nantinya menghadapi bonus demografi penduduk diwaktu yang sama juga ada program bela negara. Panglima TNI sebagai bagian dari penopang pertahanan perlu juga memikirkan bagaimana bonus demografi ini bisa bermanfaat bagi sistem pertahanan," ungkap Willy.

Selain itu, harus terus menunjukkan rasa humanis yang diperlukan TNI. "Kekuatan TNI bukan hanya di senjata yang canggih namun juga dukungan rakyat," kata dia.

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓