Megawati Dapat Ucapan Selamat dari 2 Rektor di Aceh Usai Raih Profesor Kehormatan

Oleh Delvira Hutabarat pada 13 Jun 2021, 09:40 WIB
Diperbarui 13 Jun 2021, 09:40 WIB
Pengukuhan Gelar Profesor Kehormatan untuk Megawati Soekarnoputri
Perbesar
Presiden Republik Indonesia ke-5, Megawati Soekarnoputri (kiri-depan) saat menerima surat Pengukuhan Guru Besar di Aula Merah Putih Universitas Pertahanan, Sentul, Bogor, Jumat (11/6/2021). Megawati menerima gelar Profesor Kehormatan dari Universitas Pertahanan. (Liputan6.com/Helmi Fithriansyah)

Liputan6.com, Jakarta Presiden Kelima RI Megawati Soekarnoputri mendapat gelar Profesor Kehormatan atau Guru Besar Tidak Tetap dari Universitas Pertahanan (Unhan) pada Jumat 11 Juni 2021.

Megawati pun mendapatkan ucapan selamat dari akademisi Aceh. Salah satunya datang dari Rektor Universitas Syiah Kuala, Prof Samsul Rizal.

"Semoga dengan ilmu kepemimpinannya dalam bidang pertahanan dan juga sebagai Ketua Dewan Pengarah Badan Riset dan Inovasi Nasional dapat terus memberikan kontribusi untuk kemajuan bangsa dan negara," kata Samsul melalui sebuah video, Minggu (13/6/2021).

Ucapan selamat juga datang dari Rektor Universitas Malikussaleh Dr Herman Fithra. Dia berharap Megawati terus menjadi sosok pemersatu seluruh elemen bangsa.

"Insya Allah dengan anugerah pengukuhan gelar profesor Prof Dr. (H.C) Megawati Soekarnoputri terus mengawal persatuan dan kesatuan bangsa dan negara Republik Indonesia," tutur Herman.

Dia pun berharap, Megawati bisa mendorong anak muda untuk melakukan riset dan inovasi.

"Serta terus mengarahkan kepada anak-anak muda untuk gemar melakukan riset dan inovasi demi Indonesia Maju 2045. Merdeka," jelasnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Megawati soal Karya Ilmiahnya

Presiden Kelima Indonesia Megawati Soekarnoputri kembali menyebut dirinya tidak memuji atau menyombongkan diri sendiri lewat karya ilmiahnya yang membuat dirinya dianugerahi gelar profesor kehormatan. Menurut dia, apa yang disampaikan adalah buah pemikiran untuk melestarikan kehidupan berbangsa.

"Saya pernah meng-introduce, di sini ada Pak Bambang Soesatyo pada waktu itu kepada MPR saya meminta, saya melihat bukan ingin menyombong dan menyanjung diri sendiri, tidak. Ini sebuah pemikiran ikut ingin melestarikan kehidupan berbangsa," ujar Megawati saat menyingung topik reformasi dalam pidato ilmianya di Universitas Pertahanan, Bogor, Jumat (11/6/2021).

Megawati melanjutkan, dirinya pernah juga menyampaikan ganjalan hatinya terkait reformasi saat menjabat wakil presiden. Kala itu, dia katakan kepada Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

"Khawatir apa mba? tanya Gus Dur," kata Megawati menirukan.

"Kita ini karena waktu itu tidak ada sebuah pemikir yang membuat kalau ada kejadian reformasi itu, whats next?," jawab Megawati.

Menurut Megawati, Indonesia harus memiliki perencanaan jangka panjang yang berkelanjutan. Sebab, sejak MPR diturunkan, maka hal itu tidak terlalu tergambar di masa kini.

"Euforia (reformasi) dan saya ada di dalamnya, MPR itu kan diturunkan, jadi saya meng-introduce ke MPR, ini bagaimana ya? kita sudah mempunyai kepemimpinan berapa kali? tapi kita tak punya perencanaan, kedua what ever namanya boleh road map yang sustainable, kalau Bung Karno membuat pola pembangunan semesta berencana," Megawati menandasi.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓