Pakar Pendirikan: PTM Terbatas Dapat Merangsang Sikap Solidaritas Anak

Oleh Yopi Makdori pada 13 Jun 2021, 06:43 WIB
Diperbarui 13 Jun 2021, 06:43 WIB
FOTO: Uji Coba Sekolah Tatap Muka di Jakarta
Perbesar
Sejumlah siswa saat uji coba kegiatan belajar tatap muka di SDN Kenari 07/08 Pagi, Jakarta, Rabu (9/6/2021). SDN Kenari 07/08 Pagi telah menjalani evaluasi (assesment) dan dinilai telah memenuhi persyaratan untuk pembelajaran tatap muka sesuai protokol kesehatan. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Liputan6.com, Jakarta - Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono menyatakan, Pembelajaran Tatap Muka (PTM) Terbatas di sekolah dianggap dapat merangsang sikap solidaritas anak-anak.

Berbeda dengan pembelajaran jarak jauh (PJJ) yang dinilai menyulitkan anak-anak untuk berkoordinasi, PTM Terbatas memaksa mereka untuk saling berinteraksi di kelas.

“Solidaritas sosial itu mudah terbangun ketika terjadi pembelajaran tatap muka. Meski begitu pembelajaran tatap muka di bulan Juli nanti harus terus dievaluasi. Pada bulan pertama bisa dilakukan evaluasi 2 minggu sekali, kalau sudah memasuki bulan kedua dan ketiga harus setiap bulan dievaluasi," kata Agustinus seperti dikutip dalam laman resmi UGM, Sabtu (12/6/2021).

Agustinus berpendapat, PTM Terbatas bisa berjalan dengan lancar asalkan sekolah dapat mengontrol penerapan protokol kesehatan (Prokes) di lingkungannya.

“Pertanyaannya yang harus dijawab kan apakah sekolah mampu mengontrol perilaku 5M yang harus dilakukan siswa. Kalau sekolah mampu saya kira bisa berjalan dengan baik," katanya.

Ia berpendapat, dengan naiknya kasus penularan Covid-19 di beberapa daerah sebaiknya kondisi tersebut menjadi bahan pertimbangan pemerintah daerah untuk membuka sekolah tatap muka. Sehingga persiapan yang dilakukan jauh lebih matang. Jika nantinya sekolah mau membuka tatap muka maka penerapan 5 M, harus ketat dijalankan.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Persiapan Infrastruktur

Siswa SD di Bekasi Kembali Sekolah Tatap Muka
Perbesar
Siswa mencuci tangan saat kembali ke ruang kelas usai jam istirahat di SDN Pekayon Jaya VI, Bekasi, Rabu (24/3/2021). Sekolah yang diberi izin menggelar pembelajaran tatap muka adalah yang berlokasi di zona hijau dan kuning. (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Agustinus menyatakan, jika pembelajaran tatap muka akan dimulai pada Juli 2021, maka yang perlu dipersiapkan adalah ketersediaan ruangan untuk pembelajaran. Karena dalam satu ruang jumlahnya tentu akan lebih sedikit dibanding suasana kelas di saat sebelum pandemi.

Selain itu, soal infrastruktur fisik yang harus disediakan sekolah, misalnya tempat cuci tangan, hand sanitizer, sabun dan lain-lain.

“Ini harus ada rasio yang baik antara wastafel dan jumlah siswa, jangan sampai dalam satu sekolah hanya ada 4 wastafel, paling tidak setiap depan ruang kelas harus ada wastafel dan sabun, itu yang perlu diperhatikan," jelasnya.

Ia sangat setuju jika di awal penerapan pembelajaran tatap muka Juli 2021 nanti dilakukan dua kali seminggu. Menurutnya, dengan tatap muka dua kali seminggu, anak-anak dilatih beradaptasi untuk belajar normal seperti sebelum pandemi.

“Sehingga biarkan seminggu dua kali tatap muka dan dari situ bisa dilihat dampaknya, jika aman akan dilanjutkan bisa 3 kali dalam seminggu, 4 kali dan seterusnya atau bahkan bisa lima kali dalam seminggu. Saya pikir itu saat paling bagus, ideal," paparnya.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Infografis Jelang Sekolah Tatap Muka Terbatas Tahun Ajaran 2021/2022

Infografis Jelang Sekolah Tatap Muka Terbatas Tahun Ajaran 2021 / 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Perbesar
Infografis Jelang Sekolah Tatap Muka Terbatas Tahun Ajaran 2021 / 2022. (Liputan6.com/Trieyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓