4 Hal Terkait Ditemukannya Varian Baru Corona di Indonesia Dibarengi Lonjakan Kasus Covid-19

Oleh Devira Prastiwi pada 12 Jun 2021, 18:33 WIB
Diperbarui 12 Jun 2021, 18:33 WIB
Ilustrasi virus Corona, COVID-19
Perbesar
Ilustrasi virus Corona, COVID-19. (Photo by Martin Sanchez on Unsplash)

Liputan6.com, Jakarta - Varian baru virus Corona saat ini ditemukan di beberapa daerah di Indonesia dengan dibarengi peningkatan kasus.

Hal tersebut disampaikan Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito. Menurut dia, tidak berarti ada hubungan di antara keduanya, yaitu penemuan varian baru virus Corona di beberapa daerah di Indonesia dengan dibarengi peningkatan kasus.

"Tentunya kami akan menyampaikan informasi lebih lanjut, apabila ada hasil penelitian yang lebih dalam oleh perguruan tinggi atau Kementerian Kesehatan yang bisa membuktikan adanya potensi hubungan ditemukan varian baru dan jumlah kasus di Indonesia," ujar Wiku, dikutip dari siaran persnya, Sabtu (12/6/2021).

Kemudian disampaikan Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Mohammad Nasih menyatakan, temuan varian baru Covid-19 oleh Institute of Tropical Disease (ITD) bukan spesimen dari lonjakan kasus di Bangkalan.

"Varian Covid-19 B117 yang ditemukan dari spesimen warga Bangkalan merupakan sampel yang masuk pada 12 Mei 2021," kata Nasih, dikutip dari Antara.

Nasih menjelaskan, hasil whole genome sequencing yang baru diumumkan oleh ITD bukan disengaja bertepatan dengan kasus yang sedang tinggi di Bangkalan hingga menjadi perhatian nasional.

Berikut 4 hal terkait penemuan varian baru virus Corona yang menyebabkan Covid-19 ditemukan di beberapa daerah di Indonesia dengan dibarengi peningkatan kasus dihimpun Liputan6.com:

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Akui Kasus Covid-19 di Indonesia Naik Drastis

Kelemahan Virus Corona
Perbesar
Ilustrasi Pandemi Covid-19 Credit: pexels.com/cottonbro

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengakui bahwa saat ini ditemukan varian baru virus corona di beberapa daerah di Indonesia dan dibarengi dengan kenaikan kasus. Namun, kata dia, bukan berarti ada hubungan langsung antara keduanya.

Wiku menyampaikan hingga kini pihaknya masih menunggu penelitian mendalam apakah kenaikan kasus Covid-19 di Indonesia berhubungan dengan ditemukannya varian baru di beberapa daerah. Dia memastikan hasil penelitian itu akan disampaikan ke publik.

"Tentunya kami akan menyampaikan informasi lebih lanjut, apabila ada hasil penelitian yang lebih dalam oleh perguruan tinggi atau Kementerian Kesehatan yang bisa membuktikan adanya potensi hubungan ditemukan varian baru dan jumlah kasus di Indonesia," jelas Wiku dikutip dari siaran persnya, Sabtu (12/6/2021).

Hanya saja, dia mengatakan sejauh ini beredarnya varian Covid-19 baru yang ada di Indonesia tidak berdampak langsung pada lonjakan kasus yang terjadi saat. Wiku menyebut kenaikan kasus yang terjadi saat ini merupakan dampak dari libur Lebaran 2021.

"Adanya varian baru yang ditemukan di berbagai daerah, sampai sekarang belum terbukti atau penelitiannya tentang itu belum bisa membuktikan bahwa adanya hubungan langsung peningkatan kasus karena varian baru," jelas Wiku.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Varian Baru Covid-19 Bisa Serang Orang Sudah Divaksin

Ilustrasi vaksin Covid-19.
Perbesar
Ilustrasi vaksin Covid-19. (Liputan6.com/Abdillah)

Pakar Imunologi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Agung Dwi Wahyu Widodo mengungkapkan, walaupun sudah divaksinasi Covid-19, seseorang tetap dapat mengalami proses reinfeksi.

Menurutnya, hal itu timbul karena beberapa sebab. Pertama dikarenakan produk antibodi yang dihasilkan oleh vaksinasi masih belum tinggi.

Alhasil, tubuh tidak mampu netralisasi virus yang masuk, sehingga virus menyebar dan menghasilkan penyakit.

“Pada beberapa kasus, walaupun sedikit, bisa terjadi reinfeksi pada varian baru Covid-19, Alpha. Begitu pula dengan varian Beta yang dapat menimbulkan re-infeksi juga walaupun tidak tinggi,” ujarnya, Jumat 11 Juni 2021.

"Yang kedua, pada orang tertentu kemungkinan antibodi memang tidak dihasilkan terlalu tinggi. Sehingga yang terjadi virus dapat bertahan dan menimbulkan infeksi," ucap Agung.

Agung mengatakan, Hongkong dan beberapa negara Eropa serta Amerika menemukan, ternyata virus yang menginfeksi setelah vaksinasi atau reinfeksi adalah virus yang berbeda varian.

"Hal semacam itu memungkinkan terjadinya proses reinfeksi. Meski sudah divaksin, karena coronavirus-nya beda varian, maka bisa terjadi proses re-infeksi tadi,” ujarnya.

Terkait efikasi vaksin pada varian baru, Agung menyampaikan, secara umum Varian Alpha dapat dinetralisir terhadap hampir semua vaksin. Sedangkan pada Varian Beta, banyak vaksin mengalami proses penurunan efikasi.

"Beberapa waktu yang lalu, WHO sudah merilis laporan riset tentang efikasi vaksin dari berbagai vaksin yang ada di dunia. WHO menyebutkan bahwa efikasi vaksin beragam antara satu orang dengan yang lain bagaimana responnya terhadap varian tadi," ucap Dewan Pakar Satgas Covid-19 IDI Jatim ini.

Agung mengimbau agar masyarakat tidak perlu khawatir tentang efikasi dari vaksin yang diberikan di Indonesia. Sebab vaksin Sinovac masih dapat digunakan pada kedua varian tersebut.

Secara epidemiologi, virus yang berasal dari Inggris dan Afrika Selatan itu mampu menyebar dengan cepat sehingga meningkatkan insiden serta menimbulkan kesakitan dan kematian yang tinggi. Untuk itu, Agung menyarankan agar pemerintah segera mengambil tindakan untuk mengantisipasi lonjakan kasus.

"Sarana dan prasarana perawatan harus ditingkatkan terutama keberadaan ruang isolasi untuk pasien, baik yang perlu diisolasi sebagai OTG ataupun orang yang mengalami sakit Covid-19 mulai dari ringan hingga berat," ujar Agung.

"Serta tidak lupa menjalankan protokol kesehatan dengan ketat. Dimulai dengan menggunakan masker yang benar; cuci tangan; menjaga jarak dengan baik; mobilitas dibatasi. Itu semua tujuannya dalam rangka untuk mencegah proses transmisi virus," jelas Agung.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Klaim Kasus Covid-19 Bangkalan Melonjak Bukan Karena Varian Baru

COVID-19
Perbesar
Ilustrasi pandemi Corona | unsplash.com/@adamsky1973

Rektor Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Mohammad Nasih menyatakan, temuan varian baru Covid-19 oleh Institute of Tropical Disease (ITD) bukan spesimen dari lonjakan kasus di Bangkalan.

"Varian COVID-19 B117 yang ditemukan dari spesimen warga Bangkalan merupakan sampel yang masuk pada 12 Mei 2021," kata Nasih, dikutip dari Antara.

Ia menjelaskan hasil whole genome sequencing yang baru diumumkan oleh ITD bukan disengaja bertepatan dengan kasus yang sedang tinggi di Bangkalan hingga menjadi perhatian nasional.

Proses untuk menganalisis strain suatu virus memang membutuhkan waktu yang lama.

"Yang beredar itu adalah temuan sebulan yang lalu, bukan yang sekarang. Jangan dikaitkan karena nanti berpengaruh pada psikologis para pasien," tutur Nasih.

Sampel varian Alpha Covid-19 berasal dari spesimen pekerja migran Indonesia yang memang harus dites usap antigen dan PCR sebelum kembali ke daerah asalnya masing-masing.

Setelah diketahui positif pun, mereka harus diisolasi secara terpusat di Rumah Sakit Lapangan Indrapura (RSLI) Surabaya sehingga kecil kemungkinan terjadi penularan di kampung halamannya.

Sementara soal kemungkinan adanya mutasi virus corona di Bangkalan hingga membuat lonjakan kasus, Nasih mengatakan bahwa pihaknya masih harus melakukan penelitian lebih lanjut. Saat ini, para peneliti di ITD Unair sudah mulai mencermati spesimen dari Bangkalan.

"Sekarang sampel Bangkalan baru diterima dua hari lalu, yakni 40 sampel yang sekarang sedang dikerjakan ITD dengan whole genom sequencing," ujarnya.

Dengan serangkaian proses yang diperlukan, ia memperkirakan hasil whole genome sequencing dari sampel Bangkalan baru bisa diumumkan pada hari Sabtu atau Minggu.

"Proses ini nantinya akan mengungkap apakah virus corona yang menyerang Bangkalan hingga membuat beberapa tenaga kesehatannya meninggal dunia merupakan mutasi atau bukan," jelas Nasih.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

DKI Temukan 19 Kasus Covid-19 Varian Baru

Covid-19
Perbesar
Ilustrasi Covid-19 (Foto: Shutterstock By By RESTOCK images)

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Dwi Oktavia mengungkapkan, pihaknya telah menemukan 19 kasus positif Covid-19 varian baru di Ibu Kota.

Kata dia, mayoritas pasien Covid-19 varian baru itu punya riwayat perjalanan ke luar negeri.

"Terdapat 19 kasus variant of concern mutasi virus baru yang ditemukan di DKI Jakarta, di mana 18 di antaranya memiliki riwayat perjalanan dari luar negeri, dan satu kasus transmisi lokal," kata Dwi dalam keterangan tertulis.

Lanjut dia, pihaknya terus aktif melakukan pemeriksaan sampel Whole Genome Sequencing (WGS). Hal tersebut untuk mendeteksi adanya varian baru Covid-19.

"Pemeriksaan sampel Whole Genome Sequencing/WGS, di mana sebanyak 649 sampel sudah diperiksa," ucapnya.

Sementara itu, berdasarkan data PPKM Mikro pada 7-13 Juni 2021, ada 3 RT zona merah dan 23 RT zona oranye yang dilakukan tracing masif. Lokasi klaster penularan tersebut di antaranya di wilayah Cipayung, Cengkareng, Cilincing, Ciracas, Pasar Minggu, Kemayoran, dan Pulogadung.

"Jumlah kasus aktif sampai hari ini sebanyak 12.820 (orang yang masih dirawat/ isolasi). Sedangkan, jumlah kasus Konfirmasi secara total di Jakarta sampai hari ini sebanyak 440.554 kasus," jelas dia.

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran

Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran
Perbesar
Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran (Liputan6.com/Triyasni)
Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓