PPP Usulkan Pilpres 2024 Diikuti Tiga Pasangan Calon

Oleh Liputan6.com pada 04 Jun 2021, 12:12 WIB
Diperbarui 04 Jun 2021, 12:12 WIB
Arsul Sani
Perbesar
Fungsi dan Kewenangan BNN Jadi Pembahasan Panja RUU Narkotika

Liputan6.com, Jakarta - Partai Persatuan Pembangunan (PPP) mengusulkan Pemilihan Presiden (Pilpres) 2024 diikuti tiga pasangan calon (paslon).

Hal ini, dinilai Arsul untuk memperbaiki kualitas agar tidak terulang keterbelahan pada dua Pilpres sebelumnya.

"Menurut hemat PPP salah satunya adalah kita perlu mendorong Pilpres diikut lebih dari dua pasang meski konsekuensinya nanti ada putaran kedua," ujar Wakil Ketua Umum PPP Arsul Sani kepada wartawan, Jumat (4/6/2021).

Arsul menuturkan, pembelahan di masyarakat karena Pilpres hanya diikuti dua pasang punya biaya sosial yang mahal.

Keterbelahan, disebutnya menjadikan masyarakat tidak produktif dan hanya menghabiskan energi bangsa.

"Menurut PPP pembelahan yang terjadi potensi pembelahan masyarakat yang terjadi kalau Pilpres diikut dua pasang, recovery costnya biaya pemulihannya sangat mahal by social," ucap Wakil Ketua MPR RI ini.

Menurut dia, PPP akan meyakinkan partai-partai lain agar tercipta tiga pasangan calon di Pilpres 2024.

"Itu yang ingin PPP yakinkan kepada partai-partai lain bahwa pada akhirnya itu harus menjadi dua lagi tidak apa-apa tapi ketika sudah melewati putaran pertama tanpa pembelahan yang tajam maka rasanya Pilpres itu secara kualitas akan lebih baik itu yang kita yakini hari ini," kata dia.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

PPP Belum Usung Siapa Pun

Bambang Widjojanto Jadi Saksi Ahli Uji Keabsahan Hak Angket
Perbesar
Anggota Pansus Angket KPK, Arsul Sani menghadiri sidang lanjutan perkara pengujian UU MD3 terkait hak angket di Gedung MK, Jakarta, Selasa (5/9). Sidang menghadirkan Mantan Komisioner KPK, Bambang Widjojanto sebagai saksi ahli. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Meski begitu, Arsul menyebut, saat ini, partai berlambang kakbah itu belum memikirkan siapa calon yang akan diusung.

"Tentu PPP ingin mempertahankan pakem bahwa sosok yang diusung mewakili dua kekuatan besar negara ini, nasionalis dan agamis meskipun aktualnya kan tidak berarti nasionalis tidak agamis dan yang agamis tidak nasionalis," jelas Arsul.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber : Merdeka

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓