Polisi Sebut Belasan Teroris yang Diamankan di Papua Baru Terpapar Saat Pindah ke Merauke

Oleh Liputan6.com pada 03 Jun 2021, 22:16 WIB
Diperbarui 03 Jun 2021, 22:16 WIB
Tim Gegana Polri Amankan Barang Bukti di Rumah Milik Terduga Teroris
Perbesar
Tim Gegana mengamankan barang bukti dari penggerebekan rumah milik terduga teroris di kawasan Condet, Jakarta, Senin (29/3/2021). Barbuk antara lain 5 bom aktif dan jenis bom sumbu yang siap digunakan, 5 toples bahan peledak serta bom yang siap digunakan seberat 1,5 kg. (merdeka.com/Iqbal S Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Karopenmas Divisi Humas Polri, Brigjen Rusdi Hartono menyebut bahwa berdasarkan hasil pemeriksaan diketahui bila belasan orang terduga teroris yang diamankan di Papua baru terpapar usai pindah ke Merauke.

"Yang jelas mereka sekali lagi sudah lama tinggal di Merauke. Mendapat pemahaman pemahaman radikal seperti ini ketika mereka di Merauke," kata Rusdi kepada wartawan, Kamis (3/6/2021).

Rusdi menjelaskan bahwa belasan teroris ini bukanlah orang asli Papua, mereka terpapar usai pindah menetap di Merauke. Barulah mereka membangun kelompok- kelompok kecil untuk menyebarkan paham radikal yang diketahui terafiliasi dengan Jamaah Ansharut Daulah (JAD).

"Ini merupakan satu jaringan JAD terus dikembangkan dari Makassar ternyata jaringannya melebar ke Kalimantan Timur. Di sana ditangkap salah satu dari JAD, kemudian dari Kaltim bergerak ke Papua, Merauke," ujar Rusdi.

Sebelumnya, Operasi Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror terhadap penangkapan sejumlah terduga sel jaringan terorisme di Merauke, Papua, terus bertambah menjadi 13 orang. Kapolres Merauke AKBP Untung Sangaji mengatakan kemungkinan masih bertambah.

 

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Barang Bukti

Selain menangkap 13 orang teroris, Densus 88 juga mengamankan berbagai barang bukti. "Untuk sementara yang bisa saya sampaikan itu saja karena masih terus dilakukan penyelidikan," kata Untung.

Dari 13 teroris yang diamankan, baru 11 orang yang identitasnya terungkap, yakni AK, SB, ZR, UAT, DS, SD, SR, YK dan SW serta pasangan suami istri AP dan IK. Penangkapan teroris diawali ditangkapnya 10 orang setelah sebelumnya terindikasi melakukan pemboman di Merauke, namun gagal.

Kapolda Papua Irjen Pol Mathius D Fakhiri menyatakan mereka merupakan jaringan Kelompok Ansharut Daulah yang terkait dengan aksi pengeboman Gereja Katedral, Makassar, pada 28 Maret 2021 lalu.

Reporter: Bachtiarudin Alam

Sumber: Merdeka

Scroll down untuk melanjutkan membaca

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓