Kabaintelkam: Ada Remaja yang Bocorkan Rahasia Polisi ke KKB Papua

Oleh Liputan6.com pada 03 Jun 2021, 07:01 WIB
Diperbarui 03 Jun 2021, 07:01 WIB
Tim Khusus Selidiki Kasus Pengantin Turun dari Helikopter Diduga Milik Polisi
Perbesar
Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw (Liputan6.com/Reza Efendi)

Liputan6.com, Jakarta Kabaintelkam Polri Komjen Paulus Waterpauw mengungkapkan bahwa pihaknya menghentikan program pembimbingan terhadap Tenaga Bantuan Operasi (TBO). Karena kata Paulus, ada remaja yang memberikan informasi terkait rahasia kepolisian RI kepada kelompok kriminal bersenjata (KKB) di Papua. Hal tersebut berhasil diungkap atas kecurigaannya.

Dia membenarkan bahwa anak-anak di Papua memang banyak yang diajar oleh aparat kepolisian. Bahkan, kata dia, ada anak-anak yang disekolahkan di kantor polisi.

"Karena banyak guru yang ketakutan, jadi banyak anak yang diajar oleh aparat kepolisian dan memang ada beberapa komplain dari beberapa pihak, anak muda usia segini kenapa dianggap sebagai bagian dari kelompok itu," kata Paulus dalam dialog Kebangsaan Lintas Generasi Papua yang diselenggarakan oleh UKI Jakarta, Rabu (2/6/2021)

Rata-rata yang diajar oleh aparat kepolisian sebenarnya masih duduk di bangku Sekolah Dasar hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) saja. Sehingga menurutnya cukup mencengangkan karena anak yang baru remaja berani membeberkan strategi kepolisian dalam melumpuhkan kelompok penyerang. Strategi yang dibeberkan bahkan cukup mendetail.

"Ada juga anak-anak yang kita jadikan TBO ya istilahnya. Kita bimbing, kita sekolahkan di Polsek-polsek itu. Hampir rata-rata anak-anak itu tingkat SD sampai SMP," ungkapnya.

"Begitu sudah remaja, mereka ini yang sering jadi cucuk penunjuk arah untuk masuknya kelompok kekerasan itu menyerang anggota kita. Mereka yang nanti memberikan bocoran," lanjutnya.

Karena banyak anak-anak yang menjadi informan, Paulus pun memutuskan untuk menghentikan kegiatan pembimbingan TBO itu. Pihaknya juga memutuskan untuk menghentikan kegiatan belajar-mengajar yang dilakukan oleh anggotanya. Menurutnya, keputusan tersebut sudah tepat. Dia khawatir jika kegiatan tersebut dilanjutkan, maka akan timbul permasalahan yang lebih besar hingga merugikan negara.

"Kami instruksikan agar tidak ada lagi kegiatan yang mengangkat anak-anak. Kita akan lihat akibat dari persoalan seperti ini," tuturnya.

"Karena mereka membocorkan mengenai senjata, lokasi. Misalnya, di Polsek ini Kapolseknya ini, anggotanya yang jaga hari ini si A, B, C. Mereka biasanya jaga di sini, senjatanya ada di sini," kata Paulus menirukan ucapan para informan itu. 

Terus Lakukan Upaya Tegas

Dia tidak ingin, hal tersebut bisa menambah korban jiwa dari pihak kepolisian. Karena kata Paulus, anggotanya bukan hanya gugur di tangan KKB, namun gugur di tangan Orang Tak Dikenal (OTK) di Papua.

Saat ini, kata Paulus, pihaknya masih melakukan upaya tegas dan terukur terhadap kelompok KKB, meskipun para KKB dan OTK itu melakukan penyerangan yang masif.

Sebisa mungkin Polri melakukan soft approach dengan mengedepankan humanisme. Paulus mengatakan, TNI-Polri berupaya untuk menghadirkan para guru, tenaga kesehatan, para tokoh. Baik itu tokoh agama, tokoh adat, tokoh perempuan dan anak muda.

"Mereka melakukan tindakan masif kemana-mana, melibatkan pihak yang tidak berdosa. ini alasan mereka kita kategorikan sebagai kelompok teror. Nah kami sangat hati-hati menangani mereka. tidak mau serampangan, hanya melakukan tindakan tegas, tapi tidak terukur yang akhirnya bisa salah sasaran," ungkapnya.

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait