Kenakan Pesa’an di Hari Pancasila, Menag Ingin Teladani Kegigihan Orang Madura

Oleh Lizsa Egeham pada 01 Jun 2021, 19:23 WIB
Diperbarui 01 Jun 2021, 19:23 WIB
menag
Perbesar
Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas. (Ist)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas mengatakan pemakaian baju adat saat peringatan Hari Lahir Pancasila untuk membangkitkan rasa kebanggaan sekaligus persatuan bangsa.

Dia menilai baju adat di Indonesia memiliki makna yang kuat sebagai potret kedaerahan sekaligus ajaran kehidupan.

"Demikian juga Pancasila yang merupakan rumusan luhur bangsa ini awalnya digali dari sendi-sendi kehidupan bangsa dan kemudian dijadikan dasar negara demi terwujudnya persatuan dan peradaban yang baik," ujar Yaqut dikutip dari siaran persnya, Selasa (1/6/2021).

Saat upacara Hari Lahir Pancasila, Presiden Joko Widodo atau Jokowi memakai baju adat khas Tanah Bumbu Kalimantan Selatan. Sementara itu, Yaqut mengenakan baju Pesa’an dari Madura Jawa Timur.

Yaqut mengaku sengaja memilih baju adat suku Madura karena pakaian tersebut mudah dipakai sekaligus kaya akan nilai filosofinya serta mudah didapatkan. Menurut dia, baju adat Madura ini memiliki paduan sederhana antara baju, celana dan kaus bergaris.

"Dari kemudahan mendapatkannya itu saya menilai bahwa baju adat Pesa’an ini adalah melambangkan makna kesederhanaan. Artinya, siapapun bisa membeli untuk dipakai dengan harga yang tidak mahal. Ini juga melambangkan sikap apa adanya orang Madura," katanya.

Selain itu, Yaqut menyebut baju Pesa’an melambangkan kegigihan. Hal ini ditandai dengan warna dominan hitam yang ada di baju adat ini.

"Kita semua tahu bahwa hitam umumnya kita maknai sebagai sifat yang gagah berani dan pantang menyerah atas berbagai rintangan yang datang, terutama saat pandemi Covid-19 ini," jelas dia.

 

Makna Huruf Alif

Yaqut menjelaskan terdapat filosofi lain dalam baju Pesa'an yakni, pentingnya bersikap tegas dan memiliki semangat juang yang tinggi. Hal itu tercermin dalam balutan kaus belang yang berwarna hitam merah atau merah putih.

Ketegasan juga tercermin dalam warna merah, biru dan kuning yang terpadu dalam motif batik Madura. Bahkan odheng atau penutup kepala kecil yang dikenal dengan sebutan tongkosan juga mengandung filosofi kuat.

Pada tongkosan ini terdapat lipatan sedemikian rupa yang membentuk alif, huruf pertama hijaiyah. Huruf alif ini juga banyak orang mengkiaskan dengan makna teguh dan jujur. Artinya, orang suku Madura berupaya menyeimbangkan antara pikiran, perkataan dan perbuatan.

"Lambang-lambang ini hakikatnya mengajarkan kita untuk selalu berpikir positif dan ditransformasikan dalam kehidupan sehari-hari," tutur Yaqut.

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓