7 Pernyataan Terkini Satgas Terkait Penanganan Covid-19 Usai Libur Lebaran

Oleh Devira PrastiwiLiputan6.com pada 22 Mei 2021, 07:31 WIB
Diperbarui 22 Mei 2021, 07:31 WIB
covid-19
Perbesar
ilustrasi covid-19/copyright by Jarun Ontakrai (Shutterstock)

Liputan6.com, Jakarta - Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 kembali menyampaikan perkembangan terkini kasus Corona usai libur Lebaran 2021.

Salah satunya disebut akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 luar biasa di Indonesia. Prediksi ini berangkat dari tiga kondisi yang sudah terjadi di Tanah Air.

Pertama, telah terjadi mobilitas masyarakat yang tinggi dalam beberapa minggu terakhir untuk merayakan Lebaran Idulfitri 2021. Kedua, kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menurun.

"Di dashboard monitoring perubahan perilaku kami kan kelihatan itu, terjadi penurunan pada kepatuhan protokol kesehatan," kata Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi dalam diskusi virtual, Kamis, 20 Mei 2021.

Selain itu, Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito menyebut bahwa masyarakat berperan penting untuk mencegah lonjakan kasus penularan Covid-19 usai libur Lebaran 2021.

"Cara utama yang dapat dilakukan sekaligus sikap tanggung jawab, melalui isolasi mandiri di fasilitas kesehatan secara terpusat, khususnya bagi pelaku perjalanan yang terdeteksi positif saat testing acak di titik-titik penyekatan," ujar Wiku dalam keterangan tulis.

Berikut sejumlah pernyataan Satgas terkait penanganan Covid-19 usai libur Lebaran 2021 dihimpun Liputan6.com:

 

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

Sebut Ada Potensi Gelombang Kedua Covid-19 di Indonesia

Ilustrasi gambar SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Corona COVID-19, diisolasi dari seorang pasien di AS. Diperoleh 27 Februari 2020 milik National Institutes of Health yang diambil dengan mikroskop elektron transmisi.(AFP/National Institutes Of Health)
Perbesar
Ilustrasi gambar SARS-CoV-2, virus yang menyebabkan Corona COVID-19, diisolasi dari seorang pasien di AS. Diperoleh 27 Februari 2020 milik National Institutes of Health yang diambil dengan mikroskop elektron transmisi.(AFP/National Institutes Of Health)

Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Sonny Harry B Harmadi memprediksi akan terjadi lonjakan kasus Covid-19 luar biasa di Indonesia. Prediksi ini berangkat dari tiga kondisi yang sudah terjadi di Tanah Air.

Pertama, telah terjadi mobilitas masyarakat yang tinggi dalam beberapa minggu terakhir untuk merayakan Lebaran Idulfitri 2021. Kedua, kepatuhan masyarakat dalam menerapkan protokol kesehatan menurun.

"Di dashboard monitoring perubahan perilaku kami kan kelihatan itu, terjadi penurunan pada kepatuhan protokol kesehatan," katanya dalam diskusi virtual, Kamis (20/5/2021).

Ketiga, kurva kasus harian Covid-19 di sejumlah provinsi di Indonesia mengalami kenaikan. Kenaikan kurva tersebut sejalan dengan peningkatan kasus Covid-19 di beberapa pulau, di antaranya Sumatera.

"Untuk Sumatera terjadi lonjakan kasus harian yang luar biasa. Ini menunjukkan bahwa ada potensi gelombang kedua (Covid-19 di Indonesia)," ujarnya.

Meski muncul potensi gelombang kedua Covid-19, Sonny menyebut secara nasional penambahan kasus Covid-19 masih stabil. Bahkan, kasus aktif dan positivity rate Covid-19 menurun. "Secara nasional kinerja kita masih baik yang ditunjukkan dari penurunan kasus aktif, penurunan kasus harian, positivity rate turun," kata Sony.

 

Minta Masyarakat Tak Berpergian

[Bintang] Tips Mudik Asyik Buat Jomblo
Perbesar
Ilustrasi mudik sendiri | Via: diachra.blogpsot.com

Oleh karena itu, Sony meminta masyarakat tidak berpergian untuk mencegah lonjakan kasus virus Corona.

Pasalnya, kata dia, tingginya mobilitas akan menimbulkan kerumunan dan mengurangi kepatuhan protokol kesehatan.

"Inilah yang memicu lonjakan kasus. Lalu saat terjadi lonjakan kasus covid-19, beban pada pelayanan kesehatan juga ikut meningkat," papar Sony.

Pemerintah, kata dia, telah mengeluarkan kebijakan pelarangan mudik Lebaran dan mengetatkan aktivitas masyarakat ke luar kota. Hasilnya, jumlah penumpang yang menggunakan transportasi darat maupun udara turun di atas 50 persen.

"Transportasi baik angkutan laut, udara, bahkan angkutan darat lalu lintasnya turun 93 persen. Angkutan udara pun turun 70 persen. Esensi pelarangan mudik itu adalah agar masyarakat jangan melakukan perjalanan pada tanggal berapa pun," tegas Sony.

 

Pelaku Perjalanan Wajib Lakukan Karantina 5 Hari

Ilustrasi Karantina Mandiri
Perbesar
Ilustrasi Karantina Mandiri (United Nations COVID-19 Response/Dok. Unsplash)

Sementara itu, Juru Bicara Satgas Covid-19 Wiku Adisasmito kembali mengingatkan bagi pelaku perjalanan libur Lebaran agar melakukan karantina mandiri. Hal ini dilakukan sebagai bentuk antisipasi pencegahan penularan infeksi virus SARS-CoV-2.

"Pelaku perjalanan wajib melakukan karantina 5x24 jam karena mobilitas yang dilakukan di masa pandemi adalah aktivitas berisiko," kata Wiku, dalam konferensi pers 20 Mei 2021.

Karantina mandiri tetap wajib dilakukan meski tidak ada gejala yang mengarah kepada Covid-19. Dengan membatasi diri interaksi dengan orang lain itu sama dengan menjaga kesehatan orang-orang terdekat yang kita sayangi.

"Ini adalah bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan orang terdekat," kata Wiku.

Wiku juga meminta kepada petugas Posko Covid-19 di desa atau kelurahan untuk mengawasi pelaksanaan karantina mandiri tersebut terutama pada daerah tujuan arus balik Lebaran.

Posko-posko juga diminta aktif melakukan tindakan preventif penularan dengan testing dan tracing.

 

Karantina Mandiri Bisa Turunkan Potensi Penularan Covid-19

Puluhan Anak Penghuni Panti Asuhan di Depok Jalani Isolasi Mandiri
Perbesar
Pengasuh mendampingi anak-anak berjemur saat menjalani isolasi mandiri di Panti Asuhan St Fransiskus Asisi, Depok, Jawa Barat, Senin (25/1/2021). Sebanyak 43 penghuni panti asuhan tersebut terkonfirmasi positif covid-19 tanpa gejala dan saat ini dikarantina secara mandiri. (merdeka.com/Arie Basuki)

Wiku pun menyebut bahwa masyarakat berperan penting untuk mencegah lonjakan kasus penularan Covid-19 pasca libur Idulfitri 1442 H.

Bahkan hasil studi ilmuwan, menyatakan bahwa masyarakat dapat menurunkan peluang transmisi (penularan) kasus hingga mencapai 64 persen.

"Cara utama yang dapat dilakukan sekaligus sikap tanggung jawab, melalui isolasi mandiri di fasilitas kesehatan secara terpusat, khususnya bagi pelaku perjalanan yang terdeteksi positif saat testing acak di titik-titik penyekatan," terang Wiku.

Upaya masyarakat untuk menekan potensi laju kasus salah satunya bagi mereka yang menjadi pelaku perjalanan diminta isolasi mandiri atau karantina mandiri selama 5 x 24 jam setelah tiba di tujuan. Baik yang terdeteksi positif dari hasil pemeriksaan acak di titik penyekatan, maupun yang dinyatakan negatif. Wiku mengingatkan bahwa ada perbedaan antara isolasi dan karantina.

Menurutnya karantina ditujukan bagi orang sehat dan tidak memiliki gejala Covid-19, namun memiliki kontak erat dengan orang dengan kasus positif atau baru saja melakukan aktivitas berisiko tinggi terpapar seperti mobilitas yang tinggi saat pandemi.

Sedangkan isolasi, harus dilakukan orang bergejala Covid-19 atau yang positif dari hasil diagnostik yang akurat.

Terkait ini, Wiku merujuk studi Kucharsky et al (2020) berdasarkan BBC Pandemic Data. Data itu menyatakan, dari 40.162 orang di Inggris melakukan isolasi mandiri di dalam rumah, efeknya akan menurunkan peluang penularan di masyarakat sebanyak 29 persen. Dan efek isolasi mandiri di fasilitas isolasi terpusat, akan menurunkan peluang penularan sebesar 35 persen.

Efek isolasi mandiri sekaligus karantina dalam satu rumah, kata Wiku akan menurunkan peluang penularan sebesar 37 persen. Sedangkan jika isolasi mandiri dan karantina dalam satu rumah dilaksanakan dengan tracing dapat menurunkan peluang penularan sebesar 64 persen.

"Dari sini, kita dapat belajar bahwa dari beberapa jenis pencegahan ini saja dapat memberikan dampak yang besar. Bayangkan jika kita melakukan upaya pencegahan lain seperti mencegah kerumunan," kata Wiku.

 

Pastikan Penurunan Kasus Aktif di RI Bukan Akibat Testing Rendah

Pasca Mudik Penghuni Apartemen Ikuti Swab Antigen Gratis
Perbesar
Warga mengikuti tes swab antigen gratis di Tower Alamanda Apartemen GNR, Jakarta, Kamis (20/5/2021). Swab antigen yang digelar pengelola apartemen bekerjasama dengan Polres Jakarta Utara, Polsek Kelapa Gading dan Puskesmas bertujuan untuk menekan penyebaran virus Covid-19.(Liputan6.com/Fery Pradolo)

Wiku menyatakan bahwa jumlah kasus aktif Corona setiap harinya mengalami penurunan. Hingga kini, kasus aktif Covid-19 sudah di bawah angka 90 ribu.

Wiku memastikan hal itu bukan disebabkan karena penurunan testing. Menurutnya kapasitas testing di Tanah Air terus ditingkatkan dan capaiannya selama 9 minggu berturut-turut justru di atas standar Badan Kesehatan Dunia (WHO), yaitu 1 : 1.000 populasi per minggu.

Dari capaian testing ini, data menunjukkan bahwa dalam 13 minggu terakhir jumlah kasus positif Covid-19 memang menurun.

"Jika melihat perkembangan data testing dan kasus secara berdampingan, maka penurunan kasus yang terjadi selama 13 minggu ini bukan karena jumlah testing yang rendah. Kenyataannya, testing konsisten di atas standar WHO selama 9 minggu berturut-turut," ujar Wiku dalam keterangan tertulis yang diterima pada Jumat, 21 Mei 2021.

Lebih jelasnya, perkembangan data testing harian sempat menunjukkan penurunan drastis pada minggu ketiga Februari 2021, yaitu hanya mencapai 74,68 persen dari target WHO.

Namun pada minggu-minggu selanjutnya, menurut Wiku, kapasitas testing terus ditingkatkan dan secara konsisten berada di atas standar WHO dalam 9 minggu terakhir hingga Mei 2021.

Diakui, perkembanganan testing sempat menurun pada minggu kedua Mei 2021, yaitu hanya bisa mencapai 75,37 persen dari target WHO.

"Hal ini dapat terjadi karena periode libur lebaran pada minggu lalu yang mempengaruhi operasional laboratorium. Sehingga menyebabkan jumlah orang yang diperiksa menurun," jelas Wiku.

Jika membandingkan dengan perkembangan kasus positif mingguan, puncak tertinggi terjadi pada minggu kedua Februari 2021. Namun pada minggu-minggu selanjutnya tren penambahan kasus aktif terus menurun tajam hingga hari ini.

Data per 16 Mei 2021, penambahan kasus mingguan, sebesar 26.067 kasus atau turun lebih dari 70 persen dibandingkan saat puncak kasus pada Februari lalu.

Melihat capaian berdasarkan perbandingan data tersebut, menurut Wiku hal itu merupakan hasil kolaborasi yang baik antara pemerintah dan seluruh lapisan masyarakat. Dan juga berkat peningkatan kedisiplinan masyarakat secara kolektif untuk disiplin protokol kesehatan.

 

Minta 7 Daerah Berzona Merah Waspada

Wiku Adisasmito
Perbesar
Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito saat konferensi pers perkembangan COVID-19 di Istana Kepresidenan Jakarta, Kamis, 1 April 2021. (Biro Pers Sekretariat Presiden/Lukas)

Wiku pun meminta pemerintah kabupaten/kota yang masih berada dalam zona merah (risiko tinggi) segera memperbaiki status zonasinya. Dia mengingatkan adanya potensi lonjakan kasus imbas libur panjang Idul Fitri 1442 H.

Wiku mengungkap terdapat kekhawatiran dari perkembangan per 16 Mei 2021. Pasalnya ada tujuh kabupaten/kota yang masih menghuni zona merah Covid-19.

Ada kekhawatiran, jika tidak segera berbenah, kabupaten/kota tersebut akan kewalahan menghadapi dampak dari libur panjang Lebaran.

"Jika saat ini tujuh kabupaten/kota ini sudah berada di zona merah sebelum dampak libur Idulfitri terlihat, bukan tidak mungkin kabupaten/kota ini akan kewalahan menghadapi kemungkinan kenaikan kasus yang berpotensi dalam 2 atau 3 minggu ke depan," ucap Wiku.

Adapun tujuh kabupaten/kota yang ada di zona merah yang menjadi perhatian yakni Sleman (DIY), Salatiga (Jawa Tengah), Palembang (Sumatera Selatan), Pekanbaru (Riau), Solok dan Bukittinggi (Sumatera Barat) dan Deli Serdang (Sumatera Utara).

Wiku juga mengingatkan wilayah lainnya agar terus meningkatkan penanganan Covid-19, utamanya dalam beberapa minggu ke depan. Sebagai antisipasi dampak libur Idul Fitri 1442 H.

"Kesiagaan menghadapi apapun yang terjadi kedepannya merupakan kunci dalam merespon perubahan secara cepat. Sehingga kondisi apapun dapat dikendalikan," Wiku menekankan.

 

Terus Perketat Pengawasan

Wiku Adisasmito
Perbesar
Saat konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, Selasa (11/5/2021), Juru Bicara Satgas Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmito menyebut perkembangan Indonesia lebih baik dibandingkan India yang sedang krisis COVID-19. (Tim Komunikasi Satgas COVID-19/Damar)

Wiku mengingatkan agar pemerintah daerah mengupayakan semaksimal mungkin peningkatan kualitas dan kuantitas pelayanan kesehatan.

Perketat kembali pengawasan terhadap kepatuhan protokol kesehatan serta memaksimalkan skrining dan testing terutama pada warga yang baru pulang dari bepergian.

Tidak lupa memantau dan mewajibkan masyarakat yang baru pulang bepergian. Masyarakat yang usai berpergian juga diminta karantina mandiri 5 x 24 jam untuk mencegah potensi penularan yang lebih luas.

Wiku mengungkap bahwa per 16 Mei, daerah yang masuk zona merah berkurang dari 12 menjadi 7 kabupaten/kota.

Zona oranye bekurang dari 324 menjadi 321 kabupaten/kota. Zona kuning (risiko rendah) baik dari 169 menjadi 177 kabupaten/kota, sementara zona hijau tidak ada kasus baru dan tidak terdampak, jumlahnya tetap, masing-masing sebanyak 8 kabupaten/kota

"Saya mengapresiasi pemerintah daerah karena data menunjukkan terjadi penurunan di zona risiko tinggi dan zona risiko sedang. Adapun dari minggu ke minggu, angka zona risiko sedang cenderung mengalami kenaikan," pungkas Wiku.

 

(Dinda Permata)

Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran

Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran
Perbesar
Infografis Awas Lonjakan Covid-19 Libur Lebaran (Liputan6.com/Triyasni)

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓