BMKG: Bulan Agustus, Suhu di Semarang, Kupang, dan Surabaya Bisa Capai 37 Derajat Celcius

Oleh Liputan6.com pada 18 Mei 2021, 07:36 WIB
Diperbarui 18 Mei 2021, 07:36 WIB
Potret Warga Jakarta Saat Dilanda Suhu Panas
Perbesar
Seorang wanita menggunakan payung selama gelombang panas di Jakarta, Selasa (22/10/2019). BMKG memprediksi wilayah Indonesia akan mengalami panas selama kurang lebih satu minggu ini. Hal ini dikarenakan matahari yang berada dekat dengan jalur khatulistiwa. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengungkapkan bahwa sebagian wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau sejak bulan April. Berdasarkan pantauan BMKG per 1 Mei 2021, 28 persen wilayah di Indonesia sudah memasuki musim kemarau. Inilah sebabnya banyak masyarakat di Jakarta dan sekitarnya yang mengeluhkan cuaca panas.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Herizal membenarkan bahwa suhu di Jakarta dan sekitarnya saat ini berkisar antara 33-35 derajat celcius. Berdasarkan hasil pengamatan BMKG, suhu maksimum tanggal 16 Mei 2021 BMKG mencatat suhu maksimum yakni antara 33-35,2 derajat celsius. Di mana suhu 35,2 derajat Celsius terjadi di Surabaya.

"Dalam beberapa hari terakhir memang suhu siang hari di beberapa wilayah kisaran 33-35 derajat celcius karena memasuki musim kemarau. Ini masih normal untuk bulan Mei," kata Herizal saat dihubungi merdeka.com, Senin 17 Mei 2021.

Herizal pun menegaskan bahwa suhu tersebut tergolong normal. Karena pada puncak musim kemarau Agustus mendatang, dia memprediksi suhu di sebagian wilayah Indonesia bisa mencapai 37 derajat celcius.

"Wilayah Bali, Nusa Tenggara Barat, dan Nusa Tenggara Timur saat ini sudah memasuki musim kemarau. Bulan Agustus nanti, beberapa wilayah seperti Semarang, Kupang, dan Surabaya suhunya bisa mencapai 37 derajat celcius," kata Herizal.

Dia mengimbau masyarakat untuk mempersiapkan musim kemarau. Karena suhu udara bisa terus meningkat hingga 37 derajat celcius pada puncak bulan kemarau. Dia mengingatkan masyarakat rentan untuk menghindari kegiatan di ruang terbuka yang langsung terpapar sinar matahari.

"Masyarakat bisa menabung air di masa transisi musim hujan dan kemarau. Untuk keluarga umur tertentu, kami imbau agar membatasi kegiatan di tempat terbuka menjelang kemarau dan saat puncak musim kemarau," pesannya.

Meskipun begitu, dia meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak khawatir akan datangnya bulan kemarau. Karena musim kemarau tahun ini akan sama dengan musim kemarau tahun-tahun sebelumnya.

"Musim kemarau tahun ini diperkirakan sama dengan rata-rata kemarau selama 30 tahun ini. Kecuali di bulan April dan Mei (kelembabannya) memang lebih basah dari normalnya," ujarnya.

Dia pun berharap, masyarakat tidak mudah terpercaya dengan hoaks, khususnya terkait isu gelombang panas atau heatwave yang melanda Indonesia. Herizal menegaskan bahwa isu itu tidak benar.

Karena kata dia, fenomena tersebut biasanya terjadi di wilayah lintang menengah-tinggi seperti wilayah Eropa dan Amerika. Sedangkan Indonesia berada di sekitar wilayah ekuatorial, sehingga memiliki karakteristik dinamika atmosfer yang berbeda dengan wilayah lintang menengah-tinggi.

 

2 dari 3 halaman

Mengapa 28 Persen Wilayah yang Kemarau

Kemudian, dia juga menjelaskan mengapa hanya 28 persen wilayah di Indonesia yang sudah memasuki bulan kemarau. Sedangkan 72 persen wilayah lainnya masih diguyur hujan deras alias masih mengalami musim penghujan. Hal itu dikarenakan Indonesia memiliki 342 zona musim atau zom.

"Sehingga awal dari musim kemarau tidak sama antara satu zom dengan zom lainnya. Namun beberapa zom diprediksi telah masuk musim kemarau pada bulan April," kata Herizal.

Selain karena memasuki musim kemarau, penyebab cuaca di Jakarta dan sekitarnya terasa panas yakni karena tingkat radiasi matahari yang sampai ke bumi cukup tinggi. Hal itu, kata Herizal, disebabkan karena jumlah awan yang sedikit.

"Mengapa cuaca terasa panas karena jumlah awannya sedikit. sehingga menyebabkan radiasi matahari yang sampai ke permukaan bumi lebih besar. Langit cerah, cuaca lebih panas," bebernya.

"Di sebagian wilayah Indonesia bagian barat, masih banyak tumbuh awan-awan konvektif. Pada saat proses tumbuh biasanya udara akan terasa lebih gerah. karena proses pembentukan awan kan melepaskan panas laten di atmosfer," lanjutnya.

 

Reporter: Rifa Yusya Adilah

Sumber: Merdeka.com

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini:

Lanjutkan Membaca ↓