Cerita Zakiah soal 24 Jam Krusial Sebelum Anaknya Meninggal Usai Vaksin AstraZeneca

Oleh Liputan6.com pada 11 Mei 2021, 12:37 WIB
Diperbarui 11 Mei 2021, 14:51 WIB
FOTO: Ribuan Tenaga Kesehatan Jalani Vaksinasi Dosis Pertama Secara Massal
Perbesar
Vaksinator bersiap menyuntikkan vaksin COVID-19 dosis pertama produksi Sinovac kepada tenaga kesehatan saat vaksinasi massal di Istora Senayan, Jakarta, Kamis (4/2/2021). Rencananya, sekitar enam ribu tenaga kesehatan akan mengikuti vaksinasi COVID-19 dosis pertama ini. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Liputan6.com, Jakarta - Zakiah berusaha tegar saat menceritakan 24 jam krusial sebelum kepergian putranya, Trio Fauqi Virdaus, usai mendapat vaksin Covid-19. Trio meninggal dunia setelah sehari mendapat suntikan vaksin AstraZeneca.

Sebagai pegawai outsourcing di sebuah BUMN, Trio berkesempatan mendapatkan vaksin Covid-19 pada Rabu, 5 Mei 2021.

Zakiah mengatakan, Trio pergi kerja dalam keadaan sehat walafiat. Oleh karena itu, dia kaget ketika Trio pulang cepat. Hal tersebut di luar kebiasaan putranya.

Saat itu, Trio mengeluh badan linu hingga sakit kepala.

"Pulang ke rumah sekitar setengah 4 atau jam 4. Saya tanya kenapa bang kok sudah pulang baru gini hari. 'Saya divaksin ma, badan saya linu semua rasanya, kepala saya sakit banget.'," kata Zakiah mengulang percakapan dengan putranya, kepada Merdeka di kediamannya, di kawasan Buaran, Jakarta Timur, Selasa (11/5/2021).

Dia kemudian menyarankan Trio membatalkan puasanya dengan air putih. Trio pun terlelap hingga waktu berbuka. Setelah meneguk teh manis, dia kembali terlelap.

Namun, tengah malam Trio terjaga. Sakit kepala semakin tidak tertahankan. Zakiah menceritakan rintihan kesakitan yang dialami putranya.

"Mah, saya enggak kuat tolong mah. Kepala saya sakit banget mah, tulang saya linu sakit semua," kata Trio ditirukan Zakiah.

"Sampai dia nyebut, ya Allah mah saya enggak pernah sakit, kenapa sekali divaksin saya sakit ya Allah," sambung dia.

Zakiah menyarankan Trio untuk meminum obat sakit kepala. Namun ditolak lantaran takut karena usai vaksin. Sempat diukur suhu badannya, saat Trio panas. Tetapi suhu badannya tak lama turun. Trio kembali terlelap hingga pagi.

Keesokan paginya, Trio diantar teman ke dokter. Namun, dokter yang ia datangi baru buka praktik sekitar pukul 20.00 WIB. Kembali ke rumah, Trio masih merintih sakit kepala.

Tidur menahan sakit, Trio masih bercanda dengan sang adik. Meminta adiknya untuk memijitnya, dengan janji akan dibelikan paket internet.

"Tolong dek pijitin Aa' dong kakinya. Pijitin kakinya, tar abang beliin paketan," cerita Zakiah.

 

2 dari 4 halaman

Tiba-Tiba Lemas

Tak lama, Trio duduk bersandar. Dia terlihat lemas. Badannya tidak kaku. Trio pun tak berbicara. Panik melihat kondisi putranya, Zakiah meminta bantuan dan mengantar ke rumah sakit terdekat.

Rumah sakit paling dekat adalah Asta Nugraha yang merupakan RS bersalin. Trio dan ibunya ditolak karena tak bisa membantu pasien akibat vaksinasi.

Kemudian disarankan pindah ke rumah sakit yang lebih besar. Ketika menunggu kendaraan untuk ke rumah sakit lain, RS Asta Nugraha memanggil kembali untuk diperiksa di dokter umum.

Dokter menyatakan Trio sudah meninggal dunia. Saat dipastikan menggunakan alat, dinyatakan telah meninggal pukul 12.30 WIB, Kamis 6 Mei 2021.

"Untuk memastikan harus tes jantung, dibawa ke dalam dipastikan di situ jam 12.30 dokter menyatakan sudah tidak ada," kata Zakiah.

3 dari 4 halaman

Kata KIPI

Komisi Nasional Kejadian Ikutan Pasca Imunisasi (Komnas KIPI) telah melakukan pengkajian terhadap kasus meninggalnya Trio Fauqi Virdaus usai divaksinasisasi Covid-19 AstraZeneca. Hasil kajian sementara, belum cukup bukti bahwa Trio Fauqi Virdaus meninggal karena vaksin AstraZeneca.

"Internal Komnas kemarin sore menyimpulkan bahwa belum cukup bukti untuk mengaitkan KIPI ini dengan imunisasi," kata Ketua Komnas KIPI, Hindra Irawan Satari, Senin (10/5).

Lantaran belum cukup bukti, Komnas KIPI melakukan investigasi lebih lanjut terhadap kasus meninggalnya pemuda asal Buaran, Jakarta itu. Investigasi ini melibatkan berbagai pihak, termasuk Komda KIPI DKI Jakarta.

"Masih perlu dilakukan investigasi lebih lanjut," ujarnya.

 

Reporter: Ahda Bayhaqi

Sumber: Merdeka

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓