Polemik Bipang Ambawang, Tim Komunikasi Presiden Jokowi Perlu Dievaluasi

Oleh Lizsa Egeham pada 09 Mei 2021, 15:00 WIB
Diperbarui 10 Mei 2021, 12:41 WIB
Jokowi meresmikan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo Surabaya. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)
Perbesar
Jokowi meresmikan fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di TPA Benowo Surabaya. (Dian Kurniawan/Liputan6.com)

Liputan6.com, Jakarta Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio menyebut tim komunikasi Presiden perlu dievaluasi, menyusul ramainya pidato Presiden Joko Widodo atau Jokowi yang mempromosikan bipang Ambawang khas Kalimantan.

Pasalnya, bukan kali ini saja pidato Jokowi dianggap blunder oleh publik.

"Jadi menurut saya harus diperbaiki dan selanjutnya bisa benar-benar smooth lah pesan komunikasi oleh Pak Presiden ini," kata Hendri saat dihubungi Liputan6.com, Minggu (9/5/2021).

Menurut dia, promosi bipang Ambawang yang disampaikan Jokowi saat momen Lebaran memanglah tak tepat. Hendri mengatakan masih banyak kuliner khas Kalimantan lainnya yang lebih tepat dipromosikan oleh Jokowi selain bipang Ambawang.

"Memang enggak pas lah. Banyak yang lain selain bipang, banyak kuliner lain selain bipang. Jadi seolah-olah seperti terbatas juga kemampuannya," jelas Hendri.

Dia menuturkan kontroversi bipang Ambawang memang tidak perlu diperpanjang sebab sudah diklarifikasi oleh Kementerian Perdagangan. Hanya saja, hal ini harus menjadi pelajaran penting bagi siapapun yang membuat naskah pidato untuk Presiden.

Hendri menekankan naskah pidato Presiden harus dibuat dengan mempertimbangkan momentum dan situasi di masyarakat.

Selain itu, teks pidato yang akan dibaca Presiden Jokowi harus betul-betul diperiksa berkali-kali agar tak terjadi blunder.

"Sebaiknya komunikasi publik pemerintah harus diperbaiki karena ini problem yang terus berulang dan Pak Jokowi jadi korban terus dari kesalahan-kesalahan pidato ini," tutur Hendri.

 

2 dari 3 halaman

Menteri Agama Minta Maaf

Sebelumnya, Menteri Perdagangan (Mendag) M Lutfi secara terbuka meminta maaf kepada masyarakat luas mengenai pernyataan Presiden Joko Widodo (Jokowi) soal Bipang Ambawang yang viral. Dalam video yang beredar, Jokowi terkesan mempromosikan Bipang Ambawang, kuliner khas Kalimantan Barat.

Bipang sendiri merupakan makanan yang bahan utamanya adalah daging babi muda. Karena cita rasanya yang khas, bipang akhirnya dikemas dan dijadikan makanan oleh-oleh di Pontianak.

Mendag menegaskan, pernyataan Presiden Jokowi tersebut harus dimaknai secara luas. Dalam hal ini, tidak ada maksud apapun oleh Jokowi untuk mempromosikan makanan khas Pontianak tersebut.

"Pernyataan Pak Presiden yang ada dalam video tersebut mengajak masyarakat Indonesia untuk mencintai dan mebeli produk lokal. Pernyataan itu ditujukan ke seluruh masyarakat Indonesia yang terdiri dari beragam suku agama, budaya, yang memliki kekayan kuliner nusantara. Setiap makanan memilki kekhasan dan menjadi makanan favorit lokal," kata Mendag, Sabtu 8 Mei 2021.

Dalam video yang beredar, sebenarnya konteks utuhnya yaitu Presiden Jokowi mengajak masyarakat untuk tidak mudik. Jika rindu akan makanan kampung halaman, Jokowi mengajak masyarakat untuk membelinya secara online dan bisa dijadikan sebagai bingkisan lebaran.

Tidak hanya Bipang Ambawang, Jokowi juga menyebutkan Gudeng Jogja, Bandeng Semarang, Siomay Bandung, Pempek Palembang, dan berbagai kuliner nusantara lainnya.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓