Menkes Sebut Biaya Kesehatan Covid-19 Akan Makin Mahal Tanpa Vaksinasi

Oleh Nanda Perdana Putra pada 08 Mei 2021, 16:59 WIB
Diperbarui 08 Mei 2021, 17:00 WIB
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin
Perbesar
Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menghadiri acara Mata Najwa dalam sesi 'Beres-beres Kursi Menkes' pada 6 Januari 2021. (Dok Kementerian Kesehatan RI)

Liputan6.com, Jakarta Menteri Kesehatan (Menkes) Budi Gunadi Sadikin menegaskan, pihaknya terus berupaya menanggulangi pandemi Covid-19. Dukungan berbagai upaya promotif atau peningkatan pencegahan awal pun digalakkan, salah satunya lewat pemerataan vaksinasi.

"Dari angka di bawah Rp 1 juta hingga ratusan juta (biayanya) menunjukan bahwa kalau fokusnya banyak di sisi kuratif (penyembuhan), terlambat atau kurang agresif di sisi promotif, akan terjadi lonjakan biaya sampai ratusan kali," tutur Budi dalam Webinar Pekan Imunisasi Dunia yang diselenggarakan KPCPEN, Sabtu (8/5/2021).

Budi menyebut, gerakan masyarakat yang masuk kategori pencegahan seperti kebiasaan hidup sehat dinilai akan mampu menekan biaya kesehatan di sektor kuratif.

"Itulah alasannya sesuai arahan Presiden Joko Widodo, kami sudah menyusun perbaikan rencana strategis kesehatan, sekaligus memutuskan bahwa mulai tahun 2022 Indonesia akan melakukan vaksinasi untuk 14 antigen secara nasional, sebagai upaya promotif untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat, dan menekan biaya kuratif yang tidak terkontrol," jelas Budi.

Humas Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Hartono Gunardi menyambut baik revisi rencana strategis kesehatan terkait program vaksinasi 14 antigen.

"Banyak penyakit yang mengancam anak dunia, termasuk Indonesia. Imunisasi ini akan menekan 2 juta angka kematian, dan pada masa pandemi ini karena cakupan imunisasi yang berkurang, dikhawatirkan akan meningkatkan risiko kejadian luar biasa penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I)," ujar Hartono. 

 

2 dari 3 halaman

Sosialisasi Program Vaksinasi

Tenaga Ahli Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo), Donny Budi Utoyo menambahkan, pergeseran pola hidup masyarakat di era digitalisasi telah mengubah juga pola konsumsi informasi. Sosialisasi terkait program vaksinasi pun bukan tanpa kendala.

Hasil data riset, dari 9 jam waktu konsumsi internet masyarakat Indonesia, hanya sekitar 30 persen yang digunakan untuk mengakses media sosial dan dinilai menjadi salah satu faktor tingkat keberhasilan dalam upaya melawan pandemi Covid-19.

"Media sosial adalah tempat orang-orang ikut menyebarkan informasi-informasi yang salah dengan pola FUD, yaitu menyebarkan ketakutan, menyebarkan ketidakpastian atau keragu-raguan," katanya.

"Segenap elemen bangsa harus bekerja sama menanggulangi persoalan komunikasi publik akibat hoaks, yang dapat mempengaruhi rencana strategis kesehatan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, termasuk program vaksinasi Covid-19 sebagai upaya bersama menanggulangi pandemi di Tanah Air," Donny menandaskan.

 

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓