Studi Kajian Terorisme: Pemahaman Keliru Berujung Teror Berlatar Belakang Agama

Oleh Nanda Perdana Putra pada 08 Mei 2021, 18:03 WIB
Diperbarui 08 Mei 2021, 18:03 WIB
Ilustrasi Teror
Perbesar
Ilustrasi Teror. (Liputan6.com/Rita Ayuningtyas)

Liputan6.com, Jakarta - Aksi terorisme di Indonesia masih terjadi dan mereka yang bergabung dalam kelompok pelaku teror banyak pula dari kalangan anak muda. Berbagai pihak pun menegaskan terorisme bukan ajaran agama mana pun.

Ketua Program Studi Kajian Terorisme Sekolah Kajian Strategik dan Global Universitas Indonesia, Muhammad Syauqillah mengatakan teror tentunya sangat bertentangan dengan inti ajaran Islam.

"Tidak bisa dipungkiri juga, memang pelaku teror itu rata-rata berbasis latar belakang keagamaan. Kalau di Indonesia misalnya mayoritas bergama muslim, di India dan Myanmar itu Hindu dan Budha. Dan kalau kita tengok ke negara-negara lain, memang terorisme itu tidak dimonopoli atau milik agama-agama tertentu," tutur Syauqillah dalam acara yang digelar BKN Pusat PDI Perjuangan secara virtual bertemakan Terorisme Bukan Ajaran Agama, Sabtu (8/5/2021).

Menurut dia, di Islam sendiri pengertian jihad masih banyak disalahartikan oleh pihak tertentu dan kaitkan dengan teror. Sementara, di luar negeri pun kasus serupa turut terjadi.

"Ada misalnya terorisme berbasis supremasi kulit putih, seperti yang baru-baru ini kita lihat di Amerika. Ada juga yang berbasis etnonasionalism, seperti PKK yang ada di Kurdi, Suriah atau Turki. Atau ada juga yang terkait dengan gerakan right wing atau left wing seperti yang terjadi di Amerika Latin atau negara-negara lain," jelas Syauqillah.

Syauqillah menyebut, teror sebenarnya berasal dari pemahaman agama yang keliru. Dalam Islam misalnya, banyak pihak yang menafsirkan ayat-ayat tentang perang dalam Alquran secara tekstual.

Jihad Ditafsirkan Keliru

Padahal, Indonesia adalah negara yang damai tanpa keadaan perang sedikit pun. Namun, ada kelompok yang mengembangkan narasi-narasi perang di Indonesia.

"Terkait jihad, banyak ditafsirkan secara keliru seolah berperang itu jihad. Padahal, arti jihad itu sungguh-sungguh. Jadi kalau konteks Indonesia yang damai ini bukan perang bentuk jihadnya, tetapi sungguh-sungguh menjaga kedamaian, sungguh-sungguh bekerja, sungguh-sungguh menolong terhadap sesama, itu jihad," kata Syauqillah.

"Jadi teror bukan jihad, apalagi dalam ajaran agama Islam ada intinya, yaitu menjaga kehidupan. Membunuh satu orang saja itu artinya membunuh kehidupan, membunuh umat manusia. Jadi, melakukan teror yang membunuh orang jelas menyalahi inti dari ajaran agama," sambungnya.

Dia pun berharap anak muda Indonesia dapat mengantisipasi perkembangan perekrutan anggota teroris era masa kini. Sebab, metode yang digunakan tidak saja secara offline, namun juga online.

"Jadi senjata anak muda untuk menghadapi itu adalah kritis setiap menerima informasi dari media apapun itu," Syauqillah menandaskan.

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓

Tag Terkait