Stasiun Tanah Abang Ditutup untuk Cegah Kerumunan, Efektifkah?

Oleh Rita Ayuningtyas pada 04 Mei 2021, 11:38 WIB
Diperbarui 04 Mei 2021, 12:32 WIB
Suasana Stasiun Tanah Abang Saat Sore Hari
Perbesar
Penumpang KRL mengantre di Stasiun Tanah Abang, Jakarta Pusat, Kamis (4/2/2021) sore. Menurut keterangan petugas, antrean panjang tersebut hampir terjadi setiap harinya saat bulan Ramadhan. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Membeludaknya pengunjung Pasar Tanah Abang berujung pada penutupan Stasiun Tanah Abang pukul 15.00-19.00 WIB mulai Senin 3 Mei 2021.

Pada jam tersebut, Kereta Rel Listrik (KRL) tidak berhenti dan berangkat di Stasiun Tanah Abang untuk mengantisipasi kepadatan penumpang menuju pasar dekat stasiun itu.

Namun yang terjadi, kepadatan beralih ke stasiun lainnya di sekitar Tanah Abang. Ini terbukti dari data yang dirilis KAI Commuter. 

"Tercatat jumlah pengguna di Stasiun Palmerah mencapai 12.464 orang atau bertambah 49 persen dibanding waktu yang sama Senin (26/4/2021) pekan lalu di waktu yang sama yaitu 8.333 orang," kata Vice President Corporate Secretary KAI Commuter, Anne Purba, dalam keterangan tertulis, Selasa (4/5/2021).

Lalu untuk Stasiun Karet tercatat kenaikan jumlah pengguna hingga 73 persen bila dibandingkan pada Senin pekan lalu pukul 21.00 WIB yakni hanya sebanyak 7.535 pengguna.

Hingga pukul 21.00 WIB, Senin (3/5/2021) jumlah pengguna KRL di seluruh stasiun mencapai 455.627 orang atau bertambah sekitar 7 persen dibanding Senin pekan sebelumnya.

 

Lonjakan penumpang di stasiun sekitar Tanah Abang ini membuat para pekerja yang menggunakan KRL menjerit. Mereka menilai, kebijakan penutupan Stasiun Tanah Abang di jam tertentu bukan solusi. Chandra, pekerja di Palmerah, salah satunya.

"Tutup Stasiun Tanah Abang bukan solusi sih buat atasi orang-orang mau belanja. Soalnya dari Palmerah ke Tanah Abang kan relatif dekat. Mereka turun lalu lanjut angkot enggak masalah. Jadinya yang terhambat ya pekerja," ujar Chandra saat berbincang dengan Liputan6.com, Selasa (4/5/2021).

Ketika mengetahui sesaknya Stasiun Palmerah pada kemarin sore, dia memutuskan untuk menunggu hingga penumpang kereta longgar. Terlebih, saat ini, pandemi Covid-19 masih melanda Tanah Air.

"Sebelum Corona, aku pengguna kereta. Sejak Maret 2020 sampai puasa hari pertama kemarin naik motor. Tapi karena puasa kan baliknya sore ya, jadi enggak solutif juga motoran di jam sore. Harusnya 1 jam sampai rumah, ini harus 2 jam. Baru lagi beraniin diri keretaan lagi," tutur Chandra.

Warga Pamulang, Tangsel itupun meminta pemerintah agar mencari solusi untuk mencabut akar permasalahannya. Bukan dengan menutup Stasiun Tanah Abang di jam tertentu.

"Saranku malah agak ekstrim nih. Pasar Tanah Abang saja yang ditutup sebagian misalkan. Diatur per hari atau gimana gitu. Jadi gerak pembeli berkurang. Atau malah dari stasiun awal pemberangkatan sudah di-screening. Kan biasanya kelihatan, mana orang-orang mau belanja mana pekerja. Paling enggak diminimalisasi biar enggak orang belanja lolos semua," kata Chandra.

Hal serupa dikemukakan oleh Aris Prasetyo, pekerja di seputaran Palmerah. Pengguna KRL itupun menilai penutupan solusi dari membeludaknya Pasar Tanah Abang dan tak efektif untuk mencegah kerumunan.

Warga Tangerang Selatan itu menyarankan agar belanja di Pasar Tanah Abang dilakukan secara online saat Ramadan. Terlebih, kepadatan di Pasar Tanah Abang merupakan hal yang terjadi setiap tahunnya menjelang Lebaran.

"Sebaiknya Pasar Tanah Abang yang ditutup, sumbernya langsung. Jual beli secara daring saja pas Ramadan atau jelang Lebaran saja," ujar Aris kepada Liputan6.com.

Menurut dia, Pemprov DKI harus berpikir lebih modern di era pandemi. 

"Intinya mencegah pembeli datang ke Tanah Abang saja sih biar enggak timbul kerumunan. Ntar malah jadi klaster Covid-19 baru kan berbahaya," ucap Aris.

Oleh karena itu, memutuskan tak lagi menggunakan KRL untuk sementara.

2 dari 3 halaman

Transportasi Bagi Pengunjung Tanah Abang Masih Mudah

Meski jam operasional Stasiun Tanah Abang dibatasi, Pemerintah Provinsi DKI masih menyediakan transportasi alternatif bagi pengunjung Tanah Abang yang akan bertolak dari pusat grosir tersebut.

Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Syafrin Liputo menyatakan pihaknya akan menyediakan sejumlah layanan bus Transjakarta gratis untuk para pengunjung Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat ke sejumlah stasiun terdekat.

Sebab Stasiun Tanah Abang tidak akan menerima penumpang turun dan naik pada pukul 15.00 sampai 19.00 WIB.

"Disiapkan layanan Transjakarta gratis dari Stasiun Tanah Abang (ke) Stasiun Palmerah," kata Syafrin di Balaikota, Jakarta Pusat, Senin (3/5/2021).

Lalu nantinya, bus gratis juga mengantarkan penumpang dari Stasiun Tanah Abang ke Stasiun Karet, Duri, dan Angke. Syafrin juga menyatakan untuk jumlah armada bus akan terus bertambah mengikuti situasi yang ada.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓