Special Content: Perilaku Konsumtif Berlebih Masyarakat, Efek Komersialisasi Ramadan?

Oleh Windi.WicaksonoJonathan Pandapotan Purba pada 23 Apr 2021, 23:00 WIB
Diperbarui 28 Apr 2021, 17:18 WIB
Ilustrasi perilaku konsumtif Ramadan (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
Ilustrasi perilaku konsumtif Ramadan (Liputan6.com / Abdillah)

Liputan6.com, Jakarta - Bulan Ramadan tak hanya mengubah sebagian besar masyarakat menjadi lebih religius. Di Indonesia, seringkali perubahan juga terjadi dalam hal pengeluaran keuangan.

Tidak sedikit umat Muslim yang merasa ketika Ramadan, pengeluaran mereka malah semakin besar. Padahal, apabila dihitung secara sederhana, mereka makan lebih sedikit saat puasa yakni dua kali: ketika sahur dan berbuka, dibanding hari biasa yang makan tiga kali.

Peningkatan pengeluaran juga dapat dilihat dari jumlah uang beredar ketika Lebaran dibanding bulan sebelumnya (uang beredar artian sempit M1):

Sumber Data: Bank Indonesia

M1 terdiri dari uang kartal di luar bank umum dan BPR, dan simpanan giro rupiah. Selain itu, kenaikan harga kebutuhan pangan juga terjadi di bulan Ramadan hingga Lebaran. Ini faktor lain yang membuat pengeluaran masyarakat meningkat selama Ramadan.

Kenaikan harga kebutuhan pangan memang terasa di bulan Ramadan. Hal ini dikeluhkan para ibu rumah tangga, salah satunya Eni, warga Kayu Putih Jakarta Timur, yang menyebut kenaikan harga sejumlah barang pokok sudah mulai memberatkan.

Saat ini saja di Pasar Ampera Jakarta Timur, harga daging ayam Rp45.000/kg, harga daging sapi Rp130.000/kg, telur ayam ras Rp26.000/kg, cabai merah keriting Rp65.000/kg, cabai merah besar Rp75.000/kg, dan bawang merah Rp40.000/kg.

Di sisi lain, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan Rp13.800/liter, minyak goreng kemasan Rp14.500–Rp16.500/liter, sedangkan gula pasir curah mencapai Rp13.000–Rp13.500/kg. Sementara itu, harga beras tergolong stabil yakni beras medium Rp10.000–Rp11.000/kg, beras premium Rp12.000–Rp13.000/kg.

"Dari sebelum Ramadan sudah naik harga-harga kebutuhan. Takutnya nanti pas sudah dekat Lebaran, harganya semakin mahal lagi," kata Eni saat ditemui usai berbelanja.

Menurut Pengamat INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), Bhima Yudhistira, kenaikan harga yang terjadi karena permintaan yang meningkat, yang disebabkan konsumsi selama Ramadan. Terlebih, kata dia, nanti momentum puncaknya biasanya ketika mudik dan Lebaran.

Bhima menjelaskan, saat bulan Ramadan, masyarakat biasanya melakukan ekses konsumsi atau belanja yang relatif lebih tinggi dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Salah satu faktornya karena memang ada THR (Tunjangan Hari Raya).

"Jadi kalau orang dikasih gaji double seperti THR, dia akan cenderung belanja lebih banyak. Dan di sisi permintaan memang ada kenaikan secara musiman, tetapi di sisi yang lain memang ada pedagang yang memanfaatkan momentum lebaran untuk mendapatkan keuntungan," ucap Bhima kepada Liputan6.com.

Dia menambahkan, "Nah, di sinilah memang perlunya intervensi pemerintah. Karena kalau dibiarkan liar, margin keuntungannya bisa sangat besar. Dan itu nanti juga akan menggerus daya beli masyarakat yang memang pas-pasan atau masyarakat menengah ke bawah."

Manipulasi Harga

Bhima mengatakan, ketika harga bahan pokok naik karena ada oknum pedagang yang memanipulasi di harga atau menahan stok, hal itu bisa berdampak pada kelas menengah ke bawah. Oleh karena itu, pentingnya ada intervensi dari pemerintah ketika memasuki bulan Ramadan.

Menurut Bhima, biasanya kalau harga barang itu sudah terlalu tinggi dan tidak rasional, pemerintah melakukan intervensi dengan dua cara: operasi pasar dan menentukan harga eceran tertinggi.

"Operasi pasar yakni pemerintah menggelontorkan pasokan di pasar tradisional sehingga membuat efek pedagang itu tidak bisa memainkan harga, karena ada harga yang ditetapkan oleh pemerintah. Dan harga eceran tertinggi itulah yang sekarang masih berlaku untuk mengendalikan harga komoditas agak tidak terlalu tinggi kenaikannya," bebernya.

"Jadi kenaikan di bulan Ramadan memang wajar, didorong oleh permintaan. Tapi kenaikannya juga jangan tinggi sekali. Mungkin itu dua faktor kenapa ada tiap ramadan kenaikan harga pangan," Bhima menjelaskan.

2 dari 7 halaman

Kebiasaan Makan yang Berubah

Ilustrasi ramadan. puasa, buka puasa, kurma
Perbesar
(Photo by Naim Benjelloun from Pexels)

Pakar pengelolaan keuangan, Safir Senduk, berpendapat, sesungguhnya porsi makan ketika menjalani puasa dan hari biasa, sama saja. Hanya saja, kata Safir, kebiasaan makannya yang berubah.

Dia menggambarkan bagaimana di hari-hari biasa, banyak orang memilih tidak makan berat saat sarapan, lalu makan berat pada saat siang dan malam. Ketika puasa Ramadan, sahur diisi dengan makan berat, demikian pula ketika berbuka puasa, yang terkadang malah diawali makan ringan sebelum makan berat.

"Jadi, sahur itu ibarat dia menggantikan sarapan dan makan siang sekaligus. Kemudian, sore buka puasa. Orang buka puasa dua macam nih, ada yang makan ringan kemudian disambung dengan makan malam sekitar satu jam kemudian. Atau ada juga orang yang buka puasa sore langsung berat makan malam. Jadi, sebetulnya kalau mau dilihat-lihat, walaupun sepertinya orang makan 2-3 kali sehari, jatuhnya sama dari segi kuantitas," beber Safir ketika dihubungi Liputan6.com.

Jadi, secara pengeluaran untuk makan, sebenarnya juga tidak berkurang. Selain itu, yang sering terjadi dan bukan rahasia lagi adalah harga kebutuhan pokok biasanya kerap melonjak naik di bulan Ramadan. Kenaikan harga tersebut tentu memberikan dampak yang sangat terasa dalam hal pengeluaran.

Perilaku konsumtif masyarakat ketika Ramadan dan Lebaran juga bukan rahasia lagi. Terdapat pengeluaran-pengeluaran di luar kebiasaan yang hanya terjadi di bulan Ramadan.

Salah satunya kegiatan buka bersama yang sering dijadikan ajang berkumpul sekaligus reuni teman-teman atau keluarga. Ini jelas akan membuat kita menganggarkan dana, karena biasanya dilakukan lebih dari sekali.

Biaya persiapan Lebaran juga masuk hitungan. Pengeluaran dapat membengkak menjelang Hari Raya Idulfitri. Di momen itu, uang biasanya dikeluarkan untuk membeli makanan, baju baru, sampai uang THR untuk saudara-saudara yang masih kecil. Tapi, jangan lupakan juga kewajiban umat Muslim untuk membayar zakat fitrah.

Selain itu, terdapat biaya mudik bagi masyarakat perantau. Mudik Lebaran sudah menjadi agenda tahunan untuk mereka, sehingga dana untuk membeli uang tiket pesawat, kereta api, bus, atau kapal laut perlu disiapkan, mengingat harga tiket yang naik menjelang Idulfitri.

Adanya tren perubahan perilaku masyarakat selama Ramadan hingga Lebaran terlihat dari sisi konsumsi. Data yang dirilis sebuah digital agency bernama ADA pada Februari 2020 menunjukkan aktivitas masyarakat yang berubah saat Ramadan.

Menurut data ADA, perubahan pertama yakni masyarakat banyak melakukan belanja peralatan rumah tangga dan elektronik menjelang Lebaran. Ini terlihat dari adanya kenaikan aktivitas belanja peralatan rumah tangga dan elektronik pada minggu terakhir bulan Ramadhan hingga Lebaran.

Hal ini kemungkinan berkaitan dengan Tunjangan Hari Raya (THR), yang baru saja dibagikan. Lalu yang kedua, kegiatan mudik sebelum Ramadan atau menjelang Lebaran. Di Indonesia, terjadi dua kali puncak aktivitas mudik yakni saat seminggu sebelum Ramadan dengan Jawa Tengah sebagai provinsi yang paling banyak dituju.

Puncak mudik yang kedua tentu saja ketika sepekan menjelang Lebaran dengan Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, dan DIY Yogyakarta sebagai provinsi yang paling banyak dituju. Namun, seperti Lebaran tahun lalu, mudik tahun ini juga dilarang.

Kemudian, perubahan perilaku masyarakat yang ketiga yaitu dalam hal mengonsumsi konten bervariasi pada waktu yang berbeda. Video Analytic and Creation Engine (Video ACE) milik ADA menunjukkan adanya perubahan konsumsi konten dalam bentuk video pada bulan Ramadan, Lebaran, dan beberapa hari setelah Lebaran.

Saat Ramadan, masyarakat Indonesia kerap mengonsumsi konten yang menyajikan resep kue kering, sedangkan ketika Lebaran cenderung mengonsumsi konten mengenai kebersamaan keluarga. Sementara menjelang Lebaran, konten yang dikonsumsi kebanyakan soal arus mudik.

Data NielsenIQ

NielsenIQ

Berdasarkan data NielsenIQ, tahun lalu ada peningkatan pengeluaran masyarakat sebesar 14% pada periode Ramadan, dibanding pada Q1 2020.

Namun, dengan adanya pandemi COVID-19, pengeluaran masyakarat pada Ramadan 2020 jauh lebih rendah dibandingkan Ramadan tahun-tahun sebelumnya.

NielsenIQ

NielsenIQ juga mencatat, ada kenaikan pembelian produk makanan/minuman sebesar 3,9% pada saat periode ramadan 2020 dibandingkan dengan rata-rata bulan biasa.

Tapi, terjadi penurunan pada 2020 karena di tahun-tahun sebelumnya, peningkatan bisa mencapai 28% pada saat periode ramadan vs periode regular.

NielsenIQ

Untuk kategori makanan dan minuman, kenaikan signifikan pada saat periode ramadan 2020 terlihat pada kategori biskuit, sirup, susu kental manis, soft drink (minuman bersoda), dan keju.

Minuman-minuman seperti air mineral, RTD tea, RTD coffee yang biasanya mengalami kenaikan pada saat periode ramadan, tidak terlihat kenaikan untuk tahun ini, kecuali untuk minuman isotonic.

3 dari 7 halaman

Israf dan Mubazir

MUI Beri Fatwa Syariah Pada Proses dan Layanan Jasa KSEI
Perbesar
Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas. (Liputan6.com/Johan Tallo)

Fenomena perilaku konsumtif sebagian muslim di Indonesia ketika Ramadan turut menjadi perhatian Waketum Majelis Ulama Indonesia (MUI), Anwar Abbas. Menurut Anwar, idealnya bulan Ramadan bisa dijadikan momentum untuk berhemat.

Tapi, Anwar berpendapat, konsumtifnya masyarakat di bulan Ramadan dikarenakan adanya penyatuan budaya dengan ritual keagamaan.

"Pengeluaran malah meningkat di bulan Ramadan, agak paradoks ya. Kan namanya Imsak. Imsak kan menahan diri. Menahan diri dari segala yang dilarang oleh Allah SWT. Salah satunya itu ya sikap mubazir. Israf atau berlebih-lebihan. Jadi, oleh karena itu umat Islam dilarang di bulan puasa ini untuk bersikap mubazir dan berlebih-lebihan, terutama dalam mengonsumsi. Oleh karena itu, ya puasa itu yang namanya imsak itu belum tegak nampaknya," ujar Anwar ketika dihubungi Liputan6.com.

Anwar pun mengimbau masyarakat tidak melakukan konsumsi yang berlebihan. "Yang dilarang agama itu kan yang berlebihan. Makan enak tidak dilarang asal jangan berlebihan dan jangan sampai bersikap israf atau yang melebihi kepantasan dan kepatuta," ujarnya.

Pria berusia 66 tahun ini juga mengingatkan umat Muslim untuk tidak menuruti hawa nafsu, yang berdampak terhadap pengeluaran uang yang membengkak. Selain itu, Anwar juga berharap sifat konsumtif berlebihan tidak membudaya di masyarakat.

"Jadi puasa kita, puasa literer. Puasa fikiyah. Fikiyah itu kan artinya menahan, tetapi makannya tidak terjaga dan tidak terpelihara. Minumnya juga tidak terjaga dan tidak terpelihara, dan tidak tertahan, sehingga puasa menjadi bulan melampiaskan. Waktu berbukanya juga sebagai ajang untuk melampiaskan kelaparan yang ditanggung satu hari. Ini masalah kita," imbuh pria asal Sumatera Barat ini.

Saat berbuka puasa, Anwar mengingatkan masyarakat untuk mengambil contoh bagaimana Nabi Muhammad SAW menjadi teladan. Dia berbagi ilmu Rasulullah tentang adab makan yakni sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga udara.

"Kalau kita lihat ini banyak orang yang makan, perutnya penuh oleh makanan. Jadi makannya menjadi tidak sehat. Padahal, Shumu Tashihhu; 'berpuasalah kamu maka kamu akan sehat'. Jadi berpuasa yang sehat itu menurut saya adalah berpuasa yang ketika dia berbuka, dia mengikut sunah Rasulullah. Ketentuan-ketentuan agama. Jangan makan melebihi kapasitas perutnya, sehingga setelah makan tidak sanggup lagi dia berdiri karena kekenyangan," ungkapnya.

Anwar juga menyadari, dari perspektif ekonomi, muncul permintaa yang meningkat di bulan Ramadan. Adanya peningkatan permintaan tidak lagi juga karena pendapatan yang meningkat, salah satunya dengan adanya Tunjangan Hari Raya (THR).

Mantan Bendahara Umum PP Muhammadiyah menyebut ada tiga faktor yang menentukan perilaku konsumsi individu. Menurutnya, hal ini juga memengaruhi adanya peningkatan pengeluaran masyarakat di bulan Ramadan.

"Perilaku konsumsi orang itu ditentukan oleh pendapatannya hari ini atau pendapatannya masa lalu, atau pendapatannya yang akan datang. Misalnya begini, ada seorang pejabat dia sudah berhenti sebulan yang lalu, itu perilaku konsumsinya masih seperti sebulan yang lalu, seperti ketika masih menjabat. Karena tidak mudah bagi dia untuk berperilaku dengan perilaku yang baru sesuai pendapatannya," kata Anwar.

"Yang kedua, perilaku konsumsi sesuai pendapatannya hari ini. Misalnya hari ini dapatnya Rp10 ribu ya sesuai konsumsinya RP10 ribu. Atau pendapatan yang akan datang, misalnya begini, tanggal 19 nanti dapat THR ya dengan berbagai cara mereka barangkali pinjam (uang) nanti diganti dengan THR, atau tabungan mereka dikuras dengan belanja kemudian mengandalkan THR untuk menggantinya," tuturnya.

4 dari 7 halaman

Konsumtif Perilaku Emosional

Amalan Sunnah di Hari Arafah
Perbesar
Credit: pexels.com/pixabay

Sementara itu, psikolog Oktina Burlianti mengatakan, dalam ilmu psikologi, ada teori motivating aim, dimana terdapat motivasi pain dan pleasure. Hal ini erat hubungannya perilaku konsumtif masyarakat di bulan Ramadan.

"Manusia itu cenderung lari dari rasa tidak nyaman. Terkait dengan bulan Ramadan, kita lapar dan badan merasa tidak nyaman, karena memang kita menahan hawa nafsu untuk makan dan minum seperti biasanya. Karena kita membatasi diri, maka kecenderungannya adalah mencari kesenangan lain, supaya rasa tidak nyaman tidak terlalu terasa," kata Oktina kepada Liputan6.com.

Ketika manusia menghadapi sesuatu yang tidak nyaman, kata Oktina, maka hanya ada dua respons yaitu fight (lawan) atau flight (lari).

"Secara umum, kalau kemudian responsnya lari, maka manusia akan lari dari rasa tidak nyaman, dan mencari kenyamanan lain (salah satunya lewat perilaku konsumtif). Jadi, manusia mencari subtitusi supaya rasa nyaman tidak terasa."

"Lalu bagaimana caranya kita bisa menahan diri dari dorongan untuk lari dari rasa tidak nyaman di bulan puasa? Caranya adalah ikhlas, karena itulah hakikat puasa, ikhlas."

Ia menjelaskan, cara terbaik menerima rasa "Sakit" atau ikhlas adalah dengan aware, accept dan lets go.

"Aware adalah sadari bahwa puasa itu membuat tubuh kita tidak nyaman. Accept adalah terima rasa laparnya, hausnya, lemesnya, dan itu konsekuensi pilihan kita secara sadar. Kalau lets go, ya izinkan saja rasa tidak nyamannya, kan cuma beberapa saat saja."

"Intinya, secara psikologis, perilaku konsumtif adalah perilaku emosional untuk menghindarkan diri dari rasa tidak nyaman karena berpuasa. Cara mengatasinya adalah terima bahwa puasa itu memang menimbulkan rasa tidak nyaman dan tidak harus diganti. Toh, pada akhirnya terbiasa juga kok," ucap psikolog lulusan Universitas Indonesia tersebut.

5 dari 7 halaman

Tips Tidak Boros Selama Ramadan

Bacaan Niat Puasa Rajab Beserta Hukum dan Keutamaannya
Perbesar
Credit: pexels.com/Hint

Pakar pengelolaan keuangan, Safir Senduk, menilai, terjadinya keborosan ketika bulan Ramadan dan Lebaran seringkali terjadi, karena tidak sedikit orang yang menghabiskan uangnya untuk belanja barang elektronik dan baju. Harga baju dan barang elektronik sering didiskon saat Ramadan, sehingga membuat orang tergiur.

Padahal, Safir menyatakan, di bulan Ramadan, sembilan bahan pokok (sembako) atau kebutuhan makanan adalah yang paling penting untuk dibeli. Sebab, setiap Ramadan ada kecenderungan pasti terjadi inflasi pada sembako atau kebutuhan makanan lainnya.

"Orang sudah terlanjur menggunakan uangnya untuk membeli baju dan elektronik, karena lagi diskon, saat ingin beli makanan, uangnya sudah banyak berkurang, apalagi makanan harganya naik," terang Safir.

Biaya untuk kegiatan buka bersama atau membeli takjil harian juga cukup berperan membuat pengeluaran meningkat selama Ramadan. Tapi, Safir mengungkapkan, seringkali orang tidak berhitung untuk kegiatan buka bersama atau membeli takjil, karena itu dianggap sebagai kenbutuhan untuk rekreasi di bulan Ramadan.

"Di bulan Ramadan, berbuka puasa itulah yang jadi rekreasi sehingga orang cenderung pergi ke luar rumah menjelang buka puasa untuk dia berekreasi," paparnya.

Kondisi orang yang sedang lapar ketika tengah menjalani ibadah puasa Ramadan, menurut Safir, juga bisa membuat mereka lapar mata. Dia mengatakan, hal itu menjadi awal orang untuk beli berbagai macam takjil menjelang berbuka puasa, padahal biasanya yang sanggup masuk perut tidak banyak.

Safir memberi sejumlah tips dan masukan agar pengeluaran tidak membengkak selama Ramadan dan Lebaran. Yang pertama, dia menyarankan agar masyarakat memprioritaskan sembako supaya suplainya aman dan lancar sampai Lebaran. Yang kedua, dia meminta masyarakat menghindari hanya fokus membeli baju dan barang elektronik.

Kemudian yang ketiga, pria berusia 47 tahun ini meminta masyarakat menahan diri dan tidak serakah saat hendak berbuka puasa, walaupun dalam keadaan sangat lapar. Safir mengatakan, sikap serakah dalam belanja takjil membuat kita lebih boros, mengingat biasanya makanan tidak sanggup dilahap semua ketika berbuka puasa.

"Keempat, ketika kita makan, sahur misalnya, kunci dan fokusnya lebih ke bukan pada kuantitas karbohidrat yang Anda makan seperti nasi, tapi lebih kepada pastikan saat sahur itu empat sehat lima sempurnanya terpenuhi. Nabati ada, hewani ada, susunya ada. Kalau dia fokus kepada kelengkapan gizi, saya pikir uang yang keluar efektif," jelasnya.

"Pastikan juga, boleh Anda rekreasi dengan cara buka puasa di luar, tapi pastikan tidak setiap hari, karena akan boncos juga buat keuangan kita," ucap Safir.

6 dari 7 halaman

INFOGRAFIS

INFOGRAFIS: Kenaikan Harga Pangan Pada Ramadan 2021 (Liputan6.com / Abdillah)
Perbesar
INFOGRAFIS: Kenaikan Harga Pangan Pada Ramadan 2021 (Liputan6.com / Abdillah)
7 dari 7 halaman

Saksikan Video Berikut Ini

Lanjutkan Membaca ↓