AHY: Ruang Digital Disesaki Black Campaign untuk Membunuh Lawan Politik

Oleh Liputan6.com pada 18 Apr 2021, 02:10 WIB
Diperbarui 18 Apr 2021, 02:10 WIB
Agus Harimurti Yudhoyono
Perbesar
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menggelar konferensi pers di DPP Demokrat, Jakarta Pusat, Rabu (31/3/2021). AHY mengucapkan terima kasih kepada pemerintah atas keputusan menolak hasil KLB Demokrat di Deli Serdang yang didaftarkan kubu Moeldoko. (Liputan6.com/Faizal Fanani)

Liputan6.com, Jakarta - Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) menyoroti tantangan demokrasi Indonesia saat ini. Salah satunya fenomena 'Post Truth Politics' yaitu kebohongan yang terus diulang bisa dianggap sebagai kebenaran baru.

"Politics is all about perceptions. Adik-adik yang nanti masuk ke dalam dunia politik akan memahami bahwa di ruang publik, di ruang digital makin disesaki oleh hoax, fake news, character assasination, hate speech, dan black campaign untuk membunuh karakter lawan politik demi kekuasaan," ucap AHY pada webinar 'Membangun Integritas Generasi Penerus Bangsa: Menghadapi Dinamika Kehidupan Berpolitik', Sabtu (17/4/2021).

Dengan itu, AHY berharap generasi muda dapat memberikan kontribusinya untuk mencegah terjadinya hal ini. Caranya dengan memberikan pandangan dan saling mengedukasi satu sama lain.

"Kalau ini merajarela, apalagi terjadi sebuah gelombang tsunami disinformasi, maka lama kelamaan politik di Indonesia akan diwarnai kebohongan yang keji dan merusak satu sama lain. Mari kita cegah ini. Mari kita bangun politik yang beretika dan bermoral," ucap AHY.

2 dari 3 halaman

Politik Identitas

Selain itu, putra sulung Presiden keenam RI Susilo Bambang Yudhoyono ini menyoroti politik identitas dan polarisasi. Dia mengingatkan, kontestasi politik bisa memberikan dampak besar dalam memecah belah bangsa.

"Politik identitas selalu tidak baik bagi bangsa kita. Indonesia adalah negara yang majemuk, keberagaman merupakan sebuah kekuatan, bukan sesuatu yang membuat kita tercerai berai," ujar AHY.

 

Reporter: Muhammad Genantan

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓