Dinkes DKI: Tren Kasus Aktif Kembali Naik

Oleh Liputan6.com pada 16 Apr 2021, 16:17 WIB
Diperbarui 16 Apr 2021, 18:12 WIB
Sosialisasi Virus Corona di Stasiun Sudirman
Perbesar
Pengguna KRL mengenakan masker saat berada di Stasiun Sudirman, Jakarta, Selasa (4/2/2020). PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) melakukan sosialisasi tentang pencegahan penyebaran virus corona sambil membagikan masker secara gratis kepada penumpang. (merdeka.com/Imam Buhori)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta Widyastuti mengatakan ada tren kenaikan kasus aktif positif Covid-19 selama dua minggu terakhir. Kondisi ini diakuinya menjadi kekhawatiran, kasus akan terus naik.

"Harian kita sudah mulai peningkatan 200, 200, khawatir nanti bergerak terus," kata Widya dalam dialog virtual, Jumat (16/4/2021).

Widya menyampaikan, tren tertinggi kasus aktif Covid-19 di DKI terjadi pada Januari-Februari di angka 25.000 lebih pasien isolasi di rumah sakit atau tempat-tempat isolasi yang disediakan pemerintah. Memasuki Maret, tren kasus aktif mulai menurun drastis di angka 6.988 kasus.

Merujuk data tersebut, Widya mengingatkan agar penerapan protokol kesehatan tetap diterapkan secara ketat. Sebab, pengabaian upaya pencegahan penularan Covid-19 dapat berdampak kembali meningkatkan kasus.

Ia kemudian mengatakan, tingginya jumlah kasus aktif Covid-19 juga disebabkan dari kapasitas testing DKI. Per minggu, kata Widya, DKI melakukan tes dengan metode polymerase chain reaction (PCR) 68.000 lebih. Angka itu, melebihi standar dari WHO.

"Angka ini melebihi angka WHO tetapi 68.000 tadi memang menurun meskipun masih tinggi menurut standar WHO tetapi untuk standard DKI sendiri kita biasa pernah di posisi 90 ribu," ucap dia.

 

** #IngatPesanIbu

Pakai Masker, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jaga Jarak dan Hindari Kerumunan.

Selalu Jaga Kesehatan, Jangan Sampai Tertular dan Jaga Keluarga Kita.

2 dari 3 halaman

Kapasitas Laboratorium

Widya menyebutkan jumlah kapasitas laboratorium di DKI mampu menguji 100.000 lebih sampel. Hanya saja, kapasitas itu harus terbagi antara testing menggunakan metode PCR atau Antigen.

Untuk testing antigen, Widya mengatakan, DKI mampu menguji 3.000 lebih sampel.

"Kapasitas lab kita mampu 100.000 lebih per hari tetapi pemanfaatannya sekitar 68.000 kenapa karena ada kebijakan pemerintah pusat dengan melalui rapid antigen," tandasnya.

 

Reporter: Yunita Amalia

Sumber: Merdeka

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Lanjutkan Membaca ↓