5 Isu Ini Jadi Perhatian Jokowi dan Kanselir Jerman dalam Pertemuan Bilateral

Oleh Liputan6.com pada 14 Apr 2021, 14:51 WIB
Diperbarui 14 Apr 2021, 14:51 WIB
Presiden Jokowi dan Kanselir Angela Merkel
Perbesar
Presiden Jokowi dan Kanselir Angela Merkel melakukan Pertemuan Bilateral secara virtual. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Liputan6.com, Jakarta Presiden Joko Widodo atau Jokowi belum lama menggelar pertemuan bilateral dengan Kanselir Jerman Angela Merkel secara virtual di Istana Bogor, Selasa, 13 April kemarin.  

Pertemuan diplomatik dilakukan setelah Indonesia dipercaya menjadi mitra dalam pameran Hannover Messe 2021. Dalam memperkuat hubungan bilateral dua negara, kedua pemimpin ini saling mengapresiasi satu sama lain.

Angela menyampaikan bahwa pada tahun 2022 nanti, Indonesia akan menjadi ketua G-20 dan Jerman juga menjadi ketua G-7. Hal tersebut mendasari dalam mempererat hubungan antarkedua negara yang saling menguntungkan, salah satunya melalui investasi.

Presiden Jokowi menyampaikan bahwa investasi memegang peran penting dalam pemulihan ekonomi. Oleh karena itu, Indonesia mengeluarkan undang-undang cipta kerja guna mendukung berbagai kerjasama dalam bidang investasi.

Jokowi juga menawarkan kerja sama pengembangan sumber daya manusia (SDM) melalui sekolah vokasi. 

"Saya menawarkan kepada Jerman untuk mengembangkan kawasan industri khusus Jerman (German Industrial Quarter) di Kawasan Industri Terpadu Batang," ucap Presiden di Istana Bogor, Selasa 13 April kemarin.

Isu bilateral lainnya yang dibahas keduanya antara lain kerjasama di bidang kesehatan, kerjasama ekonomi dan perubahan iklim.

Berikut sederet hal saat Jokowi bertemu Kanselir Jerman Angela Merkel dihimpun Liputan6.com:

2 dari 7 halaman

1. Bicarakan Isu Myanmar

Presiden Jokowi
Perbesar
Presiden Jokowi. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

Isu Myanmar, salah satu isu yang dibahas Jokowi dan Angela Merkel saat bertemu secara virtual di Isana Bogor.

Jokowi menekankan bahwa sikap Indonesia sangat jelas dari sejak awal, yaitu meminta dihentikannya penggunaan kekerasan dan mendorong dilakukannya dialog.

"Dialog di antara mereka diharapkan dapat segera dilakukan, untuk mengembalikan demokrasi, stabilitas dan perdamaian di Myanmar," tutur Jokowi.

Indonesia telah mengusulkan dilakukannya KTT ASEAN guna membahas isu Myanmar dan saat ini persiapan KTT sedang terus dilakukan.

3 dari 7 halaman

2. Isu Nasionalisme Vaksin

jokowi
Perbesar
Presiden Joko Widodo atau Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan Kanselir Jerman Angela Merkel secara virtual di Istana Bogor, Selasa (13/4/2021). (Biro Pers Sekretariat Presiden)

Kedua pemimpin negara juga saling melakukan bertukar pikiran mengenai ketersediaan vaksin Covid-19. Jokowi dan Kanselir Merkel mengungkapkan kekhawatiran dengan masih terus terjadinya nasionalisme vaksin.

Mereka sepakat nasionalisme vaksin akan akan sangat menganggu ketersediaan vaksin dunia dan mengganggu kesetaraan akses vaksin bagi semua.

Presiden menyampaikan bahwa kasus positif di Indonesia sudah mulai membaik. Selain disebabkan oleh protokol kesehatan yang terus diterapkan, penurunan angka juga disebabkan karena kebijakan _micro lockdown_ sampai pada tingkat desa.

"Di bulan Januari, angka positif Indonesia sempat mencapai lebih dari 14 ribu dalam satu hari. Sementara dalam dua minggu ini, angka positif berkisar 4-5 ribu per hari," kata Presiden.

Jokowi turut menjelaskan mengenai program vaksinasi yang sudah mulai dilakukan di Indonesia.

Selain Sinovac, Indonesia saat ini juga memakai vaksin AstraZeneca. Dia menekankan pentingnya kedua negara membangun kerjasama kesehatan ke depan.

4 dari 7 halaman

3. Perubahan Iklim

Presiden Jokowi saat pembukaan Hannover Messe 2021 Digital Edition
Perbesar
Presiden Jokowi saat pembukaan Hannover Messe 2021 Digital Edition. (Dok. Kemenperin)

Mengenai perubahan iklim, kedua pemimpin juga memiliki komitmen yang sama bagi upaya pengurangan emisi sesuai dengan komitmen yang telah disampaikan masing-masing negara.

"Indonesia memiliki komitmen tinggi untuk melakukan pembangunan hijau," kata Jokowi. 

Salah satu contoh adalah upaya yang terus dikembangkan baik restorasi hutan mangrove, maupun upaya pembangunan energi secara berkelanjutan. Terkait dengan isu kawasan, kedua pemimpin melakukan tukar pikiran mengenai isu Myanmar.

Jokowi turut menyampaikan sikap Indonesia sangat jelas dari sejak awal, yaitu meminta dihentikannya penggunaan kekerasan dan mendorong dilakukannya dialog.

"Dialog diantara mereka diharapkan dapat segera dilakukan, untuk mengembalikan demokrasi, stabilitas dan perdamaian di Myanmar," tambahnya. 

5 dari 7 halaman

4. Isu Penanganan Covid-19

Presiden Jokowi
Perbesar
Presiden Jokowi dan Kanselir Angela Merkel melakukan Pertemuan Bilateral secara virtual. (Foto: Muchlis Jr - Biro Pers Sekretariat Presiden)

 Dalam pertemuan itu, Jokowi menyampaikan bahwa kasus positif Covid-19 di Indonesia sudah mulai membaik.

Hal ini dapat dilihat dengan menurunnya angka kasus positif Covid-19. Menurut dia, penurunan angka kasus positif harian ini disebabkan protokol kesehatan yang terus diterapkan dan kebijakan micro lockdown yang diterapkan sampai tingkat desa.

"Di bulan Januari, angka positif Indonesia sempat mencapai lebih dari 14 ribu dalam satu hari. Sementara dalam dua minggu ini, angka positif berkisar 4-5 ribu per hari," kata Jokowi dikutip dari siaran pers Sekretariat Presiden, Rabu (14/4/2021).

Presiden juga menjelaskan mengenai program vaksinasi yang sudah mulai dilakukan di Indonesia. Selain Sinovac, Indonesia saat ini juga memakai vaksin AstraZeneca.

Jokowi juga menekankan pentingnya kedua negara membangun kerjasama kesehatan ke depan.

6 dari 7 halaman

5. Menjajaki Pengembangan SDM

Di bidang investasi dan industri, Kanselir Merkel melihat potensi yang dimiliki oleh Indonesia untuk menjadi mitra penting Jerman. Jokowi menuturkan bahwa investasi memegang peran penting dalam pemulihan ekonomi.

"Indonesia baru saja mengeluarkan Undang-Undang Cipta Kerja yang akan dapat mendukung kerjasama di bidang investasi," jelas dia.

Jokowi pun menawarkan kerja sama pengembangan sumber daya manusia melalui sekolah vokasi dan peningkatan investasi industri Jerman untuk membangun basis produksi dan rantai pasok global Jerman di kawasan.

"Saya menawarkan kepada Jerman untuk mengembangkan kawasan industri khusus Jerman (German Industrial Quarter) di Kawasan Industri Terpadu Batang," ucapnya.

 

Syauyiid Alamsyah (Magang)

7 dari 7 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓