Kemenko PMK: Stunting Bukan Hanya dari Faktor Medis, Tapi Ekonomi hingga Sanitasi

Oleh Lizsa Egeham pada 14 Apr 2021, 10:52 WIB
Diperbarui 14 Apr 2021, 10:52 WIB
Mencegah Stunting dengan Pemeriksaan Rutin Kehamilan di Puskesmas
Perbesar
Seorang ibu hamil memberi minum anaknya saat menunggu antrean untuk pemeriksaan rutin di Puskesmas Kecamatan Jatinegara, Jakarta, Kamis (26/11/2020). (merdeka.com/Iqbal S. Nugroho)

Liputan6.com, Jakarta Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) mengatakan masalah stunting di Indonesia bukan hanya disebabkan karena faktor medis saja, tetapi juga bersifat non-medis. Misalnya, akibat ekonomi keluarga, kebersihan, dan sanitasi.

"Di bidang kesehatan itu sudah jelas aksesnya kemana-kemana saja, tapi masalah-masalah nonintervensi yang sensitif di mana mereka bisa memperoleh kehidupan yang layak itu yang sebetulnya sangat penting," kata Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan dan Pembangunan Kependudukan Kemenko PMK Agus Suprapto dikutip dari siaran pers, Rabu (14/4/2021).

Menurut dia, pemuda memiliki peranan sangat penting dalam upaya menangani permasalahan stunting, terutama diakibatkan urusan nonmedis. Bukan sekadar untuk sosialisasi, melainkan internalisisasi terhadap pemuda itu sendiri.

Adapun internalisasi yang dimaksud, yakni, bagaimana pemuda mampu memahami dan menerapkan konsep pentingnya mencegah generasi masa depan Indonesia yang terlahir stunting.

"Yang kita harapkan pemuda bukan hanya melakukan sosialisasi advokasi, tapi bagaimana mereka bisa menginternalisasi. Karena sebetulnya pemuda inilah yang menjadi sasaran utama kita sekarang sampai nanti," jelasnya.

2 dari 3 halaman

Targetkan Angka Stunting Turun

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo atau menargetkan angka stunting di Indonesia turun di angka 14 persen di 2024. Meski disadiri sulit, dia meyakini target tersebut dapat tercapai apabila manajemen di lapangan dikelola dengan baik.

Hal ini disampaikan Jokowi saat memberikan sambutan secara virtual dalam acara Peresmian Pembukaan Rapat Koordinasi Nasional Kemitraan Program Bangga Kencana dari Istana Negara Jakarta, Kamis 28 Januari 2021.

"Jadi target 14 persen di 2024 bukan target enteng tapi kalau kerja serius, lapangan dikuasai, bekerja sama, berkolaborasi. Saya kira penuranan stunting bisa dilakukan secara signifikan," ujar Jokowi sebagaimana ditayangkan di Youtube Sekretariat Presiden.

Jokowi pun menunjuk Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menjadi Ketua Pelaksana Penanganan Penurunan Stunting. Menurut dia, persoalan tingginya angka stunting di Indonesia harus mendapat perhatian serius.

Jokowi mengatakan bahwa lima tahun lalu, stunting di Indonesia berada di angka 37 persen dan turun menjadi 27,6 persen pada 2019. Namun, angka stunting diperkirakan akan kembali naik pada 2020 karema pandemi Covid-19.

Oleh sebab itu, dia meminta kementerian/lembaga saling bekerja sama dan serius untuk menurunkan angka stunting menjadi 14 persen di 2024. Dia menyampaikan Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan akan mengkoordinasikan kegiatan yang berkaitan dengan pencegahan stunting.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓