Jurus Doni Monardo Cegah Penularan Covid-19 di NTT di Tengah Bencana

Oleh Yopi Makdori pada 06 Apr 2021, 23:54 WIB
Diperbarui 06 Apr 2021, 23:54 WIB
Doni Monardo
Perbesar
Ketua Satgas Doni Monardo minta pemangku kebijakan, khususnya Jawa Barat aktifkan kembali posko COVID-19 di seluruh kabupaten/kota di Markas Komando Daerah Militer III/Siliwangi, Bandung, Senin (28/12/2020). (Badan Nasional Penanggulangan Bencana/BNPB)

Liputan6.com, Jakarta - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo menaruh perhatian terhadap kasus penularan Covid-19 di Nusa Tenggara Timur (NTT). NTT sendiri merupakan wilayah yang saat ini tengah dirundung banjir bandang.

Menurut Doni selama tiga bulan terakhir NTT memang tengah mengalami tren kenaikan jumlah kasus aktif Covid-19.

"NTT mengalami kenaikan yang sangat signifikan setelah liburan Natal dan Tahun Baru. Padahal sejak kasus pertama di Jakarta pada Maret sampai November 2020 itu NTT nyaris provinsi dengan kasus yang sangat rendah sekali," ucap Doni dalam keterangan pers secara daring pada Selasa, (6/4/2021).

Bahkan saat itu, kata Doni pihaknya menganggap NTT sukses untuk mengendalikan penyebaran Covid-19. Namun hal itu hanya dipertahankan sampai akhir tahun 2020.

"Setelah kita pelajari kasus-kasus ini daerah yang sekarang mengalami bencana pun memiliki risiko tinggi untuk meningkatnya kasus Covid-19 di daerah," ujar dia.

Doni menggunakan strategi memutus mata rantai penularan dengan memisahkan antaramereka yang rentan dan masih sehat.

"Memutuskan mata rantai penularan antarakelompok rentan, apakah itu orang tua yang punya penyakit penyerta atau komorbid, anak-anak balita dan ibu hamil dengan mereka yang secara fisik muda. Nah ini yang kita jaga harus kita pisahkan, mereka tidak boleh berada di satu kawasan pengungsian," ujar dia.

Doni membeberkan jurus lain untuk meminimalisir penyebaran Covid-19 di lokasi bencana, yakni dengan mempercepat memberikan bantuan kepada seluruh keluarga.

"Agar mereka bisa menyewa rumah ke rumah saudaranya, menumpang supaya tempat-tempat pengungsian ini kita optimalkan sedikit mungkin," urainya.

Bagi warga yang menghuni pengungsian, menurut Doni pihaknya juga telah membuat standar operasional prosedur (SOP) bagi pengungsi selama di sana. SOP itu salah satunya pemeriksaan tes usap antigen.

 

2 dari 3 halaman

Bantuan Kehunian Rp 500 Ribu

Sebelumnya Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo meminta masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang terdampak banjir bandang untuk mengungsi ke rumah sanak keluarga mereka. Hal ini demi meminimalisir penularan Covid-19 di tempat-tempat pengungsian.

Doni menyebut pemerintah akan membantu uang sewa sebesar Rp 500 ribu per bulan per keluarga untuk tinggal di rumah sanak keluarga mereka.

"Kita akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengurangi resiko Covid-19 dengan menggunakan dana kehunian untuk menyewa rumah keluarga terdekat sebesar Rp 500 ribu per bulan," kata Doni dalam konferensi pers virtual, Selasa (6/5/2021).

Hingga Selasa (6/4/2021) pukul 20.00 WIB tercatat sudah ada 117 jiwa dinyatakan meninggal dunia, 76 orang masih hilang.

Kemudian tercatat 2.019 kepala keluarga atau 8.424 warga mengungsi, serta 1.083 KK atau 2.683 warga lainnya terdampak.

akan mengirimkan sebanyak enam unit helikopter ke lokasi bencana. Pasalnya masih banyak daerah di sana yang belum bisa dijangkau transportasi darat maupun laut.

"Sehingga membutuhkan transportasi udara. Satu hari terakhir ini cuaca sudah semakin baik, dan kita harapkan besok sudah semakin cerah sehingga daerah yang terisolir akan bisa segera mendapatkan bantuan," harapnya.

Bantuan Logistik

Untuk bantuan logistik, kata Doni selama dua hari terakhir sudah didatangkan dari Jakarta dan Surabaya dan juga Makassar.

"Sebagian besar sudah terdistribusi ke beberapa daerah terdampak, terutama di Adonara, Lembata dan Alor," papar dia.

3 dari 3 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini:

Lanjutkan Membaca ↓